biografi-ibu-kartini

Biografi Ibu R. A. Kartini | Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia

Posted on

Bagaimanapun, Kartini merupakan keturunan Alim ulama dari pihak ibu serta garis keturunan Soeltan Hamengkuboewono VI dari pihak ayah. Daerah kelahirannya, Jepara, juga merupakan medan persemaian perkembangan Islam di kalangan para Bupati yang berpikiran maju sejalan dengan gerakan kaum muda pada masa itu.

Ini menunjukkan bahwa Kartini yang bukan dari kalangan kedjawen, pada perjuangannya banyak dipengaruhi oleh ajaran Al-Qur’an. Termasuk tulisan-tulisan yang bertajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternist tot Licht)” yang memiliki arti harfiah “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” dan merupakan penggalan ayat Al Qur’an yang berbunyi “Minat dzulumaati ilannur”(Surat Al Baqoroh Ayat 257).

Sebelumnya, Kartini meminta guru mengajinya untuk menerjemahkan Al-Qur’an. Setelah membaca sebagian arti dari kitabnya, Kartini berdecak kagum serta menulis kesannya itu dan disampaikan pada teman korespondensinya, berisi:

Wat zijn wij toch stom, toch dom,om een heel leven lang een berg schaten naast ons to hebben et het niet te zien niet te weten. (Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami.)

Wij zochten niet bij demenchen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand.
(Kami tidak mencari pelipur hati pada manusia, kami hanya berpegang teguh pada tangan Allah.) (15 Agustus 1902)

Setelah menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903, Kartini didukung suaminya mendirikan sekolah di Rembang. Setahun setelah itu, Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904. Tak lama kemudian Kartini meninggal dunia tanggal 17 September 1904 di desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang saat usianya menginjak 25 tahun.

Meski demikian singkat masa hidupnya, namun hasil kerja kerasnya masih dapat dirasakan hingga kini. Untuk mengenangnya, maka Mr. J.H.Abendanon(Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan dan Agama) mengumpulkan surat-surat , membukukannya dan diterbitkan pada tahun 1911.

Meski mengalami proses edit dan memungkinkan mendapat sentuhan sudut pandang Barat, namun tidak ada salahnya membaca buku tersebut untuk mengambil nilai-nilai positif di dalamnya. Imbangi informasi dengan membaca buku sumber lain tentang R.A. Kartini agar kamu lebih mengenal sosok seorang putri pertiwi sejati yang tidak hanya bicara emansipasi tapi juga memiliki jati diri.

Meski besar, bergaul, dan berkarya dengan pena penuh pengetahuan literasi para penulis Belanda, ia tetap Kartini yang menyadari kondratnya sebagai seorang wanita dan senantiasa memaknai agama sebagai bekal hidupnya. Seorang tokoh wanita yang menginspirasi, kan?

 

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan