Catat! Kominfo Hidupkan Mesin Penyaring Konten Negatif Mulai 3 Januari

Posted on

 

Lahiya – Uji coba mesin pengais (crawling) konten negatif atau disebut “Ais” telah selesai dilaksanakan oleh pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika. Mesin internet ini diharapkan dapat mereduksi penyebaran konten-konten berbau pornografi, judi, kekerasan, radikalisme, dan SARA, di internet wilayah Indonesia.

Seperti dilansir dari laporan Tekno.Kompas.com, Minggu (31/12/2017), Dirjen Aptika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengungkapkan, Ais mulai beroperasi 3 Januari 2018 mendatang. Ada tim khusus beranggotakan 58 orang yang akan in-charge selama 24 jam, dibagi dalam tiga shift.

“Mesin ini akan lebih efektif dan efisien dari segi waktu dan volume untuk menyaring konten negatif,” ujarnya pada Jumat (29/12/3017) lalu, di “War Room” Kominfo lantai 8, Medan Merdeka, Jakarta.

Cara Penyaringan

Satu kali crawling dengan memasukkan kata kunci tertentu dapat mengais jutaan konten dalam waktu 5 hingga 10 menit. Selanjutnya, dipilih puluhan ribu konten-konten prioritas yang dianggap paling membahayakan berdasarkan tingkat view dan potensi viral-nya.

Baca juga: Begini Kronologi Ditemukannya Bayi Perempuan dalam Tas Hitam di Sunter

Selanjutnya, konten-konten prioritas tersebut diverifikasi oleh tim verifikator. Tim inilah yang menganalisis apakah konten terkait bertentangan dengan aturan yang berlaku di Indonesia, atau masih dalam batas wajar.

Perlu dicatat, mesin hanya bisa mengais konten negatif yang tertera di ranah internet publik. Mesin tak bisa mengais konten percakapan personal dan akun media sosial yang disetel “private”.

Screen-Capture Sebagai Barbuk

Setelah tersaring, konten-konten itu dipindai alias screen-capture sebagai bukti. Untuk sementara mekanisme screen-capture masih manual, namun sedang diupayakan agar serba otomatis.

Dengan barang bukti screen-capture, konten-konten akan diserahkan ke tim eksekutor. Merekalah yang menentukan tindakan apa yang perlu diambil.

Apabila konten negatif berada dalam website, pemerintah sudah punya jalur komunikasi yang tersinkronisasi dengan para penyedia jasa internet alias internet service provider (ISP). Masing-masing ISP lantas akan melakukan pemblokiran.

“Beda-beda tiap ISP. Ada yang butuh 15 menit hingga 3 jam. Rata-rata di bawah tiga jam untuk take down,” Semuel menuturkan.

Termasuk Social Media

Jika konten negatif disebar oleh akun di media sosial, pemerintah akan berkoordinasi dengan penyelenggara media sosial yang bersangkutan. Saat ini sudah ada sembilan layanan yang bekerja sama dengan Kominfo, yakni Facebook, Instagram, WhatsApp, Twitter, BBM, Line, Telegram, Bigo, dan Google.

Sementara itu, jika konten negatif terpatri di portal berita yang terdaftar di Dewan Pers, pemerintah bakal mengikuti ketentuan UU Pers. Portal berita tak serta-merta diblokir, melainkan diberi hak jawab terlebih dahulu.

Ais tak cuma bisa dimanfaatkan oleh Kominfo, melainkan juga lembaga-lembaga negara lain. Misalnya saja BNN, BPOM, Kepolisian, dan pihak mana saja yang berkepentingan demi menjaga kesatuan negara.

“Misalnya untuk mendeteksi peredaran obat-obat terlarang, alat ini bisa dipakai BNN. Bisa juga Bawaslu pakai untuk urusan konten negatif yang berhubungan dengan Pilkada. Jadi yang menentukan take down atau tidak, bukan kami, tetapi lembaga masing-masing. Kalau Kominfo yang benar-benar urgent seperti pornografi,” Semuel menerangkan.

Diketahui, Ais ini merupakan mesin hasil lelang yang dibuka Kominfo pada Agustus lalu dan dimenangkan PT Industri Telekomunikasi (INTI). Harga penawaran yang diajukan PT INTI adalah Rp 198 miliar dengan harga terkoreksi Rp 194 miliar. Sedangkan proses pembayaran proyek menggunakan mekanisme “lump sum”.

Baca juga: Dipromosikan FPI Sebagai Pengganti Google, Geevv Beri Jawaban Mengejutkan

Tak hanya dengan menggunakan Ais, masyarakat juga dapat turut berpartisipasi dan memberikan kontribusi memberantas konten-konten negatif di internet melalui pelaporan di web Trust Positif Kominfo.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan