7 Kali Naik Haji, Saat Meninggal Jenazah Wanita Ini Tak Diterima Bumi, Ternyata Sering Begini

Posted on

Kematian adalah misteri dan ditentukan oleh Allah, Tuhan pencipta segala di langit dan bumi.

Tidak ada yang bisa memajukan baik semenit atau mundur walau semenit, kecuali atas izin Allah.

Begitu juga akhir kematian tergantung dengan amal perbuatan selagi masih hidup.

Seperti kisah nyata berikut ini.

Seorang wanita yang memiliki putra yang sangat menyanyanginya berakhir tragis akibat perbuatannya sendiri.

Berikut kisahya yang dilansir dari Kisah Islam Penuh Hikmah.

Pada suatu ketika, tersebutlah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan ibadah Haji.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu.

https://i2.wp.com/bersiap.com/blog/images/shalat-dhuha.jpg?w=1140

Sebagai Muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan.

Singkatnya ibu dan anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun.

Akhirnya merekapun tiba di tanah suci dan merekapun melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah dan untuk menunaikan ibadah Haji

“Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruan-Mu ya Allah” Hasan menggandeng ibunya dan berbisik,

“Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).”

Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu.

Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam.

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya.

Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya.

Wajah ibunya pun tampak kebingungan.

Ibunya tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan.

Beberapa kali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya.

Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Selama tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah.

Ia shalat memohon ampunan-Nya.

Hati Hasan begitu sedih.

Siapapun yang datang ke Baitullah, pasti akan mengharapkan rahmat-Nya.

Akan terasa hampa menjadi tamu Allah, jika tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubat yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak.

https://i0.wp.com/majalahnabawi.com/wp-content/uploads/2017/04/cara-menjamak-sholat-www.wjhg_.com-as.jpg?w=1140&ssl=1

Anak yang sholeh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan.

Tapi ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi.

Ibunya kembali dibutakan didekat Kabah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan simbol persatuan umat Islam itu.

Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci di tahun berikutnya untuk melaksanakan ibadah Haji lagi.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah.

Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak dimatanya hanyalah gelap dan gulita.

Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah, ibunya.

Kejadian itu pun berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah.

Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal.

Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT?

Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu?

Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya.

Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).

https://i1.wp.com/3.bp.blogspot.com/-i4Vlxbewh4g/Va9Crye6xhI/AAAAAAAADx8/8jJLhnEn_CI/s640/hikmah+sholat+tahajud.jpg?w=1140

Tanpa kesulitan berarti, Hasan akhirnya bisa bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang shaleh ini.

Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan mau menelponnya.

Anak yang berbakti ini pun pulang.

Setibanya ditanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut.

Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya.

Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.

Ulama itu kemudian meminta Sarah untuk berintrospeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya dimasa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah.

Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak.

Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya.

Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah.

Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.

“Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya

“Oh, bagus… Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu.

“Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana…” sambung Sarah,

“Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.

“Astagfirullah…” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan