Biografi Chairil Anwar | Sastrawan Binatang Jalang


Biografi Chairil Anwar


Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

Kamu kenal puisi AKU di atas? Ya, dialah Chairil Anwar sang maestro puisi angkatan modern (’45). Bagi kamu yang ngefans dengannya, berikut diulas perjalanan hidup sang penyair yang mempunyai nama bermakna “cahaya-cahaya yang baik” tersebut.

Anak Tunggal Bupati

Chairil Anwar adalah anak tunggal yang dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota. Ibunya masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Namun orang tuanya bercerai saat ia berusia 19 tahun.

Mampu Menguasai 4 Bahasa

Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Walaupun begitu ia mampu menguasai 4 bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, dan Bahasa Jerman.

Mempunyai Karya Fenomenal pada Usia 20 Tahun

https://furqannn.files.wordpress.com/2012/08/dsc_1259.jpg

Chairil Anwar sangat menyukai sastra. Minat bacanya yang tinggi juga ditunjukkan dengan dilalapnya buku-buku karya pengarang luar ternama seperti: Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Pada usia 15 tahun Chairil sudah memantabkan tekadnya untuk menjadi seniman sastra. Ia banyak menulis puisi dan karya terjemahan. Karyanya pada majalah Nissan (1942) membuatnya terkenal, saat itu ia baru berusia 20 tahun.

Kehidupan Rumah Tangga

Chairil Anwar menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 agustus 1946 dan dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa. Sebelum menikah dengan Hapsah, Chairil pernah jatuh cinta pada Sri Ayati teman kerjanya saat menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta. Chairil Anwar jatuh cinta tetapi hingga akhir hayatnya ia tidak pernah mampu mengungkapkannya. Pernikahan Cahiril Anwar dengan Hapsah juga berakhir dengan perceraian (1948) karena masalah ekonomi.

Karya-karya Chairil Anwar

Karya puisi Chairil Anwar memiliki berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme. Puisinya yang paling terkenal yaitu AKU yang pertama kali dideklamasikn pada 1943. Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana.

Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” pada tahun 1946. Kumpulan karya puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986). Karya lainnya banyak berupa karya terjemahan.

Akhir Hidupnya

Chairil Anwar meninggal dalam usia yang sangat muda yaitu 27 tahun karena penyakit tipus. Ia juga menderita penyakit paru-paru dan pembusukan pada ususnya. Chairil Anwar memang jarang mandi dan penampilannya sering awut-awutan, bahkan ia akrab dengan dunia malam. Walaupun begitu di nafasnya yang terakhir Chairil Anwar sempat bergumam “Tuhanku…Tuhanku…”.

loading...

Begitulah perjalanan seorang Chairil Anwar yang tidak terlalu lama. Bagaimanapun karya-karyanya telah mampu mewujudkan jeritan puisinya “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Hingga kini sang pujangga dan karyanya masih mewarnai dunia sastra Indonesia dan luar negeri.

1

No Responses

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan