4 Bulan Lumpuh dan Suami Mulai Tak Peduli dengannya, Wanita ini Menangis Saat Tahu yang Sebenarnya Terjadi

Posted on

Suami ini selalu baik kepada wanitanya. Ia selalu menjaga dan tidak membiarkan wanitanya melakukan pekerjaan rumah, bahkan memasak, mencuci baju, mengepel, pria ini melakukannya lebih baik dan lebih cepat daripada istrinya itu. Istrinya mau apa, pasti dibelikan. Istrinya ini lembut dan menawan.

Kebahagiaan terpancar di wajahnya dan ia berpikir hari-hari bisa terus begini sampai ia tua. Wanita ini terus bergantung pada prianya. Tiba-tiba suatu insiden terjadi, semalaman ia berada di depan komputer utnuk bekerja. Ketika pagi hari ia bangun, ia merasa pusing dan semuanya menjadi gelap. Ketika ia terbangun lagi, ia sudah berada di rumah sakit, dengan suami yang menemaninya di samping kasur.

Ketika itu ia merasa ketidaknyamanan, bahkan merasa lebih menakutkan dibandingkan jatuh pingsan. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan! Ia pun bingung dan ketakutan. Kemudian ia mencoba menggerakkan kaki kanannya, ternyata juga mati rasa!

Ia diberitahu bahwa setengah organ tubuhnya tidak berfungsi. Pekerjaannya di kantor membuatnya kelelahan dan terjadi pendarahan di otak. Ia mengira hal ini karena ia sudah tua, tapi padahal orang yang berumur 70-80 tahun baru bisa mengalami hal ini, sedangkan ia baru berumur 39 tahun! Ia menjadi linglung dan termenung memikirkan kehidupannya kelak, tidak bisa bekerja, tidak bisa membawa putrinya jalan-jalan ke taman, tidak bisa lagi jalan bergandengan tangan dengan suami.

Hidup dengan berbaring di tempat tidur mau berapa lama? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Ia tidak berani memikirkannya, semua hal indah yang dulu ada di pikirannya, sekarang hilang begitu saja.

Suaminya terus memberi dukungan, pihak rumah sakit juga memberikan perawatan rehabilitasi. 40 hari berlalu, 2 bulan berlalu, akhirnya organ tubuhnya mulai bereaksi, kaki dan tangannya mulai bisa merasakan, bisa melakukan beberapa aktivitas sederhana. Tapi, belum ada perubahan yang drastis, dilakukan pemijatan apapun tetap saja tidak ada gunanya.

Ia tidak bisa memakai pakaian sendiri, ketika makan tidak bisa memegang sendok sendiri, dan ia juga tidak mampu ke toilet sendiri. Jika tidak ada yang membantunya, maka ia juga diam, tidak melakukan apa-apa. Ia pun mulai depresi dan pesimis bisa kembali hidup normal, karena merasa ini sudah batas penyembuhan yang paling akhir dan tidak akan ada kemajuan lagi.

Ketika itu juga, ia melihat perubahan pada suaminya. Dulu, ketika ia haus, suaminya itu akan mengambilkan sedotan dan membantu agar ia bisa minum. Ketika ia ingin makan, cuma lihat makanan yang ada, maka suaminya akan bertanya: “Mau apel? Sini aku kupasin”. Ketika ia ingin pergi ke toilet, suaminya itu akan menggendongnya.

Tapi sekarang, ketika suaminya menemaninya, suaminya itu lebih fokus dengan buku bacaannya sendiri, atau mengobrol dengan anggota keluarga yang lain, dan hanya melihat dirinya beberapa kali.

Yang parahnya lagi, sudah pukul 7 malam tapi suaminya belum datang untuk mengantarkan makan malam. Ia sudah sangat lapar sejak sore hari. Kemudian ia melihat ada kue dari teman kerjanya dulu, di sebelah tempat tidurnya.

Dengan usaha keras, ia ingin meraihnya, tapi tangannya itu masih kaku dan susah digerakkan. Ia tiba-tiba mulaiberpikir yang aneh-aneh: Apakah suaminya akan terus bersamanya?

Sudah 4 bulan begini, lelaki mana yang tahan? Hal apa yang bisa membuat suaminya mengingat dirinya, selain tubuhnya yang sudah tidak sempurna ini? Ia adalah lelaki yang mapan, memang ia mau menghabiskan waktunya bersama wanita yang lumpuh?

Tiba-tiba suaminya itu datang dengan membawa sekotak sup iga, wanita ini pun langsung menampar suaminya. Hal ini membuat sup yang dibawa menjadi tumpah kemana-mana. Suaminya tidak seperti biasanya yang bisa menenangkan dirinya, tapi malah mengerutkan kening dan berkata: “Kamu mau makan atau gak?!” Wanita ini pun tersentak kaget.

Setelah lewat beberapa saat, si wanita ingin pergi ke toilet, karena ia masih kesal dengan suaminya, jadi ia tidak memanggilnya untuk minta pertolongan. Ia pun menggunakan tangan kirinya untuk menyangga di tempat tidur, dan berusaha berjalan dengan kaki kirinya, tapi ia tidak berhasil.

Suaminya itu pura-pura tidak melihat dan masih sibuk menggunakan ponselnya. Wanita ini melihat suaminya begitu, membuatnya semakin murka, ia menggunakan segenap tenaganya untuk berjalan sambil terhuyung-huyung. Ketika itu, barulah sang suami menghampirinya dan memberikan tongkat.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan