Home Dunia Islam Apa itu Pembiayaan Sewa Berakhir Lanjut Milik? | Annisa Ida Ariyani tim...

Apa itu Pembiayaan Sewa Berakhir Lanjut Milik? | Annisa Ida Ariyani tim dari @ahmadifham

SHARE
Skema Leasing Syariah

Pembiayaan “Sewa Berakhir Lanjut Milik” adalah salah satu jenis akad pembiayaan di Bank Syariah yang merupakan kombinasi antara sewa menyewa dengan pemindahan kepemilikan.

Skema akadnya adalah sewa menyewa barang berawal dengan janji pemindahan kepemilikan dari pemilik barang kepada penyewa setelah sewa menyewa selesai. Dan tentu ketika sewa menyewa telah berakhir maka berlanjut dengan skema pemindahan kepemilikan.

Dalam Bahasa Arab, akad ini disebut Ijarah Muntahiya Bit Tamlik alias IMBT. IMBT ada 2 jenis yakni IMBH (Ijarah Muntahiya Bil Hibah) alias Sewa Berakhir Lanjut Hibah dan IMBB (Ijarah Muntahiya Bil Bay’) alias Sewa Berakhir Lanjut Jual Beli.

Salah satu kunci akad ini adalah adanya JANJI atau Wa’ad di awal sebelum terjadi kesepakatan (akad/kontrak) sewa menyewa.

Dan perhatikan penggunaan istilahnya Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (Sewa Berakhir Lanjut Milik), bukan Ijarah Ma’al Bay’ yang berarti Sewa Beserta (Campur) Milik alias Sewa Milik.

Nah, pihak yg melakukan IMBT harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan, baik dengan jual beli atau pemberian, hanya hanya dilakukan setelah masa ijarah selesai.

Janji pemindahan kepemilikan yang di sepakati di awal akad ajarah adalah wa’ad, yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janji itu ingin dilaksanakan, maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah selesai.

Barang-barang yang dapat digunakan sebagai objek sewa, secara umum yaitu aset tetap seperti : properti, peralatan, alat transportasi, dan aset tetap lainnya. Jenis, ukuran, kualitas, dan kuantitas objek sewa harus dijelasin dan ditulis dalam akad.

Untuk IMBT pilihan akad IMBH, maka harga sewa adalah pembayaran sewa bulanan, bukan angsuran kepemilikan berakad pemberian (hibah). Sedangkan IMBT untuk pilihan akad IMBB, harga sewa dan termasuk harga beli setelah sewa selesai nanti telah ditetapkan pada saat penandatanganan akad sewa di awal perjanjian. Biaya sewa yang dibayar oleh penyewa merupakan biaya sewa lho (yang lazimnya memang dibayar bulanan), bukan termasuk angsuran kepemilikan untuk skema pembelian.

Jangka waktu menyewa dapat bervariasi antara jangka pendek, menengah, atau panjang, tergantung pada harga nominal objek sewa dan kemampuan si penyewa. Pada umumnya, IMBT diberikan dalam jangka panjang dan paling lama disesuaikan dengan nilai ekonomis objek sewa-nya.

loading...

Lazimnya sewa menyewa, sah kiranya jika ada review biaya sewa misalnya pertahun, per 2 tahun, atau setiap jangka waktu yang disepakati. Ini salah satu beda dengan skema kepemilikan rumah yang menggunakan akad Jual Beli Tegaskan Marjin (Murabahah). Dalam Murabahah tidak ada perubahan harga terlebih dalam arti penambahan harga. Namun memang biasanya angsuran IMBT lebih kecil dibandingkan dengan angsuran Murabahah.

Jadi masing-masing akad pembiayaan kepemilikan rumah ini akan ada skema dan risiko sesuai nama akad masing-masing.

Selanjutnya, biaya sewa harus dibayar oleh penyewa secara rutin sampai jatuh temponya. Kalau penyewa mengalami penundaan pembayaran, maka secara prinsip, permasalahan ini dapat diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat.

Di Bank Syariah, kalau terjadi penundaan pembayaran secara sengaja, maka kemungkinan akan dikenakan 2 hal, yakni (1) ta’widh (ganti rugi penagihan, seperti biaya telpon, transportasi dll), ganti rugi ini bisa diakui sebagai biaya operasional Bank Syariah, dan/atau dikenakan (2) ta’zir (denda sebagai efek jera atas keterlambatan), agar Nasabah disiplin dan lalu dana denda kategori ta’zir ini dimasukkan ke dalam pos dana kebajikan atau dana sosial, haram dan gak logis diakui sebagai pendapatan operasional bank syariah. Penyaluran dana kebajikan ini boleh untuk ORANG/JAMAAH YANG BERHAK misalnya untuk kaum dhuafa, untuk masjid, untuk sumbangan keagamaan, pembangunan infrastruktur dll yang baik.

Nah, bila dicermati, skema ini LATAH disebut dengan leasing Syariah, yakni kepemilikan barang berupa rumah atau kendaraan dengan akad awal sewa menyewa (leasing) berakhir dengan kepemilikan, meskipun boleh saja sebuah PERUSAHAAN LEASING menerapkan akad Jual Beli Tegaskan Marjin (skema Murabahah) untuk skema kepemilikan kendaraan.

Demikian semoga manfaat dan barakah muthlaq. Aamiin.

*Penulis adalah mahasiswa STEI SEBI

SHARE