Home Contoh Contoh Cerpen-Cerpen Kompas Minggu untuk Inspirasi Menulis

Contoh Cerpen-Cerpen Kompas Minggu untuk Inspirasi Menulis

SHARE

Contoh cerpen 1

Untuk Redi Panuju

Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring. Dan dukun bayi buta huruf tahu apa sebabnya: pinggul ibu Jebule terlalu sempit, tapi, berkat kecerdasan pemberian Tuhan kepada dukun bayi buta huruf ini, dukun buta huruf bersumpah, bahwa dia akan sanggup meluruskan leher Jebule. Dan karena semua penduduk melarat, upah bagi dukun bayi buta huruf cukup sederhana bagi orang-orang lain pada umumnya, tetapi sangat berat bagi penduduk desa terpencil itu: lima potong gula jawa. Manfaat gula jawa: menahan kelaparan, dan memang semua penduduk desa terpencil itu mulai lahir sampai nyawanya melayang perutnya selamanya tidak pernah kenyang.

Demikianlah, setiap hari dukun bayi buta huruf ini datang ke gubuk ibu Jebule, memijat-mijat Jebule, menelusuri syaraf, otot, dan jalan darah Jebule, untuk mencari rahasia bagaimana cara membetulkan lehernya. Dia juga memijat-mijat tubuh ibu Jebule, terutama pinggulnya.

Setelah beberapa hari datang ke gubuk ibu Jebule, berkatalah dukun bayi buta huruf:

”Saya tahu Jebule bukan anak suamimu.”

Suami ibu Jebule buta sejak lahir, lebih banyak menganggur daripada bekerja, dan kesenangannya adalah mengelus-elus pipa rokoknya, sampai halus dan licin. Untuk membeli rokok dia tidak punya uang, maka, kecuali menggosok-gosok pipanya kadang-kadang lebih dari delapan belas jam sehari, dia hanya mampu menyedot-nyedot pipanya seolah-olah menyedot-nyedot tembakau menyala.

contoh cerpen
ilustrasi cerpen
karya Dyan Anggraini

Akhirnya, dengan pertolongan Tuhan Seru Sekalian Alam, leher Jebule bisa dijadikan tidak miring.

Hari demi hari Jebule makin besar, dan seperti semua orang di desa terpencil itu, perut dia tidak pernah terganjal oleh makanan yang cukup. Maka Jebule pun tumbuh sebagai anak kecil kurus, selalu kalah kalau berkelahi dengan sesama temannya, dan begitu dipukul pasti dia menangis berkepanjangan.

Tapi, jangan khawatir. Otak Jebule ternyata cerdas. Kalau ada tukang sulap datang, dia memandang tukang sulap dengan cermat, dan meskipun dia tidak berkata apa-apa, dia tahu kebohongan tukang sulap. Dia tahu sulap sebetulnya tidak pernah ada, yang ada hanyalah kecepatan mempermainkan tangan, dan mengumbar kata-kata untuk membohongi penontonnya.

Kalau ada rombongan kuda lumping datang, dia juga memperhatikan dengan cermat semua petingkah rombongan itu. Dia tahu bagaimana cara mereka memainkan cemeti supaya suaranya keras dan menakutkan, serta menggetarkan udara sampai jarak jauh. Setiap kali cemeti dimainkan, gemanya pasti bersahut-sahutan, dan menimbulkan rasa takut. Ada caranya, dan dia tahu bagaimana caranya.

Mengapa orang-orang rombongan meringis-meringis kalau dihantam cemeti? Mereka sedikit kesakitan, tapi tidak benar-benar sakit. Andalan mereka adalah latihan keras, bertubi-tubi, sampai kulit benar-benar tahan dan tidak akan melepuh.

loading...

Lalu, mengapa penunggang kuda-kudaan dari bambu itu mampu menelan kaca tanpa memuntahkannya kembali? Sebelum menelan kaca, mereka selalu dihajar dengan cemeti berkali-kali, lalu mereka berguling-guling di tanah, lalu mereka diberi minum air kotor, dipukuli lagi, berguling-guling lagi, sampai akhirnya matanya menutup rapat dan lidahnya menjulur-julur. Sesudah itu, mereka disuruh makan bola lampu, cermin, dan barang-barang tajam lain. Penonton percaya, karena suara kendang, tambur, seruling, gelegar-gelegar cambuk, serta jeritan-jeritan mereka dengan kata-kata yang sama sekali tidak jelas, tidak lain adalah semacam mantra untuk menyihir. Bagi Jebule, caranya beda, tapi mereka, sama dengan tukang sulap, juga pembohong.

Pada suatu hari, ketika rombongan kuda lumping tertidur karena terlalu lelah, Jebule mencuri sisa makanan serta cemeti mereka. Sejak saat itulah dia tidak pernah kembali ke desanya. Dia berubah menjadi pengemis, pencopet, dan pencuri, tergantung pada keadaan yang dia hadapi.

Dalam berpetualang dia selalu memperhatikan satu hal: membaca. Membaca huruf, membaca perilaku manusia, binatang, dan juga, gejala-gejala alam. Bagaikan binatang, dia bisa merasakan kapan akan hujan, kapan akan banjir, dan kapan musim panas akan tiba dan berapa keras matahari akan melampiaskan panasnya di permukaan bumi.

Karena pandai mencuri, tubuh Jebule sekarang berisi. Dan dia tahu tubuh harus terus dilatih. Untuk menakar kekuatan tubuhnya, kadang-kadang dia pukuli tiang listrik dengan tangan kosong, dan dia bentur-benturkan kepalanya.

Jangan heran, ketika pada suatu hari dia mendaftar jadi tentara, diuji, dan langsung diterima. Tentu saja, dia bisa diterima karena dia pandai berbicara, berbohong, dan menipu, dan juga, tubuhnya kuat. Dalam berbagai latihan dia bisa merobohkan teman-temannya. Bermain cemeti curian dari rombongan kuda lumping tentu berbeda dengan menembak, berbeda juga dengan main sulap. Berbeda, tapi, bagi dia, pasti banyak kesamaannya: kecermatan, kecepatan, serta kelincahan tubuh.

Dan berbeda dengan teman-temannya, setiap ada kesempatan dia pasti membaca. Semua bacaan dilahap dengan rakus, terutama riwayat hidup orang-orang besar. Dia mafhum bagaimana cara Napoleon belajar bahasa Inggris: beli buku pelajaran bahasa Inggris yang sama sekali tidak bermutu. Karena cerdas, maka dengan cepat dia menguasai bahasa Inggris yang hancur-hancuran. Dia bisa menangkap bahasa Inggris, dan kalau dia berbicara dalam bahasa Inggris, pasti pendengarnya bingung beberapa saat, tapi akhirnya tahu maksud dia.

Mengapa jenderal-jenderal musuhnya menganggap Napoleon serdadu bodoh, Jebule juga tahu. Semua jenderal musuh menganggap perang adalah pekerjaan pegawai kantoran, pagi bertempur, siang istirahat, lalu bertempur lagi, lalu malam hari tidur. Dan jenderal-jenderal musuh menganggap perang adalah parade unjuk kekuatan: tambur ditabuh bertubi-tubi, seruling mengikutinya, dan semua serdadu tampak akan berangkat ke festival. Bagi jenderal-jenderal musuh, perang tidak lain harus berhadap-hadapan. Serdadu berbaris di lapangan terbuka, serdadu musuh juga demikian, lalu kalau sudah dekat, mereka bertempur.

Itulah perang yang sesungguhnya, pikir jenderal-jenderal musuh. Tapi karena Napoleon bodoh, dia suka menyerang dari belakang, dari kiri, dari kanan, dan kadang-kadang mengepung musuh tanpa diduga. Malam pun, bagi Napoleon, bisa digunakan untuk melancarkan serangan-serangan mematikan. Karena kebodohannya, maka Napoleon sanggup mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah.

Jebule juga tahu, betapa hebatnya Xerxes, tokoh penting dalam sejarah pertempuran, akhirnya kalah: Xerxes terlalu percaya diri, terlalu congkak, dan suka pamer. Beberapa hari menjelang pertempuran, dia undang semua keluarga para pembesar untuk menyaksikan kehebatan pasukannya. Akibatnya, hampir semua prajuritnya dikirim ke neraka oleh musuhnya, dan keluarga mereka pun, dijadikan budak.

Tempat tidur Jebule selalu morat-marit, ditumpuki berbagai macam buku: ada buku Machiavelli The Prince, mengenai bagaimana cara mendapat kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan, ada buku filsof Thomas Hobbes Leviathan, mengenai keharusan seorang pemimpin untuk selamanya bertambah kuat, dan buku-buku mengenai kehidupan jenderal-jenderal besar. Tentu saja, buku-buku tentang kejatuhan para diktator juga ada.

Dengan kepandaiannya bermain kata, menipu, berbohong, dan menjerumuskan musuh-musuhnya, akhirnya dia menjadi presiden. Bukan hanya sekadar menyiksa, membunuh pun bagi Jebule, adalah halal.

Jebule tahu, supaya semua orang tunduk, sebuah peraturan, yang tampaknya sederhana, harus dilaksanakan: potongan rambut dia harus ditiru oleh semua laki-laki, demikian juga cara berpakaiannya. Untuk menguji kesetiaan seluruh penduduk, dia pernah gundul, pernah cukur rambut pendek, pernah juga agak gondrong. Semua laki-laki mulai umur lima tahun sampai menjelang mati, harus ikut gaya rambutnya. Dan mereka yang botak harus pakai wig model mutakhir potongan rambut Jebule, termasuk mereka yang botak akibat kemo, dan yang pura-pura botak akan dihukum cambuk di depan khalayak.

Supaya kekuasaannya tidak luntur, semua perempuan, mulai umur lima tahun sampai menjelang kematiannya, harus mengikuti potongan rambut istrinya. Dan seperti Jebule, istri Jebule sering ganti potongan rambut.

Tentu saja, rakyat tidak akan selamanya diam, dan begitu ada gejala mengancam, Jebule tahu cara memadamkannya. Tapi, rakyat adalah rakyat, dan penindasan adalah penindasan. Maka, ketika Jebule dan pembesar-pembesar kuncinya melawat ke Mesir, rakyat berontak. Dalam perjalanan pulang, pilot pesawatnya agak kurang ajar. Dengan sengaja pesawat dibuat berputar-putar, supaya Jebule dapat melihat, bahwa rakyat sedang membakar ibu kota. Dan ketika pesawat mendarat, borgol dan mulut-mulut senjata menyambut Jebule dan pembesar-pembesar kunci.

Jebule bersumpah akan menyerahkan semua kekuasaannya kepada wakil presiden, dalam upacara besar yang akan disaksikan oleh semua orang penting, termasuk para semua diplomat dari luar negeri.

Pada saat yang sudah ditentukan, berjalanlah Jebule dengan gagah, langsung menuju ke pengeras suara. Dengan suara berat dan tekanan-tekanan yang sangat jelas, Jebule bersumpah, begitu selesai membaca teks pidato yang sudah disiapkannya, kekuasaannya akan sepenuhnya diserahkan kepada wakil presiden.

Dengan mengutip berbagai kitab agama, undang-undang dasar, dan kata-kata para filsuf, Jebule terus membaca, dengan tempo yang makin lama makin lambat. Beberapa kali Jebule menekankan, dia harus membaca teks pidatonya sampai selesai.

Wakil presiden berdiri tegap, lalu makin lama wajahnya makin pucat, tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, tapi tetap berdiri.

”Ingat, saya akan menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden setelah saya selesai membaca teks pidato,” kata Jebule berulang-ulang.

Tubuh wakil presiden makin bergoyang-goyang. Jantungnya, paru-parunya, hatinya, ginjalnya, pankreasnya, dan semua isi dada dan perutnya melepuh. Akhirnya roboh.

Tentang Penulis:

Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Ia mendapat berbagai penghargaan, antara lain SEAWrite Award, Satya Lencana Kebudayaan Presiden Republik Indonesia, dan Anugerah Mastera dari Brunei. Sekarang bekerja sebagai Guru Besar Emeritus di Pascasarjana Unesa.

Ilustrasi : Hadi Soesanto

*Cerpen telah diterbitkan di harian Kompas pada 5 Juni 2016

Contoh Cerpen 2

contoh cerpen
Ilustrasi cerpen karya Hadi Soesanto

Cerita Kedasih

”Itu burung apa, Mak?” tanya Mimin pada Kedasih, emaknya, ketika sore memerah jingga.

OLEH R GIRYADI

Kedasih pun bercerita tentang burung-burung yang sering nangkring di pohon tak jauh dari rumah Tuannya. Itulah hiburan yang bisa menambal sedih anaknya karena saban hari harus dikurung dalam kamar emaknya.

Kamar yang berukuran 3 X 4 itu, bekas gudang Tuannya. Gudang butut itu, hanya terdiri dari satu dipan dan almari yang sudah pecah kacanya. Sebuah televisi yang separuh gambarnya hilang, tanpa remote. Di satu sisi tembok kamar ada jendela menghadap ke jalan, sehingga Mimin bisa melihat pokok pohon trembesi yang tumbuh berjajar-jajar sepanjang jalan depan rumah Tuannya.

Lewat jendela itulah, Mimin melihat, betapa di luar sana, anak-anak sebayanya asyik bermain. Sementara ia harus bekerja membanting tulang, bersama emaknya. Ia hanya bisa melihat dari balik jendela dengan tatapan mata berbinar.

Terkadang ia memberanikan diri memainkan mainan milik anak Tuannya. Tetapi, jika ketahuan emaknya, ia pasti dimarahi. Karena, bila ketahuan menyentuh mainan, tak ayal lagi, Mimin akan mendapat damprat Tuannya.

Kedasih sering menjauhkan mainan milik anak Tuannya dari jangkauan Mimin. Kedasih memilih menghibur anaknya dengan dongeng. Kedasih sering bercerita tentang burung. Burung yang hidup bebas di alam raya.

”O, itu burung blekok atau bangau. Burung itu memberitahukan musim akan berganti, nak,” kata Kedasih, suatu sore.

Mimin memandang barisan burung bangau yang terbang menjauh menuju cakrawala jingga. Sebentar kemudian, ia mendengar cerita emaknya tentang burung bangau yang mengabarkan pada katak dan ikan-ikan akan hadirnya kemarau panjang.

”Tetapi itu hanya akal bulus burung bangau yang ingin memakan ikan,” kata Kedasih sambil menyelesaikan setrikaan.

”Tega sekali ya, Mak, burung itu menipu ikan?” kata Mimin sambil menyemprotkan pewangi.

”Ini hanya dongeng. Tutuplah jendela itu. Angin sore tak baik. Sebelum malam, burung-burung itu sudah menemukan sarangnya. Jangan kau risaukan.”

”Ketika malam apa burung-burung pada tidur, Mak?” tanya Mimin.

”Ada yang tidak tidur. Namanya burung hantu,” jawab Kedasih. Tiba-tiba Mimin menghambur, memeluk emaknya. ”Sebaiknya kamu segera tidur. Besuk sebelum subuh harus segera bangun. Cucian yang belum kering harus segera dijemur…,” kata Kedasih, yang kemudian segera turun tangga karena terdengar suara Tuannya memanggil untuk yang kesekian ribu kali.

Dari atas terdengar suara Tuan mendamprat emaknya begitu kasar. Sesekali juga terdengar suara tendangan dan pukulan. Suara Tuannya semakin keras memaki-maki. Begitulah yang dilakukan Tuan kalau Nyonya sedang tidak ada di rumah.

Mata Mimin nanar menatap jendela yang kordennya mbulak karena tak pernah diganti. Dari celah-celah jendela itu, ia membayangkan burung hantu sedang nangkring di pokok pohon trembesi dekat rumah Tuannya. Matanya tajam mengawasi.

Mimin memeramkan mata. Ia mendengar tangga loteng berderit. Emaknya berjalan tertatih sembari memegangi perutnya. Diterangi lampu 10 watt, Mimin melihat wajah emaknya lecek.

”Aku takut sama burung hantu, Mak?” seru Mimin.

”Sudahlah, tidur saja,” kata Kedasih lirih.

”Emak dipukul lagi?”

Kedasih tidak menjawab. Ia membaringkan tubuhnya yang terasa seperti kayu. Meski begitu, Kedasih bercerita tentang burung hantu dan belalang yang sombong dan tamak.

Kata Kedasih, belalang suka sekali mengganggu tidur siang burung hantu. Ia sering menyanyi dekat burung hantu. Suaranya berisik. Pada suatu hari belalang diiming-iming anggur. Kata burung hantu, anggur itu didapat dari dewa Apollo. Anggur itu yang membuat suara dewa Apollo begitu merdu. Belalang pun percaya. Ia meminta buah anggur yang dimiliki burung hantu agar suaranya semerdu dewa Apollo.

”Saat belalang mendekat ke burung hantu, haaapp! Nyaem… nyaeeemm,” cerita Kedasih, menirukan burung hantu menerkam belalang.

”Jadi belalang itu dimakan burung hantu karena kesombongannya, Mak,” tanya Mimin di akhir cerita.

”Begitulah, kesombongan dan ketamakan, membuat akal dan hati nurani seseorang menjadi tumpul,” kata Kedasih.

”Seperti Tuan dan Nyonya?” tanya Mimin.

Kedasih tak menjawab. Dipeluknya anak satu-satunya itu. Tubuhnya terasa keras sekali. Mimin mendekapkan tangannya pada tubuh emaknya, erat sekali. Baru kali ini ia merasakan bau tubuh emaknya terasa wangi. Entah itu bau dari mana. Tapi ia selalu membau tubuh yang aneh, setiap kali Nyonya tidak ada di rumah. Mimin tak berani bertanya. Matanya masih membayang wajah burung hantu yang memakan belalang yang sombong dan tamak. Sementara Kedasih membayangkan pergulatannya dengan buaya yang hendak memakan, anaknya.

Sejak tiga hari ini, Mimin ketakutan hebat karena mendengar suara burung yang seperti memecah malam. Suara burung itu, seperti suara yang merintih-rintih kesakitan. Suara itu terdengar beberapa kali, membuat Mimin tak bisa tidur.

Emaknya sempat melongok keluar. Mata Kedasih memicing-micing meneliti setiap ranting. Di luar hanya ada bulan separuh. Siluet ranting-ranting trembesi diam. Tak ada angin. Jalanan sepi. Suara burung, tak terdengar.

Suara tarqim lamat-lamat terdengar, mata Mimin masih mengerjap-ngerjap. Emaknya juga tak berani tidur karena sebentar lagi ia harus jadi robot.

Pagi benar, Mimin sudah harus menjemur pakaian di atap loteng. Sementara emaknya menyiapkan sarapan pagi. Dan sebelum jam 6.30 harus sudah memandikan anak Tuannya, sampai mengenakan baju seragam sekolah. Semua harus selesai jam 6.45, termasuk sudah menyuapi makan dan memberinya minum susu. Dan pada jam 6.45, sudah harus segera berada di depan pagar rumah menunggu jemputan datang. Usai itu, barulah membersihkan seluruh barang kotor di meja makan, karena pas jam 7.00 Tuan dan Nyonya akan duduk di kursi menunggu sarapan pagi, roti bakar yang dilapisi sedikit selai dan minum teh hangat sedikit gula.

Setelah Tuan dan Nyonya pergi, Kedasih mulai membersihkan rumah. Mulai dari taman depan, sampai kamar mandi. Semua harus selesai sebelum anak Tuannya pulang sekolah. Sampai sore, ia harus ngemong anak Tuannya sampai tertidur. Sementara Mimin, menyetrika baju-baju Tuannya. Semua harus beres, sebelum Tuan dan Nyonyanya datang. Entah jam berapa datangnya.

”Mak, lihat di pohon ada burung?” kata Mimin sembari menunjuk ke pohon trembesi.

Kedasih, clilang-cliling mengamati pohon trembesi, ”Mana, enggak ada burung,” kata Kedasih.

”Itu, warna coklat, di ranting sebelah sana. Dengar kicauannya,” teriak Mimin.

Kedasih berusaha memasang telinganya. Tak ada suara yang terdengar. Tetapi anak satu-satunya ini, merasa mendengar suara kicau burung yang ia lihat di pohon trembesi. Suara itu persis suara burung yang didengarnya tiga malam sebelumnya.

Hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri, hiii- tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri. Tiba-tiba suara kicau burung terdengar jelas. Kedasih, bersejingkat mendengar suara kicau burung itu. Ia segera menghampiri anaknya yang berdiri di ambang jendela. Kedasih menajamkan pandangannya pada pohon trembesi. Hatinya merasa bergetar mendengar suara burung yang terasa merintih-rintih itu.

Kedasih segera membimbing anaknya dari ambang jendela. Sementara kicau burung itu terdengar lagi. Terasa sekali sampai ulu hati. Bulu kuduk Kedasih terasa mengkirik. Ia bergegas menutup jendela. Saat itu ia mendengar suara teriakan Tuannya. Kedasih segera bergerak cepat. Tetapi, perutnya masih terasa sakit untuk bergerak lebih lincah. Kedasih berjalan terseok menuruni tangga.

Seperti dugaan Mimin, tak seberapa lama terdengar suara berdebam. Seperti suara benda tumpul yang ditumbukan ke tubuh. Tetapi Mimin tak berani mengintip. Ia tak kuasa mendengar suara emaknya yang merintih. Bahkan kini seperti ada suara lain. Suara emaknya yang melengking, tetapi tertahan.

Kedasih kembali dengan wajah lecek. Matanya nyalang. Keringatnya mengalir pada wajahnya yang memerah.

”Dipukul lagi, Mak?”

Kedasih menggeletakkan tubuhnya yang ngilu. Dadanya masih berdegup kencang. Mimin, melihat tangan emaknya ada bercak merah. Saat itu tiba-tiba telinganya menangkap kicau burung. Suaranya begitu merintih-rintih, seperti suara emaknya yang menahan kesakitan.

”Itu burung apa, Mak?” tanya Mimin sambil melongok keluar lewat kaca jendela.

”Emm… burung kedasih,” jawab Kedasih sembari mlungker menahan sakit di ulu hati dan selangkangannya.

”Kok, seperti nama, Emak,” kata Mimin sembari tersenyum.

Di luar sana burung kedasih berkicau berkali-kali. Hiii-tii-ti- ti, tir-ri-ri-ri-ri, hiii-tii-ti-ti, tir- ri-ri-ri-ri. Suara burung itu seperti berkecamuk dalam hati Kedasih hingga larut malam. Kedasih memandang anaknya yang tak berdosa itu dengan penuh kasih sayang.

Di matanya terbayang, bagaimana ia menyelamatkan anaknya itu dari laki-laki pemabuk yang telah membuatnya terpuruk. Laki-laki yang pernah memaksanya mencintai. Laki-laki yang memaksa membuahi spermanya. Dan kemudian laki-laki itu pergi, karena orangtuanya tak merestui. Kedasih pun juga memilih minggat untuk menyelamatkan anaknya. Dan membuang sial bagi keluarganya.

Tetapi apa daya, lepas dari buaya darat, terperangkap di kandang macan. Di kandang macan ini ia menjadi santapan Tuannya, bila Nyonya pergi, hampir saban malam.

”Macan itu sudah aku habisi. Demi anakku…” batin Kedasih. Dadanya berdegup kencang.

Tiba-tiba Mimin menggeliat dan bangkit dari tidurnya. ”Kok, burung itu tidak berhenti berkicau, Mak?”

Kedasih berusaha bangkit, sembari memberi isyarat tangan ke mulut. Tetapi Kedasih tak jadi bangkit. Ulu hatinya terasa kecepit.

”Kata orang, itu pertanda ada malaikat lewat,” kata Kedasih lirih.

”Oh, berarti dia burung yang baik, seperti Mak.”

”Dia malaikat pencabut nyawa…,” kata Kedasih, lirih sekali.

Mimin beringsut dan segera menghambur memeluk emaknya. Ia merasakan dengus napas emaknya begitu kencang. Detak nadinya terasa cepat. Tapi sebentar kemudian terasa melambat. Berhenti!

”Seharusnya malaikat itu tahu doa kita, Mak, agar kita bisa pergi dari rumah ini,” ucap Mimin.

Tak ada jawaban. Mimin, mengeratkan dekapan ke tubuh emaknya yang membatu. Bau tubuh emaknya terasa anyir. Tetapi Mimin tak peduli.

Di luar sana, kicau burung kedasih tak terdengar. Tiba-tiba malam robek oleh jeritan Nyonya. Mimin membenamkan wajah pada tubuh emaknya yang diam dan beku. Di bawah sana, Nyonya memeluk suaminya yang bersimbah darah.

R Giryadi

Lahir di Blitar, 10 April 1969. Buku kumpulan cerpennya Mimpi Jakarta (2006), Dongeng Negeri Lumut (2011), dan buku dramanya 3 Lakon Dua Monolog Satu Esai (Sebuah Dokumentasi Teater) 2016. Sekarang mengelola penerbitan indie, Satu Kata.

Ilustrasi Karya:

Dyan Anggraini

Cerpen telah diterbitkan Harian Kompas pada 8 Mei 2016

SHARE

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan