Home Dunia Islam Bolehkah Uang Dijadikan Alat Tukar? | @ahmadifham

Bolehkah Uang Dijadikan Alat Tukar? | @ahmadifham

SHARE

 

 

Hukum Uang Sebagai Alat Tukar

Mari kita cermati kaidah fikih yang tak seorang ahli fikih pun tertemu tidak setuju dengan hal ini: al ashlu fi al mu’aamalati al ibaahah hatta yadullu addaliil ‘alaa tahriimihaa | hukum asal dari (fikih) muamalah adalah BOLEH (dalam definisi mubah), sampai ada arahan dalil ke-HARAM-annya.

Bagamana hukum alat tukar berupa emas, perak, rupiah, dollar, dan lain lain. | Jelas boleh. Sampai ada dalil dalam Alquran, Hadits, Ijma’, Qiyas, sampai Ijtihad, Fatwa dll yang HARAM-kan uang. Apapun bentuk alat tukar itu.

Alat tukar jelas BOLEH ada bahkan kebolehannya bisa terjudge menjadi WAJIB ADA jika malah menimbulkan mashlahat yang tidak bisa dihindari dalam rangka menunaikan hal wajib. | Jika ketiadaan alat tukar sejenis emas perak atau rupiah dan sejenisnya ini malah membuat kita repot dan tidak bisa beribadah dengan tenang maka keberadaan alat tukar ini malah menjadi wajib.

Nah, kenapa alat tukar apapun itu seharusnya harus dibackup dengan Emas setara? | Ini hanya berdasarkan penelitian ilmiah saja dan berdasarkan pengalaman umat terdahulu. Bahwa alat tukar itu idealnya emas dan perak. Dan entah siapa yang bermula nyatakan emas punya nilai setara sepanjang zaman dan sepanjang peradaban, terbukti akan berdampak baik sebagaimana model Bretton Woods yang diinisiasi oleh USA yang jadi salah satu sarana untuk mengatasi krisis (termasuk krisis di USA) akibat perang dunia, sebelum akhirnya resmi dilanggar sendiri oleh USA di tahun 1971. Tentu demi Dollar jadi bos bagi mata uang dunia dan ternyata berdampak tidak baik bagi sistem ekonomi dunia setelahnya. Berdampak baik bagi negara tertentu, tidak baik bagi yang lain. Pareto Optimum.

Penelitian ilmiah juga membuktikan bahwa sebuah sistem moneter Gold Standard alias Emas Perak dan/atau Berbasis Emas Perak, ini menjadi SALAH SATU penyebab utama pertumbuhan ekonomi, penekan laju inflasi, dan jauh lebih tahan krisis. | Ini penelitian ilmiah.

Dan tentu bahkan tercantum dalam berbagai nash terkait adzdzahab wal fidhdhoh ini. Bahkan IBADAH sejenis Zakat misalnya Zakat Mal (harta) pun terlalu jelas terkait dengan keberadaan emas dan perak dan juga menggunakan tolok ukur emas dan perak untuk zakat harta selain peternakan dan pertanian yang juga jelas jadi tolok ukur nishob dalam ibadah ZAKAT. | Sisi Ibadah aja dikaiteratkan dengan emas dan perak, justru apalagi ini sisi Muamalah. Pasti terindikasi ada kemaslahatan terkait emas dan perak ini.

Nah PR kita bersama adalah mari yakin kepada nash dan bahkan ketika dicermati dalam kitab kitab fikih klasik maka Emas dan Perak akan sangat sangat populer dikaitkan dengan Ibadah maupun Muamalah.

Tugas kita sekarang kan mengembalikan peradaban Islam, dari sisi Aqidah, Akhlaq, Syariah dan termasuk di dalamnya peradaban sisi Ekonomi dan Keuangan Islam.

Bolehlah kita berkeyakinan kuat terhadap PERINTAH di sisi IBADAH. Namun untuk sisi Muamalah, kita harus punya keyakinan kuat terkait sisi LARANGAN. | Ketika kita bertindak dan menggunakan tools tertentu, selama tidak ada laranganya dan atau petunjuk keharamannya, jelas langkah itu boleh.

Uang, alat tukar apapun itu mau kertas atau kulit atau akik atau batu sekalipun menjadi terhukum BOLEH. Tentu yang harus bersama kita pastikan adalah apakah di dalam tukar menukar alat tukar dengan berbagai jenisnya ini ada RIBA atau TIDAK. | Jika dalam tukar menukar uang ini jika tidak ada transaksi Riba dan atau transaksi terlarang lainnya, maka tidak penting untuk dipersoalkan.

loading...

Energi lebih baik untuk fokus MENIADAKAN RIBA pada ALAT TUKAR yang APAPUN itu bentuknya, yang disepakati.

Dan kita pun mafhuum bahwa uang atau alat tukar ini adalah Produk Utama dari Bank yang skemanya berlabur Riba. Biang berbagai Riba ada pada Bank. | Maka serasa menjadi genting untuk mensyariahkan Bank. Tentu dengan sebuah tahapan, proses, tenaga, waktu, biaya, kesungguhan yang paralel bisa didukung ikhtiar dan bidang bidang lainnya. Dan jelas mengubahnya tidak bisa dengan membalikkan telapak tangan.

Ketika di berbagai tulisan saya sebut Revolusi Mental untuk idealkan Bank, bisa sih asal ada kejutan perubahan mental untuk berekonomi yang LOGIS. Namun, rasanya tetap saja belum terprediksi bahwa kejutan perubahan mental berekonomi logis ini terwujud segera. Rasanya tetap butuh hal yang saya tidak ingin, yakni revolusi politik jika memang pengen hasilnya cepet setahun tiga tahun terwujud. Dan Anda pasti tahu apa yang akan terjadi jika perlu revolusi bidang politik.

Pernah terbilang dalam nash bahwa antum a’lamu bi umuuri dun-yaakum.

waLlaahu a’lamu bishshowaab

SHARE