Gambar Via: lonelyplanet.com

Cerita dari Tanah Papua, Meraksamana

Posted on

Cerita dari Tanah Papua – Meraksamana merupakan seorang pemuda yang tinggal di pedalaman Papua. Ia memiliki saudara bernama Siraiman. Ke mana pun pergi, mereka senantiasa bersama serta senantiasa saling membantu. Suatu saat, Meraksamana memperistri seorang bidadari dari kahyangan. Tetapi, tidak berapa lama setelah mereka menikah, istrinya diculik oleh seorang raja yang tinggal di seberang laut bernama Raja Koranobini. Mampukah Meraksamana merebut kembali istrinya dari tangan Koranobini? Ikuti kisahnya dalam cerita Meraksamana berikut ini!

Meraksamana

Gambar Via: coralexpeditions.com

Dahulu, di sebuah kampung di pedalaman Papua, hiduplah dua pemuda yang bernama Meraksamana dan Siraiman. Sehari-hari mereka mencari kayu, berburu, dan mencari ikan di rawa maupun di sungai. Mereka, dan juga penduduk kampung lainnya melakoni pekerjaan tersebut karena memang daerah di sekitar mereka memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Suatu malam, Meraksamana terlihat sedang berbaring berbaring di lantai rumahnya yang beralaskan daun-daun kering. Badannya terasa lelah setelah seharian bekerja. Pemuda itu tidak kuat lagi menahan rasa kantuk hingga akhirnya terlelap. Selang beberapa saat kemudian, Meraksamana tiba-tiba terbangun dan mengusap matanya.

“Oh, aku baru saja bermimpi melihat puluhan bidadari sedang mandi di telaga,” gumamnya.

Meraksamana merasa mimpi itu seperti nyata. Karena penasaran, malam itu juga ia segera menuju ke telaga yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Di bawah temaram cahaya bulan, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju telaga. Alangkah terkejutnya ia saat tiba di tempat itu, ia melihat sepuluh bidadari dari kahyangan sedang mandi sambil bersenda-gurau di tengah-tengah telaga. Ia pun segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan mengawasi gerak-gerik para bidadari tersebut dari balik pohon.

“Ternyata, mimpiku benar-benar menjadi kenyataan,” kata Meraksamana, “Bidadari-bidadari itu sungguh cantik dan mempesona.”

Meraksamana terpesona melihat kecantikan para bidadari itu. Saat asyik mengintip, ia dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan tua yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya nenek itu.

“Hai, anak muda! Sedang apa kamu di sini?” tanya nenek itu.
“Sa… sa… saya sedang mengawasi bidadari-bidadari itu, Nek,” jawab Meraksamana dengan gugup.

Nenek itu tersenyum, lalu berpesan kepada Meraksamana.

“Jika ingin memperistri mereka, sebaiknya kamu ambil pakaian mereka yang diletakkan di atas batu besar sana!” ujar nenek itu sambil menunjuk ke tempat di mana pakaian para bidadari itu diletakkan,
“Mereka pasti tidak akan bisa terbang kembali ke negerinya.”
“Baik, Nek,” jawab Meraksamana.

Dengan mengendap-endap, pemuda itu mendekati batu besar yang terletak di tepi telaga. Setelah dekat, ia berhenti sejenak dan bersembunyi di balik semak-semak. Begitu para bidadari itu lengah, dengan cepat Meraksamana menyambar salah satu pakaian milik bidadari tersebut lalu segera kembali ke tempat persembunyiannya.

Ketika ia sampai di balik pohon besar itu, si Nenek sudah tidak ada. Meraksamana pun kemudian kembali mengawasi para bidadari tersebut. Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, para bidadari telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan pakaian masing-masing. Namun, salah seorang dari mereka tampak kebingungan mencari pakaiannya.

Gambar Via: pembelajaranmu.com

“Kak, apakah kalian melihat pakaianku?” tanya bidadari itu.
“Memang kamu letakkan di mana pakaianmu, Bungsu?” bidadari yang sulung balik bertanya.
“Tadi aku meletakkannya di dekat pakaian kalian,” jawab bidadari bungsu.

Rupanya, bidadari yang kehilangan pakaian itu adalah si Bungsu. Ia dan kakak-kakaknya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi belum juga ditemukan. Akhirnya, si Bungsu ditinggalkan oleh kakak-kakaknya karena hari sudah hampir pagi.

“Kakak, kenapa kalian meninggalkan aku sendirian di sini. Aku takut sekali,” ratap si Bungsu.

Melihat bidadari Bungsu itu bersedih, Meraksamana segera menghampiri dan menghiburnya.

“Hai, gadis cantik. Kamu siapa dan kenapa menangis?” tanya Meraksamana pura-pura tidak tahu.
“Aku Bidadari Bungsu dari kahyangan. Aku tidak dapat pulang bersama kakak-kakakku karena pakaianku hilang entah ke mana,” jawab si Bungsu.

Meraksamana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengajak Bidadari Bungsu pulang ke rumahnya. Sejak itu, Bidadari Bungsu tinggal bersama dengan Meraksamana. Selang beberapa waktu kemudian, pemuda itu mengajaknya menikah. Si Bungsu pun tidak bisa menolak ajakan itu. Selain karena ia tidak bisa lagi kembali ke negerinya, hidupnya bergantung pada Meraksamana yang telah menolongnya. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia. Meraksamana pun semakin giat bekerja.

Gambar Via: dongengceritarakyat.com

Suatu hari, Meraksamana terlihat sedang memperbaiki umpan dan kail bersama Siraiman. Rupanya, mereka hendak pergi memancing ke sungai. Seperti biasanya, sebelum pergi, ia selalu berpesan kepada istrinya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan