Header Ad

Apa Itu Seni? Sebuah Perbedaan Definisi Keindahan

March 14, 2016
20 Views

“What is art? What makes it good or bad, and who decides?”
Katherine Watson, Mona Lisa Smile (2003)

“Gue juga bisa bikin lukisan kayak begitu,” kata kebanyakan orang ketika melihat sebuah lukisan yang cuma dicat biru, dipajang di galeri seni, dan dihargai ratusan juta. Kadang kita bertanya, bahkan saya sendiri pun bertanya, bagaimana orang bisa mengapresiasi karya Monochrome oleh Yves Klein, ketika dibandingkan dengan karya The Music Lesson oleh Johannes Vermeer.

Rasanya seperti membandingkan telur putih dengan telur Paskah yang telah dihias. Apa yang membuat satu lebih indah dari satu yang lainnya?

Sekitar 60.000 tahun yang lalu, seni, bagi manusia purba adalah suatu ungkapan akan kekagumannya pada alam. Kekaguman ini tidak semerta-merta karena alam itu indah, namun, “Karena alam itu ada,” (Hartoko, 1984, 21). Hasrat berkesenian oleh manusia purba, sekalipun hanya sebuah goresan garis juga merupakan suatu usaha leaving footprints in the sand of time. Misalnya dengan membuat proyeksi kaki manusia di sebuah batu, dll.

Selain itu, manusia juga memiliki kemampuan membayangkan akan apa yang mungkin terjadi di waktu mendatang, dan kemampuan mengantisipasi, serta bermimpi. Dengan kemampuan tersebut, timbul hasrat untuk mengkomunikasikannya dengan manusia lain.

Bentuk komunikasi ini awalnya sulit melalui ucapan karena belum ada standarisasi bahasa. Maka manusia purba pun mencoba alternatif lain melalui warna, gerakan, dan gambar. Dengan demikian seni tidak lagi menjadi persoalan akan alam dan seniman, tetapi juga melibatkan pihak penikmat.

“Dalam teori seni yang klasik terdapat tiga unsur: sang seniman, karyanya dan si penikmat. Kemudian si penikmat dipersilakan keluar dan tinggallah sang seniman dengan karyanya. Dan akhir-akhir ini sang seniman pun dipersilakan turun dari panggung, sehingga tinggallah karya seni itu sendiri.” (Hartoko, 1984, 40)

Seiring waktu berjalan, seni pun berkembang ke dalam berbagai bentuk seperti pahatan, tarian, musik, dll. sehingga seni tidak lagi memiliki 3 unsur, melainkan 4, yakni subjek pokok, seniman, penikmat, dan bentuknya sendiri. Dengan mengetahui unsur seni, maka kita dapat menilai seni dengan lebih jelas.

Baca juga: Pengertian Seni Kriya


Kritik Seni


apa itu seni

www.wncfilm.net

Terdapat empat cara pendekatan untuk mengkritisasi sebuah karya seni:

(1) Pendekatan mimetik

Karya seni dikaitkan dengan kenyataan yang ada atau subjek pokoknya. Misalnya membandingkan lukisan Mona Lisa dengan gadis yang dilukis dalam lukisan itu. Kalau mirip berarti lukisannya bagus.

(2) Pendekatan ekspresif

Karya seni dinilai berdasarkan sejauh mana karya itu mengungkapkan isi hati sang seniman. Misalnya memuji lagu Agnes Monica karena ia menyanyi lagu patah hati sampai menangis.

(3) Pendekatan pragmatis

Karya seni dinilai berdasarkan penikmatnya. Misalnya ketika penonton mengkritik sinetron Indonesia yang kurang mendidik masyarakat, sehingga karya itu kemudian dianggap jelek.

(4) Pendekatan semiotik

Karya seni dinilai berdasarkan bentuk karyanya, bagaimana karya itu ditafsirkan melalui tanda, lambang, dan apakah pesannya tersampaikan dengan baik. Misalnya memuji puisi Chairil Anwar karena penggunaan majasnya begitu menarik dan mengena dengan keadaan dunia saat itu.

Sampai di sini, demikianlah definisi seni: segala sesuatu yang memiliki nilai estetika berdasarkan keempat unsur tadi. Namun memasuki abad ke-20, muncul definisi baru.

Para seniman modern tidak lagi tertarik pada keindahan, keharmonisan, maupun kesedapan, melainkan pada sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Yang dalam kesenian tradisional, disinggung saja, disublimir, diabstrakkan, atau dilapisi cahaya keindahan; kini ditonjolkan secara blak-blakkan, kasar, dan serba
menantang.

Dengan munculnya dua definisi yang penuh kontra tersebut, seni menjadi sesuatu yang sangat subjektif. Kamu boleh menganggap film A jelek karena pesan moralnya kurang kuat, tapi temanmu juga boleh mengatakan film A bagus justru karena saking kurangnya pesan moral tersebut.

Kesimpulannya seni tidak harus indah, dan seni tidak memiliki bentuk konvensional. Apa yang kita anggap seni, boleh jadi ditentang oleh orang lain, dan hal tersebut sah-sah saja.

Yang penting, dalam menilai seni, kita mengerti dari perspektif mana kita menilai, sehingga apabila ingin diperdebatkan, kita memperdebatkan dari jendela yang sama.

Nggak lucu kan kalau temen kita membahas dari sudut pandang mimetik sementara kita ngotot dari sudut pandang pragmatis?

You may be interested

Tuhan Maha Adil, Begini Nasib Terkini Pasangan Tangerang yang Diarak karena Dituduh Mesum
Buzz
5 views
Buzz
5 views

Tuhan Maha Adil, Begini Nasib Terkini Pasangan Tangerang yang Diarak karena Dituduh Mesum

Lahiya - November 23, 2017

Masih ingatkah boombers sekalian soal kejadian keji yang menimpa pasangan di Tangerang beberapa waktu lalu? Ya, benar, mereka yang dituduh…

Menilik Penyakit Bipolar yang Sedang Viral, Banyak Muncul di Sekitarmu Tanpa Disadari
Buzz
4 views
Buzz
4 views

Menilik Penyakit Bipolar yang Sedang Viral, Banyak Muncul di Sekitarmu Tanpa Disadari

Lahiya - November 23, 2017

Terkadang banyak dari kita yang tidak sadar jika mengalami sebuah penyakit yang serius. Akhir-akhir ini penyakit bipolar atau bipolar disorder…

Mulai dari Banjir Hingga Hujan Salju, Inilah 4 Fenomena Aneh di Arab dan Timur Tengah
Buzz
4 views
Buzz
4 views

Mulai dari Banjir Hingga Hujan Salju, Inilah 4 Fenomena Aneh di Arab dan Timur Tengah

Lahiya - November 23, 2017

Beberapa waktu yang lalu, di Jazirah Arab mengalami banjir bandang. Tidak tanggung-tanggung ada beberapa korban jiwa yang melayang karena hal…

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan