Cerita Lucu: dari Mukidi, Humor Gusdur, sampai Nguping Jakarta

Cerita Lucu Mukidi

Nama Mukidi mendadak ramai diperbincangkan di mana-mana. Di media sosial, grup perbincangan pada aplikasi pesan instan, nama Mukidi tercetus. Siapa sebenarnya Mukidi?

Jika ditelisik, Mukidi hanyalah sosok fiktif belaka. Ia tak ubahnya seperti Abunawas dalam kisah 1001 Malam. Perannya juga tidak begitu jelas. Berbeda dengan Abunawas, ia bisa menjadi anak kecil, orang dewasa, kakek-kakek, orang Jakarta, orang Jawa, orang Madura, siapa saja. Pokoknya, asal bisa membuat orang tertawa.

Cerita Mukidi bermula dari blog Ceritamukidi. Di sana tertulis kalau Mukidi punya istri bernama Markonah, dua orang anak bernama Mukirin dan Mukiran, serta punya sahabat bernama Wakijan. Tidak jelas siapa yang menulis kisah Mukidi di blog tersebut yang kemudian tersebar di mana-mana. Yang pasti, dia berhasil membuat banyak orang tertawa dengan kisahnya.

Berikut beberapa di antara kisahnya yang diambil dari blog tersebut.

MUKIDI DAN GAJAH

cerita-lucu-mukidi

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Bel sekolah berbunyi dan para siswa pun langsung berlarian memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Mukidi. Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih enggak bandel-bandel amat. Namun dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget.

Siang itu Mukidi duduk di paling depan. Karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Maka dari itu Mukidi berniat duduk di paling depan. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi. Nah pada kesempatan itu, Guru Mukidi berkeinginan untuk membuat tebak-tebakan nama hewan. Berikut dialognya

Guru: “Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?”.

Mukidi berdiri dan menjawab: “Gajah, bu guru !”

Guru: “Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf ‘D’ ?”

loading...

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: “Dua gajah, Bu Guru…”

….gerrr sekelas

Guru: “Mukidi, kamu berdiri di pojok sana !

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf “M”?

Semua murid diam.

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, “Mungkin Gajah…”

Guru: “Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !”

Mukidi keluar dengan suuedihhh. Guru melanjutkan.

Guru: “Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf “J”?

semua diam.

Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas

Mukidi: “Jangan-jangan Gajah”

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang….

Guru: “Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?”

Sekali lagi semua murid terdiam.

Tiba-tiba HP bu Guru berdering.

Guru: “Ya hallo…”

HP: “Maaf bu, saya Mukidi. Jawabannya: Pasti Gajah”

TERNYATA MUKIDI TERLALU SAYANG SAMA ISTRINYA

Suatu hari istri Mukidi akan melahirkan anak pertama mereka.

Mukidi pun buru-buru ke rumah sakit dan disuruh masuk untuk menyaksikan proses persalinan

Setelah persalinan selesai Mukidi pun mengecup kening istrinya sambil berkata:

Mukidi: Alhamdulillah… anak kita perempuan, makasih yaa, sayaang…

Istri: Iyaa, kang

Mukidi: Sakit yaa, sayang…?

Istri: Iyaa kang…sakiit banget!

Mukidi: Yaaank… aku sayaaang banget sama kamu… aku ga tega

Istri: Iyaa kang…!

Mukidi: Nanti kalau untuk anak kedua titip sama yang lain aja yaaa… jangan dari kamu lagi, aku ga tega, yaang.

Istri: …??????????…

SETELAH MUKIDI SUKSES DAN PUNYA ANAK CUCU

Suatu malam, mbah Mukidi yang sudah berusia 85 tahun telpon ke dokter pribadinya.

“Dokter, ada yang aneh dengan toilet saya. Setiap malam waktu saya mau kencing, lampunya langsung nyala sendiri begitu saya buka pintunya.”

Sang dokter menjawab, “Mbah, Embah istirahat saja deh, nanti saya perbaiki.” Kata si dokter, mencoba menenangkan Mbah Mukidi.

Karena merasa ada yang aneh, kemudian si dokter menelpon keluarga si Embah, dan yang mengangkat putri bungsunya, Sheilla namanya.

“Halloo Dik Sheilla, tadi Mbahmu memberitahu bahwa lampu toiletnya langsung menyala saat pintunya dibuka, apa memang kamar mandi dipasang lampu otomatis ?”

Mendengar hal ini, Sheilla langsung berteriak,

“Mamah… Kakak … Mbok Ijah … Papah kencing di kulkas lagi tuhhh…”

Dokter: “Waduhhhh…”

MUKIDI NONTON BIOSKOP

Jam 8 pagi di kantor bioskop.

Kriiiiing! telepon di meja kantor bioskop XXl berbunyi.

Mukidi: “Halloow Mas…. saya mau nanya, bioskop buka jam berapa…. ?”

Penjaga: “Jam satu Mas.

Mukidi: “Bisa buka jam sembilan tidak mas?”

Penjaga: “Gak bisa. Biasa jam satu bukanya.”

Jam 11, telepon bunyi lagi.

Mukidi: “Hallow….. Jam berapa bukanya bioskop?”

Penjaga: “Kamu yang telepon tadi ya, Mas? Kan sudah dikasih tau.. bukanya jam 1”

Mukidi : “Jam 12 tidak bisa, Mas?”

Penjaga: “Tidak bisa! Emang bioskopnya Mbahmu apa!”

Mukidi: “Nawar sedikit saja, Mas. Enggak apa-apa sudah, setengah satu saja ya?”

Penjaga: [dongkol] “Sebenarnya kamu mau nonton film apa tho, kok telepon terus-terusan?”

Mukidi: [sambil menangis] “Saya ini sebenarnya di dalam bioskop, Mas. Tadi malam pas nonton pilem ketiduran. Tolong, Mas, bukakan pintunya. Saya pengin pulang.”

MUKIDI LAGI MUKIDI LAGI

Ternyata Markonah, istri Mukidi, masih perawan. Dia pergi ke dokter kandungan untuk periksa.

Waktu dokter mau periksa bagian dalam, terjadi percakapan:

Markonah: “Hati-hati periksanya ya, dok, saya masih perawan lho…”

Dokter: “Lho… katanya ibu sudah kawin-cerai 3x, mana bisa masih perawan…?? ”

Markonah: “Gini lho Dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten……!!”

Dokter: “Oh begitu… tapi suami ibu yang kedua tidak impoten kan….?”

Markonah: “Betul Dok, cuma dia gay, jadi saya tidak pernah diapa-apain sama dia…”

Dokter: “Lalu suami ibu yang ketiga si Mukidi tidak impoten dan bukan gay kan….?”

Markonah: “Betul Dok, tapi ternyata dia itu orang partai…”

Dokter: “Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu…??”

Markonah: “Dia? cuma janji-janji saja Dok, tidak pernah ada realisasinya….. Jadi cuma dicontreng aja, gak dicoblos……!!!

MUKIDI MERDEKA

Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.

Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.

Karena kini 17 Agustus-an, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan “INDONESIA TETAP JAYA”.

Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dengan tulisan “INDONESIA TETAP MUKIDI”

MUKIDI IKUT LOMBA NYANYI LAGU HARI KEMERDEKAAN

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…”.

Juri: “Salah itu…, ulangi !”.

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…”.

Juri : “Salah…, kesempatan terakhir!”

Mukidi: “Saya ndak salah pak, sampean dengar saya nyanyi dulu”.

Akhirnya juri serius mendengarkan Mukidi bernyanyi.

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…, BESOKNYA hari Kemerdekaan kita…”

AYAM GORENG

Dalam keadaan lapar, Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

“Maaf Mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang di sana,” kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.

Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.

“AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu…!!! Apa pun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!”

Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, “Silakan! siapa takut?”

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya.

MUKIDI LAGI..OH… MUKIDI

MUKIDI yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia keliling Jakarta dengan naik metromini.

Dia mengamati segala yg terjadi di dalam metromini. Termasuk kernet dan penumpang bus tersebut.

Tak lama kemudian si kernet bilang: “Dirman.. Dirman.. Dirman..” (tanda bahwa bus sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak: “kiri..!”

Dan turunlah penumpang tersebut..

Selang berapa lama kernet teriak: “Kartini.. Kartini.. Kartini..”

Seorang cewek muda nyeletuk: “kiri..!”, lalu cewek tsb pun turun..

Beberapa lama kernet itu teriak lagi: “Wahidin.. Wahidin.. Wahidin..”

Adalagi cowok yang bilang: “Kiri!”

Tak selang lama si kernet teriak lagi: “Gatot Subrotooo! Gatot Subrotooo!”

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab: “Kirii..!!”

Maka turunlah si kumis itu.

Maka….

Tinggallah seorang diri MUKIDI dalam bus. Dengan hati jengkel dia colek si kernet, dengan nada marah MUKIDI bilang:

“Korang ajjar sampiyan ya… Daari tadi orang-orang sampiyan panggil. Lhaaa nama saya ndak sampiyan nggil panggil! Kalo begini, kaaapan saya toron?!!!”

Untung si kernet tanggap..

“Siapa nama Bapak..?”

“Namaku MUKIDI”, jawabnya.

Si kernet langsung teriak: “MUKIDI. MUKIDI.. MUKIDI.. !!!”

MUKIDI pun lega dan berkata: “Naaaah.. Beggiitu..!! Kirri…!”

Maka turunlah MUKIDI di jalan tol.

Bagi yang menemukan MUKIDI harap menghubungi keluarganya di Sumenep.

MAAF, MUKIDI MUNCUL LAGI

Guru bertanya: “Anak-anak… Siapa yg mau masuk surga..?”

Serempak anak-anak menjawab “Sayaaaa..!”

Mukidi yang duduk di belakang diam saja..

Bu guru bertanya lagi: “Siapa yang mau masuk neraka..??”

Anak-anak: “Tidak mauuuu….!!!” Mukidi tetap diam saja.

Bu guru mendekat: “Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka…?

Mukidi: “Tidak kedua- duanya bu guru…”

Bu guru: “Kenapa..?”

Mukidi: “Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, ‘Mukidi, apa pun yang terjadi kamu harus masuk TENTARA…!”

 

Cerita Lucu Humor Gusdur

humor-gusdur

Becak dilarang masuk

Presiden Gus Dur pernah bercerita kepada salah seorang menterinya Mahfud MD tentang orang Madura yang banyak akal dan cerdik.

Ceritanya begini: Ada seorang tukang becak asal Madura yang kepergok seorang polisi ketika memasuki kawasan “Becak dilarang masuk”.

Tukang becak itu nyelonong, dan polisi pun datang menyemprit.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Becak tak boleh masuk jalan ini,” kata polisi itu membentak.

“Oh saya lihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada orangnya. Becak saya kan ada orangnya, berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan becak dilarang masuk!” bentak Pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca. Kalau saya bisa baca ya saya pasti jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak cengengesan.

Doa sebelum makan

Gus Dur bercanda dengan para pastor di Semarang. Ada seorang pastor yang punya hobi aneh, berburu binatang buas, kata Gus Dur. Setiap hari Minggu, selesai misa ia pergi ke hutan.

Ketika ia melihat seekor harimau langsung saja ia menarik pelatuk senapan dan ia pun menembak. “Dor, dor, dor!”

Ternyata tembakannya meleset. Dan.. Harimau balik mengejar. Sang pastor yang langsung berlari terbirit-birit.

Namun sialnya, di depan sang pastor berhadapan dengan da jurang yang sangat dalam. Ia harus berhenti. Ia pasrah, berlutut. Harimau mendekatinya perlahan, siap menerkam.

Jantung sang pastor berdegub semakin kencang. Ia mengatupkan tangannya, berdoa dan menutup mata.

