Home Bisnis 18 Tanda Tim Kerja Perusahaan Anda Menuju Kehancuran

18 Tanda Tim Kerja Perusahaan Anda Menuju Kehancuran

SHARE

Bagaimana mengetahui tim Anda berada di ambang keruntuhan dan memerlukan perubahan budaya perusahaan? Berikut sembilan tanda peringatan akan “arah perubahan yang salah”  yang saya sampaikan dalam buku Confidence—buku yang membandingkan budaya kemerosotan dengan budaya keberhasilan dalam sebuah perusahaan.

Lahiya, bagaimanapun jangan khawatir kalau Anda menemukan tanda-tanda buruk ini, karena kabar baiknya adalah bahwa semua itu dapat dibalikkan. Anda tetap dapat berputar arah. Mencermati kemungkinan adanya tanda-tanda bahaya berikut adalah langkah awal menuju pembiasaan budaya perusahaan yang lebih baik:

Komunikasi berkurang.

Benih kehancuran pertama kali ditabur ketika informasi berhenti mengalir. Orang menghindari percakapan dan menutup pintu mereka. Keputusan dibuat secara rahasia. Orang tak lagi memercayai pernyataan resmi, dan gosip serta rumor menggantikan fakta.

Sikap saling kritik dan menyalahkan kian meningkat

Orang-orang kian sering membela diri sementara menudingkan jari mereka terhadap orang lain. Kambing hitam dikorbankan. Ketakpercayaan diri disembunyikan di balik serangan pada pihak lain. Kekuatan eksternal disalahkan, tanggung jawab pribadi dihindari.

Sikap saling menghormati mulai berkurang

Kritik yang terus menerus membuat orang merasa dikelilingi sekelompok pecundang. Mereka merasa bahwa kinerja rendah sudah umum terjadi, dan ketakmampuan dapat ditoleransi. Semua orang sudah yakin melihat kinerja yang buruk dari orang lain dan mengatakannya secara terbuka.

Sikap menarik diri kian meningkat

Orang-orang mundur ke sudut mereka sendiri atau kelompok mereka, curiga terhadap orang lain dan tidak mau terlibat. Sikap ini makin mengisolasi mereka, mendorong orang lain untuk menarik diri juga.

loading...

Fokus bergeser ke dalam

Orang-orang menjadi egois dan melupakan konteks yang lebih luas—pelanggan, konstituen, pasar, atau dunia luar. Apa yang terjadi di dalam menjadi lebih penting daripada tujuan eksternal.

Keretakan melebar, ketakadilan tumbuh

Persaingan internal meningkat menjadi perang geng. Beberapa bintang menjadi elit istimewa, mengklaim perhatian, sumber daya, dan peluang secara tidak proporsional. Perbedaan dan jarak sosial antarkelompok dan tingkatan menyulitkan terciptanya kerja sama. Orang menimbun sumber daya untuk mereka gunakan sendiri. Semangat berinteraksi secara menyeluruh jauh berkurang, semakin besar godaan untuk  pilih-pilih atau mendapatkan segala hal untuk kelompok sendiri.

Aspirasi berkurang

Orang-orang berhenti percaya bahwa kemajuan dapat dicapai. Mereka bersedia menerima yang biasa-biasa saja. Mereka ingin meminimalkan risiko daripada meraih perbaikan. “Pesimisme Defensif”—sikap menurunkan harapan untuk menghindari rasa cemas akibat situasi berisiko—semakin  mewabah. Anda mungkin tidak melihat “absenteeism” tapi ada “presenteeism,” yaitu tubuh ada tapi pikiran tiada.

Inisiatif menurun

Karena sering didiskreditkan dan mengalami demoralisasi, orang seakan lumpuh karena rasa cemas. Percaya bahwa keadaan tidak akan pernah berubah, mereka menjadi pasif, sekadar menjalani rutinitas tetapi tidak bersedia mengambil inisiatif bahkan untuk hal-hal kecil, tidak mau mencari inovasi atau perubahan. Kebijakan dan proses yang ada dianggap tak terelakkan, dan ini mematikan ide-ide baru.

Sikap negatif menyebar

Dalam reaksi emosional yang berantai, bahan bakar negatif mendorong kemerosotan lebih lanjut. Budaya yang ada menyuburkan egoisme, keserakahan, ketidakpercayaan, sikap tidak hormat, pertempuran akar rumput, alasan yang berbual-bual dan bukan tindakan.

Pastinya jika melihat tanda-tanda di atas kita akan sangat mudah berkecil hati. Tapi kita juga dapat melakukan antisipasi atau terapi untuk semua itu: berputar arah untuk menciptakan budaya sukses. Banyak pemimpin yang peduli tentang hubungan positif seolah menggelar panggung untuk hasil yang positif pula. Dan inilah yang mereka lakukan untuk mengubah perilaku pemicu kemerosotan, menjadi kebiasaan yang mendorong kesuksesan:

Menjaga agar komunikasi tetap terbuka dan informasi lancar mengalir

Dukung secara luas pemecahan masalah dan dialog. Ungkapkan fakta secara terbuka dan jujur.

Tekankan tanggung jawab pribadi

Jangan bersedia mendengarkan serangan pada orang lain dan mintalah setiap orang untuk mengambil bagian tanggung jawabnya sendiri atas sebuah masalah.

Baca deh:

Jadilah teladan sikap menghargai kemampuan dan prestasi

Sering-seringlah berterima kasih di depan umum. Pujilah mereka yang memenuhi standar konerja tinggi, sambil membantu peningkatan mereka yang berkinerja buruk (atau memastikan mereka tidak mengganggu jika tak juga kunjung berprestasi).

Adakah percakapan seluruh kelompok

Libatkan seluruh tim secara lintas sektoral dalam pemecahan masalah.

Tekankan tujuan yang sama

Komunikasikan tujuan yang lebih besar ketimbang sekadar tujuan individu atau kelompok. Terus upayakan menyatukan tim Anda.

Berupayalah mengurangi ketidakadilan dan perbedaan status

Jadilah mentor dan bantulah orang lain. Berikan sumber daya tambahan untuk berbagai kelompok, dan perbanyak proyek bersama untuk memberikan kesempatan belajar dan pertumbuhan.

Tingkatkan aspirasi

Gunakan keberhasilan kecil untuk menunjukkan potensi keberhasilan yang lebih besar. Doronglah tim untuk mencapai target lebih namun tetap realistis, dan tawarkan bantuan pada mereka untuk meraihnya.

Hargai inisiatif

Sediakan waktu atau hadiah kecil untuk gagasan-gagasan baru. Buatlah kebiasaan melakukan brainstorming.

Memperkuat suara-suara positif yang mengatakan perubahan dapat dicapai

Abaikan suara-suara negatif. Para pemimpin perusahaan dapat membimbing timnya untuk lebih produktif, memberdayakan mereka membangun budaya pemenang. Bahkan ketika tanda-tanda kemerosotan mulai tampak,, masih sangat mungkin untuk mengubah budaya yang ada. Mengindahkan tanda-tanda peringatan yang muncul adalah langkah pertama yang tepat. (PN/mizanmag/HBR)

Baca juga:

 

 

SHARE

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan