5 Pelajaran Hidup dari Kisah Endang Irawan, Driver Gojek yang Hidupi 126 Santri

Posted on

Kebutuhan perut yang tidak bisa ditunda-tunda membuat seseorang terkadang harus melakukan segala macam cara. Berbagai pekerjaan dilakukan demi rupiah, termasuk salah satu contohnya adalah menjadi driver ojek online. Namun, jika para driver ojek biasanya mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarga, berbeda halnya dengan sosok Endang Irawan.

Pria yang kerap disapa dengan Bang Soplo ini tidak hanya bekerja sebagai driver Gojek demi keluarganya saja, tapi juga untuk menghidupi 126 santriwati yang ia asuh. Dan hebatnya, hal tersebut dilakukan dengan sukarela atas keinginan sendiri. Dari kesederhanaan dan kisah hidup Endang tersebut kita bisa belajar 5 hal berikut ini.

1. Potret kesederhanaan kyai zaman now yang patut dicontoh

Meskipun memiliki sebuah pondok pesantren di wilayah Bogor, tidak akan ada yang menyangka kalau Endang adalah pimpinan pesantren. Jika dilihat dari penampilannya yang sangat sederhana, tidak ada kesan bahwa ia adalah seorang kyai. “Saya sedang belajar ilmu agar tak dikenal orang.” Kata itulah yang terlontar dari mulutnya kendati tak pernah tampil dengan busana ala pemuka agama.

Berpenampilan biasa saja [Image source]

Mungkin hal ini sangat jarang sekali ditemukan di zaman sekarang. Disaat banyak para pemuka agama dan ustadz ingin dikenal melalui dakwahnya, Endang malah menutupi identitasnya dan menjadi driver ojek online. “Orang tidak ada yang menyangka saya ketua pembina pondok pesantren. Tapi kalau saudara-saudara ke sana, melihat santri cium tangan sama saya, baru percaya,” katanya.

2. Biayai anak yatim dengan uang hasil bekerja banting tulang

Sebelum menjadi driver Gojek, Endang pernah mencoba segala macam peruntungan . Ia pernah bekerja sebagai mekanik elektrik di luar pulau Jawa, namun hal tersebut menyulitkan untuk mengontrol para santrinya, karena hanya boleh pulang setelah 8 bulan. Selain itu, sebelum menjadi driver, Endang hanya berpenghasilan 800 ribu perbulan, semua digunakan untuk membeli keperluan para santriwatinya.

Banting tulang demi 126 santri [Image source]

Setelah beralih profesi, Endang merasa lebih luas dan nyaman. Selain bisa terus mengurus pondok pesantren, ia juga bisa membiayai anak yatim yang ingin belajar namun tidak mampu dari segi materi, membiayai penuh anak rekan sesama mitra gojek yang sudah meninggal dalam bertugas. Pesantren yang dulunya hanya dari bilik bambu pun sekarang perlahan dibangun dan menjadi lebih layak.

3. Rela berkorban hingga membelikan pembalut santriwati

Pondok pesantren Nurul Iman yang ia asuh sebenarnya sudah berdiri sejak 12 tahun lalu, namun baru bisa berkembang setelah ia pindah profesi menjadi driver Gojek. Pondok pesantren tersebut juga tidak strategis tempatnya, sehingga menuntut Endang untuk melakukan segala hal yang diperlukan oleh santriwatinya.

Membeli segala kebutuhan santri [Image source]

“Bahkan hingga pembalut dan obat-obatan juga saya yang beli. Karena kan pondok ini adanya di atas gunung, jadinya kasihan kalau mereka sakit atau apa harus turun gunung sendiri,” jelasnya. Mungkin hal ini tidak akan dilakukan oleh ustadz manapun juga, tapi Endang mengaku tidak keberatan dengan melakukan hal tersebut.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan