Anak dan Menantu Enggan Menginap di Rumahnya karena Jijik, Ia dan Suami Menangis Saat Tahu Kenyataan Lewat Cucunya

Posted on

Ada seorang wanita tua yang ikut salat berjemaah dengan saya di sebuah masjid. Selesai salat, ia pun pun bercerita tentang keluarganya saat saya sudah duduk di atas sepeda motor dan hendak pulang. Ketika saya bertanya tentang hari rayanya dan anak semata wayangnya, tiba-tiba raut wajahnya berubah drastis.

“Waktu itu anakku sampai di rumah pada pagi hari saat hari raya. Dia datang dengan anak dan istrinya. Dia bilang kalau dia cut untuk pulang kampung, jalanan sering sekali macet. Tak apalah, asal dia bisa pulang kampung,” ujar wanita itu.

“Tapi sorenya, dia malah bilang mau pergi ke rumah mertuanya yang ada di Kampung Tongplu, Pedu, dan mau tidur disana. Saat itu aku cuma diam saja sebelum melihat mereka pergi. Tapi saat akan naik mobil, anaknya sempat bertanya pada ibunya ‘Kita mau tidur di hotel semalam ya?’ Mendengar anaknya mengatakan hal itu, ayah dan ibunya malah diam saja. Tetapi aku sempat melihat ibunya menatap tajam ke arah anaknya,” ujar wanita tua ini sembari tertunduk dan menyeka air matanya menggunakan mukenah yang masih dipakainya.

Saya yang mendengarnya langsung mengerti kalau anak ibu ini sebenarnya sempat menginap di sebuah hotel sebelum paginya pergi ke rumah ibu ini. Tatapan tajam ibu dari cucunya itu adalah tanda kalau sebelum mereka pergi sore hari itu, mereka memang berbohong dan berniat untuk kembali ke hotel semula.

Mendengar ini saya faham, mereka sebenarnya sempat bermalam di hotel dan pagi itu baru pulang ke rumah orang tuanya. Apa yang dilakukan mereka tersebut rupanya secara tidak langsung membuat ibu ini sedih, terlebih karena rumah yang ditempatinya memang tak sebagus hotel.

https://t4fsir.files.wordpress.com/2012/10/images.jpg?resize=487%2C366

“Aku dan suamiku merasa sudah dihina. Suamiku adalah ayah yang sudah membesarkannya, menggendongnya dalam kain sarung saat dia tidur, dan selalu menepuk nyamuk saat malam hari, takut kalau dia digigit seranga itu. Aku ini ibunya, orang yang air susunya selalu dihisapnya saat masih kecil dan selalu kusuapi makannya sampai dia tumbuh besar. Kami bersusah payah banting tulang agar dia bisa sekolah. Saya tahu mereka jijik melihat dapur di rumah kami, jijik melihat kamar mandinya, dan jijik dengan kamar tidur yang panas dan cuma ditutupi kelambu. Tapi putraku tidak sadar kalau kondisi rumah kami adalah kondisi rumahnya dulu saat dia dibesarkan dari kecil. Anakku dan keluarganya sekarang justru memandang jijik rumah itu. Itu sebabnya mereka tak mau tidur di rumah kami, dan lebih memilih tidur di hotel. Rumah kami memang kecil, terlebih karena putraku anak tunggal. Kenapa dia tega sekali,” ujar ibu tua ini berlinang air mata mengingat sikap anak dan menantunya tersebut.

Wahai anak, bukan hanya perkataan yang keluar dari lidah saja yang bisa menyakiti hari orangtua, bukan hanya sifatmu saja yang akan menyakiti hati ayah dan ibumu, tapi apa yang kau sudah perbuat bisa jadi sudah mengoyak hati dan perasaan mereka.

Jika kau terbiasa dengan kemewahan di rumahmu sendiri, maka jangan berharap banyak bisa mendapat itu semua di rumah orangtuamu. Ayah dan ibu sudah membesarkan kita dengan susah payah, sesekali cobalah memahami kondisi mereka yang sekarang, yang mungkin tak seenak kondisimu.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan