7 Pekerjaan Ini Sering Diremehkan, Padahal Kita Tak Bisa Hidup Tanpa Mereka

Posted on

Sebagai warga Indonesia yang baik dan taat aturan, pastilah kita tahu betapa beragamnya pekerjaan di bumi pertiwi ini. Meski yang diagung-agungkan kebanyakan adalah PNS, pegawai bank, ataupun CEO di perusahaan ternama, kita tidak boleh melupakan profesi kecil yang sangat penting bagi hidup kita. Banyak dari pekerjaan-pekerjaan remeh yang dipandang sebelah mata.

Padahal, tanpa disadari, kita tak bisa hidup tanpa kehadiran mereka. Berdasarkan pengamatan, redaksi Boombastis.com pun berhasil mengumpulkan profesi-profesi remeh di Indonesia yang sering didiskreditkan oleh masyarakatnya. Simak ulasan berikut untuk tahu lebih lengkapnya.

Baca Juga
15 Status Resolusi Suka-suka ala Netizen Indonesia, dari Realistis Hingga Bikin Ngakak
Inilah 5 Fakta Makam Keramat di Purwokerto yang Tak Dipindah Meski Ganggu Lalu Lintas

1. Pembuat subtitle film, rela kerja siang malam tanpa dibayar

Berdasarkan pengamatan, di Indonesia, setiap orang bisa mengunduh satu hingga dua film sehari. Maraknya fenomena download film di kalangan masyarakat kita sekarang ini menyebabkan permintaan akan subtitle meroket. Hal tersebut dikarenakan kurangnya masyarakat Indonesia yang bisa berbagai bahasa.

Subber [image source]

Menanggapi fenomena tersebut, orang-orang seperti Lebah Ganteng atau Pein Akatsuki pun mulai bermunculan. Uniknya, mereka melakoni profesi subber atau pembuat subtitle ini sebagai hobi, sehingga tak dibayar pun tak masalah, seperti yang diwartakan tirto.id. Coba bayangkan, guys, gimana nasibmu ketika menonton Star Wars tanpa bantuan dari Lebah Ganteng atau Pein Akatsuki?

2. Penerjemah, paling sering dipandang sebelah mata

Meski profesi penerjemah kurang lebih sama dengan pembuat subtitle, namun rata-rata bahan terjemahan mereka berbeda. Jika subber bertugas menerjemah dialog dalam film, maka penerjemah lebih variatif lagi dokumennya, seperti skripsi, novel, maupun jurnal. Banyak mahasiswa dari jurusan Sastra Inggris yang mencari penghasilan sampingan dari profesi ini.

Penerjemah [image source]

Namun, namanya juga belum menjadi penerjemah, mereka pasti dipandang sebelah mata ketika memberikan tarif yang tinggi. Apalagi penerjemah profesional, pasti banyak yang berpikir “halah, bisa pakai google translate, saja.” Padahal perihal menerjemahkan tidak sesimpel itu, banyak konteks yang perlu disesuaikan dan mesin seperti google translate tak akan mengerti apa yang manusia bisa kerjakan.

3. Pelayan restoran, tak jarang dianggap bukan seperti manusia

Pernahkah kalian makan bersama teman-teman atau keluarga di sebuah restoran? Nah, setelah makan, apa kalian pernah merapikan meja, paling tidak meletakkan tisu bekas pakai ke atas piring yang tak dipakai? Pasti dalam hati kalian menjawab belum.

Pelayan Restoran [image source]

Hal tersebut dikarenakan sebagian besar dari kita pasti berpikir “ngapain dirapikan, kan nanti ada pelayannya,” tanpa kita sadari kita tidak memanusiakan manusia melalui hal tersebut. Meski pelayan memiliki gaji rendahan dan tergolong pekerja kasar, mereka juga manusia yang memiliki rasa jijik melihat cara makan kita yang berantakan.

4. Penyobek tiket bioskop, diperlakukan seperti mesin

Fenomena download film yang marak terjadi beberapa tahun terakhir memang membuat kita jarang pergi ke bioskop. Namun, bagi mereka yang masih setia pada gedung tempat pemutaran film di layar super besar itu pasti pernah bertanya-tanya, “apa sih sebenarnya kegunaan mbak-mbak yang merobek tiket nonton kita?” Mendukung pernyataan tersebut, seorang kaskuser pernah membagikan pengalamannya bekerja sebagai penyobek tiket di bioskop.

Penyobek Tiket XXI [image source]

Ternyata, pekerjaan penyobek tiket tak hanya semata-mata hanya menyobek, guys. Mereka juga menghitung jumlah orang yang masuk, sesuai tidak dengan penjualan tiket mereka, sehingga kadang kalian melihat mereka membawa alat seperti tasbih digital untuk menilik penonton dalam satu studio. Selain itu, meski gajinya cukup, mbak-mbak penyobek tiket bioskop ini harus rela ijazahnya ditahan untuk dapat bertahan mencari nafkah.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan