Amerika Serikat Dilanda Cuaca Dingin Ekstrim Sejak Desember, 18 Warganya Tewas

Posted on

Lahiya – Cuaca dingin ekstrim tengah melanda Amerika Serikat sejak pertengahan Desember 2017 lalu. Suhu ekstrim yang melanda Pantai Timur dan Barat Tengah Amerika Serikat juga dikabarkan menyebabkan tewasnya sejumlah orang.

Dinas Cuaca Nasional AS juga memperingatkan tentang hujan bersuhu beku yang akan turun di wilayah-wilayah tertentu.

Tak cuma itu, pemerintah setempat juga memperingatkan warga bahwa kulit yang tak tertutup dengan baik bisa membeku hanya dalam waktu beberapa menit saja.

Cuaca ekstrim ini juga membuat pemerintah meningkatkan upaya membawa para tunawisma ke tempat penampungan. Ratusan sekolah juga ditutup, begitu pula dengan layanan kereta yang terhenti karena badai salju yang terjadi pada Kamis (4/1/2018) dan Jumat (5/1/2018) di Pantai Timur AS.

Baca juga: Kocak! Ngaku Punya Rudal Sepanjang 43 cm, Begitu Dibuka Ternyata Ukuran Aslinya Cuma…

Cuaca dingin dan badai salju ini juga dianggap sebagai penyebab tewasnya 18 orang dalam beberapa hari terakhir. 7 diantara korban tewas terlibat kecelakaan lalu lintas di North Carolina dan Texas.

Selain itu, tempat liburan untuk bermain ski di Vermont yang biasanya ramai saat musim dingin terpaksa ditutup. Pengelola tempat ski Killington tersebut mengatakan bahwa suhu di daerah lereng tercatat minus 46 derajat Celcius.

“(Suhu) ini terlalu dingin untuk membiarkan orang-orang berada di luar,” tulis pengelola tersebut di situs resminya, seperti dilansir suara.com.

Salah seorang meteorologis yang bertugas di Obsevatory Gunung Washington, Mike Carmon, menjelaskan bagaimana rasanya berada pada suhu ekstrim yang bisa membuat tubuh mati rasa hanya dalam waktu singkat.

“Angin mencuri nafasmu dan membekukan bulu-bulu matamu. Kamu tidak bisa berkedip. Dingin menikam wajahmu dan membuat telingamu mati rasa hingga terasa seperti karet,” ujarnya, seperti dilansir liputan6.com.

Diketahui, Gunung Washington diperkirakan sebagai tempat terdingin di AS pada akhir pekan ini. Suhu di tempat tersebut mencapai minus 73 derajat Celcius. Padahal, Mike dan sejumlah rekannya harus keluar beberapa jam sekali untuk mengukur kecepatan angin dan suhu, serta melaporkannya.

Baca juga: Keterlaluan! Trump Bekukan Dana USD 125 Juta untuk Pengungsi Palestina

Mike mengatakan, untuk keluar ruangan mereka harus mengenakan lima lapis baju, masker ski, dan kacamata google. Namun, hal ini sama sekali tak membantu.

“Bahkan hanya dalam beberapa menit setelah berdiri di luar, jari kaki dan tangan, termasuk yang sudah dibungkus berlapis-lapis pakaian, mati rasa dengan cepat,” tuturnya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan