AM Fatwa Dipenjara Orde Baru Karena Ceramahnya

Posted on

(function ($) {
var bsaProContainer = $(‘.bsaProContainer-29’);
var number_show_ads = “0”;
var number_hide_ads = “0”;
if ( number_show_ads > 0 ) {
setTimeout(function () { bsaProContainer.fadeIn(); }, number_show_ads * 1000);
}
if ( number_hide_ads > 0 ) {
setTimeout(function () { bsaProContainer.fadeOut(); }, number_hide_ads * 1000);
}
})(jQuery);

Lahiya ai??i?? Setelah melaksanakan salat Ied, sekitar dua ribu jamaah di lapangan parkir Pacuan Kuda Pulomas Jakarta mendengarkan khotbah selama kurang lebih satu setengah jam.

Tak seperti biasanya, terdengar juga ramai tepuk tangan. Ternyata, acara tradisional itu menggantikan rapat umum yang telah lama hilang.
what is flagyl taken for.

Haji A.M. Fatwa, 40 tahun, memang memberi khotbah tentang sesuatu yang berapi-api. Perawakannya kecil, lantang caranya berpidato, serta cukup menarik.

Namun pagi-pagi, isterinya sudah merasa bahwa khotbah suami sang suami terlalu keras. “Wah, bakal diambil kau nanti,” kata Ny. Nurdjanah Fatwa, 34 tahun, seperti dikutip dari Tempo.co.

Suaminya menjawab dengan murah senyum: “Ah.” Ai??Dan, rupanya firasat sang isteri menjadi kenyataan.

Minggu 26 Agustus 1979, seorang petugas Laksusda Jaya bertamu mengunjungi rumahnya di Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi.

Baca juga:Ai??Ketahuan Keluarkan ai???Burungnyaai??i?? di KRL, Pria Ini Diamuk Emak-Emak Satu Gerbong! Videonya Ramai

Sang petugas meminta teks khotbah yang berjudul Para Pemimpin Sadar dan Istighfarlah. Fatwa yang hatinya merasa tidak enak segera membenahi pakaiannya.

Wajar, sebab ia sembilan bulan lalu juga pernah ditahan. Kala itu dirinya sebagai Ketua Panitia peringatan 1 Muharam di Istora Senayan.

(function ($) {
var bsaProContainer = $(‘.bsaProContainer-7’);
var number_show_ads = “0”;
var number_hide_ads = “0”;
if ( number_show_ads > 0 ) {
setTimeout(function () { bsaProContainer.fadeIn(); }, number_show_ads * 1000);
}
if ( number_hide_ads > 0 ) {
setTimeout(function () { bsaProContainer.fadeOut(); }, number_hide_ads * 1000);
}
})(jQuery);

Dua hari setelahnya, Selasa, panggilan telepon masuk berkali-kali dari Laksusda Jaya, meminta supaya Fatwa pergi ke Lapangan Banteng Barat 34.

Fatwa jadinya juga bingung, kemudian ia menelepon sejumlah orang untuk meminta pertimbangan. Akhirnya Fatwa minta surat panggilan tertulis secara resmi.

Menurut Letkol Anas Malik,- Kepala Penerangan Laksusda Jaya,awalnya panggilan lewat telepon itu cuma bermaksud untuk mengajak omong-omong saja.

“Tapi karena ia minta formalitas, penyelesaiannya pun secara formil pula,” tutur Anas Malik.

Esok harinya, petugas pembawa surat panggilan rupanya datang. Dalam Kartu Lebaran Kepada isterinya, Fatwa menitipkan pesan untuk menjaga anak-anak.

Baca juga:Ai??Pernah Digrebek KPK Sampai Buang Duit ke WC, Wanita Ini Malah Jadi Menteri! Mahfud Komentar Begini

Memiliki empat orang anak, paling kecil berusia 1 tahun ai??i?? ia lahir saat ayahnya berada dalam tahanan dan ia pun tumbuh besar ketika ayahnya kembali ditahan.

Setelah Fatwa berangkat, dua jam kemudian isterinya menerima kartu Lebaran dari Kol. Eddie M. Nalapraya, Asisten Intelijen Laksusda Jaya yang menandatangani surat panggilan. Kamis sorenya, rumah Fatwa pun digeledah.

Sejumlah buku serta map diangkut. Namun menurut Ny. Nurdjanah, “itu hanya buku-buku agama dan musik saja.”

Fatwa yang sekaligus Sekretaris I (nonaktif) Majelis Ulama DKI, menginap sampai Jum’at 31 Agustus,ia pun diperiksa hingga dini hari.

Namun hingga akhir pekan lalu, katanya KH Abdullah Syafi’ie, ketua umum MUI DKI, masih belum jelas betul tentang penahanan atas Fatwa.

Ia bahkan belum sempat juga membaca seluruh teks khotbah itu. “Saya sibuk mengurusi pembangunan dan pendidikan dan sibuk menerima tamu,” ujarnya pada kepada Widi Yarmanto dari TEMPO.

Baca juga:Ai??10 Negara Ini Suguhkan Destinasi Wisata Seksual Paling ai???Wowai??i??, Nomor 4 Tak Terduga!

Fatwa sendiri pernah menjadi Ketua Lembaga Pembina MTQ DKI serta salah satu dari pengurus KODI (Koordinator Da’wah Islamiyah) DKI.

Dirinya tercatat juga pernah menjadi Kepala Sub Direktorat Pembinaan Masyarakat DKI dalam lingkungan Direktorat VII urusan Sosial Politik. Namun sekarang hanya sebagai salah seorang staf.

Banyak yang menilai bahwa khotbah AM Fatwa bersifat “keras”. Ia pun mengecam berbagai kebijaksanaan pemerintah serta keadaan saat ini.

Misalnya saja golongan kebatinan yang “dimenangkan secara tidak wajar dan dipaksakan,” arah sekularisme yang dituju pemerintah.

Juga keraguan tentang berhasilnya beragam penataran yang “menghabiskan puluhan miliar rupiah.”

Dilansir dari Tempo.co, artikel di atas dikutip dari Majalah TEMPO edisi 28, 9 September 1979.

A.M Fatwa mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit MMC Jakarta, Kamis 14 Desember 2017. Ketika itu usianya 78 tahun.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Fatwa adalah orang yang bersikap kritis terhadap keadaan Indonesia. Katanya, hal tersebut bahkan masih dilakukan AM Fatwa ketika di dalam penjara.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan