Anda Tidak Bisa Membeli Suara Turki!

Posted on

Lahiya – Dalam proses pemungutan suara di Majelis Umum PBB, Kamis (21/12/2017), 128 negara pro-Palestina memberikan suara untuk membuat Resolusi PBB yang isinya meminta Woshington membatalkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Amerika Serikat (AS) pun mengancam bakal memotong bantuan keuangan ke negara-negara pendukung Palestina tersebut.

Seperti diwartakan jpnn.com, Presiden Turki Recep Tayip Erdogan menjawab ancaman terseut dalam sebuah pidatonya di Ankara. Ia dengan tegas mengatakan, “Tuan Trump, Anda tidak bisa membeli suara Turki dengan dolar Anda.”

Selain itu, Erdogan pun berharap supaya AS tidak memperoleh hasil sebagaimana yang mereka harapkan. “Dunia memberikan pelajaran yang sangat bagus untuk AS,” katanya.

Ancaman Amerika itu sendiri disampaikan oleh Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, di Majelis Umum PBB pada Kamis (21/12/2017). Ia menyebut, “Amerika Serikat akan mengingat hari ini. Kami diserang di Majelis Umum PBB karena tindakkan kami menjalankan hak kami sebagai sebuah negara yang berdaulat.”

“Padahal selama ini AS negara yang paling memberikan kontribusi terbesar di dunia kepada PBB,” imbuhnya.

Masih dilansir dari jpnn.com, dalam sebuah pidatonya di Kota Asdod, Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa PBB tak lebih dari rumah orang munafik menjelang pemungutan suara.

Baca Juga: Mengerikan! Dihukum Sang Ayah, Bocah 5 Tahun Ini Ditinggalkan di Hutan. Ini yang Terjadi Kemudian

“Israel benar-benar menolak pemungutan suara ini, bahkan sebelum persetujuan Resolusi PBB soal Yerusalem,” ujar Netanyahu.

Berdasarkan pemungutan suara yang dilakukan di Majelis Umum PBB malam itu, sebanyak 128 negara setuju Resolusi Yerusalem. Sembilan negara menolak dan 35 negara lainnya abstain.

Dilansir dari laman sindonews.com, sebelumnya, Palestina menyatakan bahwa apa yang dilakukan Trump merupakan sebuah bentuk pemerasan dan serangan langsung terhadap kedaulatan negara-negara anggota PBB.

“Kami berharap negara-negara dunia akan menghadapi ancaman AS,” kata juru bicara Fatah, Osama Al Qawasm.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan