Bercermin dari Kasus Ahok-Vero, Ini 7 Pertanda Pasangan Akan Cerai Menurut Sains

Posted on

Lahiya – Gugat cerai yang dilayangkan pihak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terhadap istrinya Veronica Tan terasa mengagetkan di mata masyarakat. Hingga kini menjadi viral, siapa sangka pasangan ini akan memilih perpisahan di tengah jalan. Netizen bahkan merespon dengan ungkapan “patah hati nasional” demi menggambarkan rasa terkejut dan kecewa mereka.  Pasalnya dimata khalayak, selama ini keduanya terlihat begitu kompak.

Seperti semua pasangan suami istri, mungkin keduanya tak pernah menyangka akan bercerai. Bisa dibilang, tak ada yang bisa dan bersedia meramalkan hal buruk ini terjadi menimpa mereka. Namun ternyata, para ilmuwan sosial terbukti cukup bagus dalam memprediksi pasangan yang berkemungkinkan akan bercerai.

Melansir laporan Sains.Kompas.com, Rabu (10/01/2018), para pasangan yang akan bercerai umumnya memiliki beberapa ciri tertentu. Pertanda tersebut tampak dalam bagaimana mereka bertengkar serta bagaimana mereka menggambarkan hubungannya.

Tak hanya itu, pasangan yang rentan terhadap perceraian juga biasanya dipengaruhi pada tingkat pendidikan dan status pekerjaan mereka. Simak 7 faktor yang bisa memprediksi perceraian pasangan sebagai berikut.

Baca juga: Aturan Minum 8 Gelas Tiap Hari Ternyata Salah! Cara Ini Lebih Dianjurkan

  1. Menikah di usia remaja atau setelah 32 tahun

Sebuah penelitian yang dipimpin Nicholas Wolfinger dari Utah University menunjukkan bahwa pasangan yang menikah di usia belasan, atau di atas usia 30 tahun, akan lebih berisiko untuk bercerai dibanding pasangan yang menikah di antara usia 20-30 tahun.

Risiko tertinggi perceraian dialami oleh pasangan yang menikah saat remaja. Sedangkan pasangan yang menikah setelah usia 32, peluang perceraian meningkat sekitar 5 persen setiap tahunnya.

“Bagi hampir semua orang, akhir 20-an tampaknya merupakan saat terbaik untuk mengikat janji suci pernikahan,” tulis Wolfinger dalam blog Institute for Family Studies dikutip dari Science Alert, Jumat (27/10/2017).

Riset lain yang diterbitkan dalam jurnal Economic Inquiry pada 2015 juga menemukan bahwa perceraian meningkat seiring perbedaan usia antara pasangan.

Laporan The Atlantic pada 2014 menyebutkan bahwa riset ini menemukan perbedaan usia satu tahun antara pasangan membuat mereka 3 persen lebih mungkin bercerai jika dibandingkan dengan pasangan yang berusia sama. Sedangkan perbedaan usia 5 tahun membuat mereka 18 persen lebih mungkin berpisah, dan perbedaan usia 10 tahun meningkatkan risiko perceraian 39 persen.

  1. Suami yang tak bekerja penuh waktu

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam American Sociological Review pada 2016 menunjukkan bahwa keuangan pasangan bukanlah hal yang mempengaruhi perceraian. Justru pembagian kerjalah yang menjadi salah satu pemicu perceraian.

Riset yang dipimpin oleh Alexandra Killewald ini menemukan bahwa pasangan yang suaminya tak punya pekerjaan penuh waktu berpeluang cerai sebesar 3,3 persen pada tahun berikutnya. Hal ini berbeda dengan pasangan yang suaminya bekerja penuh waktu. Mereka hanya berpeluang mengalami perceraian sebesar 2,5 persen.

Sedangkan, status pekerjaan sang istri tidak akan banyak mempengaruhi perceraian. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa stereotip pria sebagai pencari nafkah masih kental hingga kini sehingga dapat mempengaruhi stabilitas perkawinan.

  1. Tak lulus SMA

Mungkin terdengar tak adil jika dikatakan bahwa pasangan dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih rentan bercerai. Namun sayangnya, itulah yang ditemukan dalam sebuah penelitian.

Laporan yang dipublikasikan dalam situs Bureau of Labor Statistics pada 2013 mengungkapkan, kemungkinan sebuah pernikahan berujung perceraian lebih rendah untuk orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi. Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa pernikahan orang yang tak lulus SMA kerap berakhir dengan perceraian 30 persen lebih tinggi dibanding dengan lulusan universitas.

Hal ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa tingkat pendidikan yang rendah dikaitkan dengan pendapatan yang rendah pula. Dari hal tersebut, diprediksi kehidupan rumah tangga seseorang akan lebih menegangkan.

“Apa yang saya pikir sedang terjadi adalah benar-benar sulit untuk memiliki pernikahan yang produktif dan  bahagia saat keadaan hidup Anda sangat menegangkan, serta ketika kehidupan sehari-hari Anda melibatkan, katakanlah, tiga atau empat rute bus untuk ke tempat kerja,” tukas Eli Finkel, seorang psikolog dikutip dari Business Insider, Minggu (08/10/2017).

  1. Menunjukkan penghinaan pada pasangan

John Gottman, seorang psikolog di University of Washington mengatakan ada 4 perilaku yang dapat memprediksi perceraian dengan akurasi tinggi.

  1. Menghina, yakni melihat pasangan lebih rendah atau lebih buruk dari Anda.
  2. Kritik, yakni mengomentari karakter pasangan.
  3. Defensif, sering seolah menjadi korban saat keadaan sulit.
  4. Menghalangi atau memblokir pembicaraan.

Temuan ini didapatkan setelah Gottman melakukan penelitian selama 14 tahun terhadap 79 pasangan yang tinggal di Midwest, Amerika Serikat.

  1. Terlalu sayang saat menjadi pengantin baru

Rasanya bukan masalah jika pengantin baru menunjukkan kemesraannya. Namun jika ditinjau dari sisi lain, hal ini ternyata bisa memicu masalah besar.

Terbukti dari temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Interpersonal Relation and Group Processes pada 2001. Ted Huston, seorang psikolog yang telah mengikuti 168 pasangan selama 13 tahun (sejak hari pernikahan mereka) telah melakukan banyak wawancara dengan para pasangan selama penelitian berlangsung.

Dilansir dari laman Psychology Today (09/06/2016), pasangan yang pernikahannya dimulai dengan romantisme sangat mudah dicurigai untuk bercerai. Ini dikarenakan intensitas kemesraannya terlalu sulit dipertahankan.

Percaya atau tidak, pernikahan yang dimulai dengan lebih sedikit romantisme umumnya mempunyai masa depan yang lebih menjanjikan.

  1. Menarik diri saat terjadi konflik

Sebuah riset pada 2013 yang dipublikasikan dalam Journal of Marriage and Family menemukan bahwa perilaku “penarikan diri” suami memprediksi tingkat perceraian yang lebih tinggi. Kesimpulan ini didasarkan pada wawancara dengan sekitar 350 pasangan pengantin baru di Michigan, Amerika Serikat.

Sedangkan penelitian di tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Communication Monographs juga menunjukkan bahwa pasangan yang terlibat dalam pola “menarik diri”, yakni orang yang menekan pasangannya dan menerima jeda (diam) sebagai gantinya, biasanya kurang bahagia dalam hubungan mereka.

Paul Schrodt, penulis utama penelitian ini mengungkapkan bahwa ini merupakan pola yang sulit untuk dipecahkan karena masing-masing menganggap yang lain adalah penyebab masalah. Hal ini membutuhkan penglihatan bagaimana perilaku individu berkontribusi terhadap suatu masalah dan menggunakan strategi pengelolaan konflik yang berbeda untuk lebih saling menghargai.

  1. Menggambarkan hubungan dengan cara yang negatif

Pada 1992, Gottman dan koleganya mengembangkan prosedur “wawancara sejarah lisan”. Prosedur ini mengatur agar para peserta untuk meminta pasangannya membicarakan berbagai aspek dalam hubungan mereka.

Dengan menganalisis percakapan tersebut, para peneliti mampu memprediksi pasangan mana yang akan bercerai.

Baca juga: Gerindra Keberatan Dikaitkan dengan Persoalan Rumah Tangga Ahok-Veronica

Dalam laporan di Journal of Family Psychology pada tahun 2000, Gottman mengumpulkan 95 pasangan untuk melakukan prosedur tersebut. Hasilnya, nilai pasangan pada ukuran tertentu memprediksi kekuatan atau kelemahan dalam pernikahan mereka. Dan dengan demikian dapat diprediksikan pernikahan yang mana yang akan bertahan, serta mana yang akan berujung pada perceraian.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan