Buya Syafii Maarif Sebut Indonesia Perlu Belajar dari Tiongkok

Posted on

Lahiya – Tiongkok (China) selama ini dikenal sebagai salah satu negara di dunia yang terkenal menjinakkan uang. Hal ini terbukti dengan banyaknya perantau Tiongkok yang behasil menguasai dunia. Tak terkecuali yang berada di Indonesia, pengusaha Tiongkok kebanyakan berhasil menguasai ekonomi.

Dan melihat hal tersebut, masyarakat Indonesia seharusnya banyak belajar dari Tiongkok dalam menjinakkan uang. Hal tersebut diungkapkan oleh Syafii Maarif Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sewaktu peluncuran kerjasama Organisasi Indonesia Tionghoa (INTI) dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Westlake, Kabupaten Sleman, Rabu (3/1/2018).

“Terutama China (Tiongkok) perantau. Kekayaan itu tidak penting, kaya itu bahagia. Itu makin hebat, mereka berjuang keras dan ketemu anak-anak negeri yang malas-malas. Belajarlah sama mereka,” katanya, seperti yang diwartakan oleh Jawapos.com

Baca juga: Dibilang Palsu dan Pencitraan oleh Millen, ART Anang Bocorkan Rahasia Mencengangkan Ashanty Sebagai Ibu Tiri

Sementara itu dalam mempertahankan bangsa Indonesia, masyarakat pun diharapkan bisa terus belajar dari siapa saja. Termasuk juga Tiongkok yang menurutnya sangat luar biasa dalam mengendalikan perekonomian.

Sementara itu, Alissa Wahid yang masuk dalam jajaran Gusdurian menyebukan jika dalam peluncuran kerjasama itu ada beberapa program yang direncanakan. Seperti keunggulan pegusaha di Tiongkok agar bisa memfasilitasi pertumbuhan ekonomi bisnis.

Selanjutnya untuk akses pasar kepada entrepreneur. Selain itu ada pula program pendidikan berupa pemberian beasiswa terhadap santri, teruama dai kalangan tidak mampu. Misalnya pembelajaran dalam bahasa mandarin. Dengan begitu, mereka lebih siap mengadapi ekonomi bebas.

Baca juga: Sudirman Said Mengaku Tak Mampu Bayar Cicilan Rumah Saat jadi Menterinya Jokowi

“Jadi kita punya banyak tenaga terampil dalam menghadapi ekonomi bebas,” ucapnya.

Budi S Tanu Wibowo, Wakil Ketua Umum INTI, di dalam kesempatan itu menambahkan jika Indonesia merupakan negara yang besar namun sibuk bermusuhan dengan satu yang lainnya.

“Agar kita kembali sadar bahwa musuh kita bukan saudara kita, tapi kemiskinan, ketimpangan. Kedua adalah kebodohan dan ketiga ada penyakit. Jadi tiga hal itu termasuk poin-poin yang ingin dikurangi,” tutupnya.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan