SHARE
Loading...

Setelah aku menikah dengan suamiku, aku pun pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah ke kota bersama suamiku. Dulunya kami bekerja untuk orang, tapi karena memiliki tabungan yang cukup akhirnya kami membuka sebuah restoran. Badanku tidak begitu sehat, mau hamil pun sudah terlambat.

Aku dan suamiku memiliki seorang anak perempuan, kami menyayanginya sejak ia kecil. Anakku sejak kecil sudah sangat cerdas, ia tidak menjadi sombong walaupun kami sangat mencintainya.

Beberapa tahun ini, kami menyimpan banyak uang selain untuk putri kami tapi juga untuk kami sendiri. Ketika putri kami sudah masuk universitas, ia memiliki seorang pacar. Ketika mereka sudah berpacaran selama 1 tahun, putriku memperkenalkan pacarnya pada kami.

Pacarnya sangat baik, sopan dan kelihatannya sangat baik terhadap putriku. Walaupun keadaan ekonomi keluarganya tidak sebaik keadaan kami. Tapi aku dan suamiku merasa ia cocok menjadi menantu kami.

Sekarang mereka sudah lulus kuliah, dan pacarnya mendapat pekerjaan yang bagus. Putriku bilang ingin menikah, aku dan suamiku pun setuju. Aku dan suamiku berencana membelikan mereka rumah. Tidak tidak akan memberitahu mereka sekarang. Ini sebagai kejutan.

Suatu hari, anakku dan menantuku datang ke rumah untuk makan malam bersama. Aku dan suamiku berkata pada mereka bahwa kami bermaksud memberikan mereka uang 200 ribu yuan sebagai maskawin.

Tidak tahu apakah kami ada salah bicara atau tidak. Tapi, aku merasa menantuku kelihatan tidak senang, dan putriku juga tidak berbicara apa-apa. Setelah selesai makan, menantuku memanggil aku dan suami untuk menonton TV, dan membiarkan ia dan putriku yang membereskan meja makan.

Setelah menonton TV, suamiku menyuruhku untuk menceritakan pada mereka soal rumah. Saat aku hendak pergi ke dapur, hatiku rasanya bergetar. Putriku berkata pada pacarnya: “aku rasa, ayah ibuku masih menganggapku seperti anak kecil, uang aja masih harus mereka ambil sendiri. Setelah kita menikah, kita gak perlu sering-sering berkunjung ke rumah.”

Setelah mendengar kata-kata putriku, hatiku terasa gemetar. Putri yang selama ini kami cintai malah menganggap kami orangtua yang seperti itu.