Ia berdoa lama sekali. Sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup. Ia menoleh ke samping. Dilihatnya harimau itu terdiam di sampingnya sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti sedang berdoa.

Sang pastor bertanya kepada harimau, “Kenapa, kamu kok tidak menerkam saya, malah ikut-ikutan berdoa?”

“Ya saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!” kata harimau.

Gus Dur sakit gigi

Sudah beberapa hari ini Gus Dur sakit gigi, cenat cenut. Dibuat duduk sakit, berbicara sakit, mendengarkan musik Beethoven juga masih sakit.

“Siapa bilang sakit hati lebih berat dari pada sakit gigi,” kata Gus Dur kepada seorang stafnya, mengutip lirik lagu dangdut.

“Lha kan iya lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati Gus?”

“Lebih baik sakit hati saja,” kata Gus Dur.

“Lha kenapa Gus?”

“Saya ini lagi sakit gigi!” kata Gus Dur agak berteriak.

Staf Gus Dur tak berani bertanya lagi.

Ketika Gus Dur dikibuli

Gus Dur rutin tidur malam pukul 01.00 WIB. Ketika bertanya kepada keluarga atau pengawalnya, “Jam berapa sekarang?” dan jawabannya belum sampai waktu yang ditentukan itu, ia tidak akan tidur.

Nah untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu malam, pihak keluarga pun berkomplot. “Kalau Gus Dur tanya jam berapa, bilang sudah jam satu.” Dan Gus Dur pun beranjak tidur.

Hal itu berlangsung beberapa kali. Gus Dur pun akhirnya sadar. “Wah selama ini saya dikibulin.”

Tanpa sepengetahuan keluarga, Gus Dur membeli jam tangan yang ketika dipencet bisa berbunyi.

Suatu malam, pukul 11 malam Gus Dur bertanya, “Sudah jam berapa sekarang?” Kompak semua bilang. “Jam satu Gus!”

Sambil tersenyum, Gus Dur langsung memencet jam tangan dan bisa didengar semua: “Sekarang jam 11 malam,” kata jam tangan itu dalam bahasa Inggris.

Cara Gus Dur halalkan ikan curian dari kiai

Saat Abdurrahman ad-Dakhil ( Gus Dur) masih berusia belasan tahun, ia mondok di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren APITegalrejo, Magelang tahun 1957-1959. Gus Dur bersama beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik Sang Guru, Kiai Chudlori.

Pada waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam.

Gus Dur tak ikut terjun masuk kolam, hanya di pinggirnya saja, dengan dalih untuk mengawasi jika sewaktu-waktu Kiai Chudlori keluar dan melewati kolam.

Tak lama kemudian, Kiai Chudlori selalu keluar rumah setiap pukul 01.00 WIB untuk menuaikan shalat malam di masjid dan melintas di dekat kolam. Seketika itu juga, teman-teman bengal Gus Dur yang sedang asyik mengambil ikan langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.

“Tadi ikan milik kiai telah dicuri oleh santri-santri bengal dan saya berhasil mengusir para pencuri itu,? ikan hasil curiannya berhasil saya selamatkan,” kata Gus Dur kepada Kiai Chudlori.

Atas “jerih-payah” itu, akhirnya Kiai Chudlori menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur, untuk dimasak di kamar bersama teman-temannya. Dan ikan itu langsung dimasak dan dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya.

Teman-teman bengal yang disuruh mencuri tadi mengajukan protes kepada Gus Dur. Namun bukan Gus Dur namanya jika tak bisa berdalih yang lebih penting adalah hasilnya.

“Ah kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan ini kan sudah halal,” kata Gus Dur enteng.

Dialog Gus Dur dengan Tuhan

Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan. Presiden AS Ronald Reagen: Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab, “20 Tahun lagi”. Presiden AS menangis.

Presiden Prancis Sarkozy: Tuhan, kapan negara Prancis makmur? Tuhan menjawab: “25 Tahun lagi.” Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

PM Inggris Tony Blair: “Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?” Tuhan menjawab: “20 Tahun lagi.” PM Tony Blair ikut juga menangis.

Presiden Gus Dur: “Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?” Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis.

Sudah di Tanah Abang

Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Prancis terbang bersama buat keliling dunia. Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama terbang, Presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”

Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”

“Itu, patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.

Tidak mau kalah, Presiden Prancis Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tahu nggak? Kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: “Wah, kok bisa tau juga?”

“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Prancis tersebut.

Giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat. “Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!” teriak Gus Dur.

“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran.

“Ini, jam tangan saya ilang,” jawab Gus Dur kalem.

Lebih mulia di mata malaikat

Ceritanya, di pintu akhirat seorang malaikat bertanya kepada seorang sopir Metromini.

“Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu.

“Saya sopir Metromini, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metromini tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat kepada Gus Dur.

“Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak” lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.

“Pak, kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini..?”

Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa.”

Cerita Lucu Nguping Jakarta

cerita-lucu-nguping-jakarta

Padahal bagusan Caslon Pro…

Cewek: “Dia emang nyebelin sih, tapi loe harus baca tulisannya, bagus deh!”
Cowok: “Oooh, kayak Times New Roman gitu?”

Didengar oleh seseorang yang bingung mau komentar apa.

So where’s the connections?

Sekretaris: “Yes boss, do you want me again?”
Boss: “Sorry?”
Sekretaris: “Whuaaaa… So sorry boss, my brain connection and my mouth connection is not connection!”

Wisma BNI 46, didengar oleh kolega lain yang langsung kehilangan koneksi ke akal sehat.

Sungguh administratif!

Pria #1: “Eh kok tumben yah rasa daging baksonya kurang enak?”
Pria #2: “Waduh awas lho, jangan-jangan baksonya mengandung formulir!”

Warung bakso Blok S, didengar pengunjung lain yang hampir tersedak bakso.

Jelek-jelek masih bisa nelepon dan sms lho!

Pembeli: “Mbak liat henponnya dong yang itu, berapa harganya?”
Penjual: “Ini 1.2 juta, mas”
Pembeli: “Bukan ituu mbak… Itu yang paling depan, yang jelek, yang murah…”
Penjual: “Itu kan henpon saya…”

Poin Square, didengar oleh adik ipar pembeli yang kasihan ke penjual yang dizalimi hatinya.

Kacanya tipis soalnya…

Pengemudi: “Woi, DVD gua jangan ditaro di dashboard, entar kena wiper! Lagi ujan neh!”

Parkiran PIM, didengar oleh semua penumpang yang serempak menyentuh kaca depan mobil.

Ternyata kamu tidak sepintar itu…

Mahasiswa #1: “Gile, kuis gua dapet 7 lho, padahal semalem gua ga belajar. Lo dapet berapa?”
Mahasiswa #2: “70. Napa?”
Mahasiswa #1: “…” (terdiam dan maklum)

Lab Kimia Universitas di Grogol, didengar oleh mahasiswa lain yang langsung ingin menenggak asam sulfat.

SIM-nya nemu di jalan, ya?

Teman #1: “Pak, udah siap?”
Supir Taksi: “Siap bos!” (sambil nutup pintu dan menyalakan mobil)
Teman #2: “Pak, buka bagasi dong, mau di taro di bagasi aja tas-tas nya..”
Supir Taksi: “Ok! (terdiam, buka pintu, jongkok-jongkok tidak jelas) Mas, ini buat buka bagasinya yang mana ya?”

Jagakarsa, didengar oleh calon penumpang yang ingin segera mengganti taksinya.

Cari perkara namanya…

Cowok nyinyir: “Anjrit! Mobil siapa tuh? Norak abis… Pake ditempelin stiker gambarnya gitu pula… Yang naek pasti cewek!”
Cowok berbadan besar di meja sebelah: “Itu mobil gua tauk!”

Cafe menghadap parkiran di Mall, didengar oleh pengunjung yang langsung keluar sebelum perang dimulai.

Jamannya metrosexual, joooo…

Ketua Himpunan cowok: “Acaranya keren, tengkyu yak…” (jabat tangan)
Mahasiswa: “Makasih. Gila tangan loe halus banget, ketauan ga pernah kerja di rumah…”
Ketua Himpunan cowok: “Ngga kali, gua cuma sering facial aja…”

Didengar mahasiswa lain yang merasa sudah salah memilih ketua himpunan.

Gak usah ngacung jari pas jawab!

Cowok Jakarta: “Makanya jangan kebanyakan ngeceng!”
Cowok daerah: “Apa hubungannya?”
Cowok Jakarta: “Elu tau ngeceng kagak?”
Cowok daerah: “Tau! Ereksi.”

Halte bus BenHil, didengar oleh seseorang yang tidak akan lagi melewati Lintas Melawai seumur hidupnya.

Bagian yang mananya ya?

Teman #1: “Gile, mesen seabreg-abreg tambah ndut, dah!”
Teman #2: “Tenang aja, kan lu udah rajin fitness sekarang…”
Teman #3: “Iya, harus rajin luh… Biar bodynya yahud kayak jeruk nipis…”

Didengar oleh seisi meja yang bingung membayangkan bentuk badan seperti itu.

Absolutely absurd…

Temen #1: “Eh gua tadi baca blog yg lucu abis, namanya ngupingjakarta. Judul
blognya ‘Dialog absurd di tengah kota Jakarta’. Tapi gua gak ngerti
absurd itu apa siy?”
Temen #2: “Absurd itu mutlak. Pasti.”
Temen #3: “Bukannya itu absolut?”
Temen #2: “Oh iya itu absolut. Absurd apa yah… Gak tau gua…” (sambil cekikikan)

Kantin sebuah universitas di meruya, didengar oleh alumni yang merasa perlunya mata kuliah bahasa indonesia di perbanyak sks-nya.

Bukan berarti gua bodoh kan?

Cewek #1: “Loe tau nggak kemaren ini si X bilang gue kurang pinter lho gara-gara gue nggak gitu ngerti omongan dia.”
Cewek #2: “Terus loe bilang apa?”
Cewek #1: “Gue bilang no way, gue cantik kok!”
Cewek# 2: “Yes you are! Biar tau rasa tuh si X! Enak aja kata-katain loe”

Sebuah kampus swasta di Jakarta, didengar teman sekampus yang sangat mengerti perasaan si X.

Gede gak ujannya kalo gitu?

Anak SMA #1: (masuk di mobil setelah kehujanan) “Eh, kok kepala gue jadi pusing ya?”
Anak SMA #2: “Pasti gara-gara tadi gerimis”
Anak SMA #1: “Iya nih kayaknya. Padahal cuman kena gerimis setetek eh, setitis doang!”

Didengar oleh teman dan supirnya yang langsung menyalahkan polusi yang membuat hujan jadi beracun.

Aaaah, ribeeeet!

Cewek #1: “Cong, ayo dong kerjain nih proposal proyeknya!”
Cewek #2: “Aduh, entar aja deh ya…”
Cewek #1 (mulai emosi): “Eehh! Karena banyakan gua yang ngerjain, kalo proyek ini menang,
bagian gua berbanding elo 2:3 lho ya! Eh… Lho koq gedean loe sih…
Maksud gue, loe 70% gua 30%!”

Didengar oleh semua teman seruangan yang serempak menepuk kepala masing-masing.

Duh, kamu yakin bapak anakku?

Di sebuah Rumah Sakit Bersalin,
Bapak-bapak ke istrinya: “Ma, kok semua pasien pada bunting ya?”

Ciputat, didengar oleh pengantri lain yang menahan diri untuk tidak mencela demi calon bayinya.

Selama bukan darat sih…

Anak Kecil: (berteriak girang) “Wah… Liat, Ma! Ada komodo!”
Ibu: “Eh! Awas jangan deket-deket! Nanti dimakan anak buaya itu!”

Ragunan, didengar oleh remaja yang ingin menjadikan ibu itu santapan komodo berikutnya.

Selanjutnya, Cerita Lucu Neraka

No Responses

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan