Contoh Puisi Pendek Terbaru dari Sastrawan Indonesia 2016

Contoh Puisi Pendek

Puisi pendek berikut ini, adalah puisi terbaru dari sastrawan Ibnu Wahyudi dalam buku Pagi Menjadi Ibu.

Ibnu Wahyudi

Ibnu Wahyudi (lahir di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 24 Juni 1958; umur 58 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Saat ini ia adalah dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia selain menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak tahun 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak tahun 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak tahun 2009), dan di SIM University Singapura.

Pendidikan S1 dalam bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1984. Antara tahun 1991 sampai dengan 1993 Ibnu Wahyudi mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan memperoleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Selama 3 tahun (1997-2000) menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.

Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Masih Bersama Musim (KutuBuku, 2005), Haikuku (Artiseni, 2009), dan Ketika Cinta (BukuPop, 2009); sementara kumpulan prosamininya berjudul Nama yang Mendera (Citra Aji Parama, 2010). Buku puisinya Masih Bersama Musim masuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku-buku yang pernah disusun atau disuntingnya adalah Lembar-lembar Sajak Lama (kumpulan sajak P. Sengodjo), terbitan Balai Pustaka (1982), Pahlawan dan Kucing (kumpulan cerpen Suripman) terbitan Balai Pustaka (1984), Konstelasi Sastra (Hiski, 1990), Erotisme dalam sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), “Toilet Lantai 13” (Aksara 13, 2008), “Ode Kebangkitan” (2008), dan banyak lagi.

Contoh Puisi Ibnu Wahyudi

contoh puisi pendek

Membaca Sepintas

membaca sepintas
tak mungkin paham tuntas
menyimak sepotong
baru seperti tong kosong

dikemas semua menjadi pandangan
terkadang diberi nama penafsiran
diungkap secara gagah
sangat sering dilandasi pongah

: realitas kekinian

sementara pemahaman
sungguh ibarat alur selokan
mengarus berbareng ragam wacana
menuju samudera

begitu panjangnya persekutuan
pelbagai warga sungai bersepaham
berdialog sepanjang arus
sabar berproses bertungkus lumus

loading...

: mewujud lautan penuh arti

9/10/16

Sajak Kedua Ratus Delapan Puluh Tiga

sebuah kelengangan
berjalan melenggang
dengan penuh keramahan
dan jauh dari kemarahan

tiba di rumah
senyumnya tetap murah
bahkan seusai lelah
sesuai sebuah petuah

sebab senyum merekah
lebih membahagiakan mereka
dan semuanya mudah
dilakukan oleh kaum muda

maka kirimkan salam
jangan dengan rasa malas
tapi sepenuh hati yang tetap
yakni siapa saja yang tepat

di setiap hari sepenuh cinta
kepada hati yang setia bercita-cita

9/10/16

Sajak Kedua Ratus Delapan Puluh Dua

arah angin yang risau
meniup jalur rencana jadi kacau
senja pun dicekam gamang
dan tiba-tiba semua jadi remang
sedang kita masih dipusingkan arus
menuju mata angin yang tirus
: teka-teki abadi

tapi kita terlanjur suka misteri
atau sesungguhnya dijebak kalkulasi?

hanya ada entah
yang sering datang tanpa arah
dan ketika arah sendiri nanar
perjalanan kita jadi begitu samar

8/10/16

Sajak Kedua Ratus Delapan Puluh Satu

kuselimuti pagi biar hangat

aku tak mengharap ia selesma
pun, tak dapat kubayangkan jika esok
hanya siang yang kujumpa
atau tak ada sesiapa

atau bahkan tanpa hari
yang elok

7/10/16

Sajak Kedua Ratus Delapan Puluh

terjaga dari keterlenaan
selayaknya jadi pelajaran
sebab kita umumnya suka berlena
bercengkerama dengan mimpi
memasuki area maya
dan menistakan diri
dengan ilusi

maka keterjagaan
semestinya menjadi titik pangkal
bagi suatu pintu kesadaran
sebab rasa penuh sesal
selalu tak pernah dapat dibayar
termasuk menjaga ibu
yang mungkin telah jadi masa lalu

6/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Sembilan

kerinduan yang menelaga
aku rapikan dengan siasat rasa
biar riaknya tak membadai
agar riciknya tak membantai

sebab kerinduan yang bertimbun
suka menelikung di balik rimbun
yang gelagatnya sulit dicerna
dan sering pula menyulap diri jadi luka

5/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Delapan

jangan kau paksa cinta
sebagai kata kerja

kuasamu cuma bertepuk sendirian
tak ada yang bertekuk lutut bahkan
sebab bukan inti rasa pemicunya
tapi sihir sesaat yang kodian
dan gede rasa berlebihan

maka jangan kau minta cinta
untuk berhimpun
ketika sedikit getar pun
nihil adanya

4/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Tujuh

kegandaan telah lama membagi resah
seperti rel, di ujung tetap terpisah
seperti juga hidup, penuh ketaksaan
: kita harus menggariskan pilihan

bahkan saat tak berhasrat memilih
dua kemungkinan terus menunggu
dan tak kurangnya menawarkan perih
seirama berjinjitnya waktu

3/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Enam

tak perlu kau merasa merana
jalan saja sebagaimana harusnya
jangan pedulikan pendaku karibmu
tapi alpa akan langkah baru
yang tengah kau mulai

jangan hiraukan mereka
yang pandai menyebut diri
yang nyatakan seiman denganmu
tapi lebih suka senyap saja
dan begitu meriah sambut hari
padahal milik engkau punya seteru

memang kelatahan yang berkuasa
sadar diri bagai suatu yang langka

2/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Lima

aku tersuruk dalam kekalutan
kiri-kanan kemacetan pikiran
depan-belakang kekalutan nalar
atas-bawah kenarsisan mengular
di mana-mana kedok berpesta
mengobral kata

tapi terima kasih
kesemuanya lekas jadi karib
lantas menjagaku dari kekelaman
dan tetap ada yang masih
yaitu latihan mengasah nasib
sebab kita jua yang tentukan jalan

selain Dia

1/10/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Empat

mencintaimu
dengan rintik kata
taruhlah sebagai masa lalu
sebab menjaga
dan menempatkanmu
dalam istana di jiwa
lebih punya mutu

maka tak perlu
kata cinta itu lagi
memang penting buatmu
belajar menimbang hati
dengan neraca kalbu
dan percaya sepenuh diri
akan perhatianku

30/9/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Tiga

masih dalam kuasa rinai
tangkap saja ia sebagai amsal
atau pereda panas tak tepermanai
yang kau idap lantaran rasa kesal
suka mengada di catatan pagimu
padahal kau ingin betul seperti ilmu
dikejar sampai negeri tirai bambu

agaknya rehat yang kau perlukan
ruang di otakmu telah sesak
jendela hati coba kuakkan
biar kesumpekan tak berdesak
dan sisa harimu berbianglala
penuh hasrat dunia
penuh gairah nirwana

29/9/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Dua

Cinta tak mensyaratkan kata. Rasa,
jiwa utamanya, mancar bagai turbin
dalam seruas doa dan kuasa. Setia.
Sampai entah dan di alam lain.
Mungkin.

Tapi yang meluas itu cinta; sebagai
kata. Kita tahu, ia cepat menguap
tanpa beban dan amat santai
sehingga jangan terlalu punya harap.
Atasnya.

28/9/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh Satu

kulesatkan anak rinduku agar ia mendewasa
berpinak asmara dan menabur benih cinta
menjadi pohon randu yang ceiba
lantas melintas-lintas tanpa henti
mengimbangi segenap risau hati

tangkaplah anak rinduku itu
niscaya serat kapuk sayang menyelimuti
sehingga bukan dengki yang kau tabung
tapi menghargai sesamamu
dengan rasa yang bermuara dari nurani
bukan dari kalkulasi menuai untung

27/9/16

Sajak Kedua Ratus Tujuh Puluh

Mengendarai kelelahan, aku luluh
tanpa keluh. Rasa menyerah
kuganti gairah
yang kuletupkan
sebab pasrah
tak selamanya layak sebagai kawan.

Namun aku sungguh punya batas. Aroma
pereda dan peringan beban
mengepungku, memaksaku
tiarap
supaya aku masih punya harap.

26/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Sembilan

kuhentikan waktu
cakrawala pun terkesima
berkejaran dengan pesona
berdekapan dengan bahagia

ada-ada saja
bahkan matahari hendak kita bawa
bersama salju yang kita rindu
serta setangkup bianglala
bagi hiasan waktu

yang kita alpa
melesatnya sekawanan jemu
sebab dalam kehentian yang tiada
tak akan menggericik
bahkan untuk sebuah titik

kita memang suka mengada-ada
tapi tak mengapa

25/9/16

Bersama Puisi

puisi menyapa pagi
pagi mengundang mentari
mentari membangunkan embun
embun menyambangi angin
angin menghalau dingin
dingin mencubit bayang
bayang mengajak awan
awan mencari pelangi
pelangi menghalangi hujan
hujan merindukan tanah
tanah membuka diri
diri menyerah kepada sunyi
sunyi mengarungi yang sejati
: abadi

24/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Delapan

seperti tak akan lagi jumpa
aku rekam setiap lekukan nuansa

luka dan nostalgia erat berpelukan
mimpi dan harap mengemas tujuan
seketi riwayat perlahan menyatu
menjadi rubaiyat yang kutunggu

aku berhikayat ke berbagai arah
melewati masa sesekali tanpa cita-cita
sementara zaman terus merekah
maka kuajak diri setia menatah cerita

sebab merasa tak lagi jumpa
penghayatan kuat menjadi senjata

24/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam puluh Tujuh

menelusuri hari berbuta-buta
sama saja menyelusur pohon tanpa buah di tangan
hanya sakit yang menggoda
rasa senang tetap cuma impian

kalender jatuh satu per satu
pagi lekas-lekas pergi
siang begitu kerontang
sore seperti dalam malu
petang sungguh tak punya energi
malam pun ditinggalkan bintang

maka elok nian kini kita memulai
dengan ingatan akan rencana
setiap jejak seperti terwarnai
oleh komposisi warna beraneka rasa

23/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Enam

di balik musibah ada hikmah
ucapmu berbasah-basah

aku tak hendak berbantah namun
aku punya banyak tetapi yang
intinya namun, namun, dan namun
dan engkau akan sulit mengerti
lantaran kau melihat musibah
sebagai celah, berkah
peluang buat satu laku serakah

hikmah tetap disediakan-Nya
caranya mungkin kita yang terbata
dalam meraba
hanya saja lakumu itu
tanpa malu

kau buru tragedi bagi proposal
sungguh genial sekaligus gombal

22/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Lima

di banjir kata masih banyak waktu
sedia menunggu sampai mewujud seloka
atau gurindam yang mengisi rindu
juga syair yang mengabarkan duka
: semuanya sebagai wacana

namun banjir bandang
dan alam yang meradang
mendukakan hampir tanpa jeda
tanpa perlu mengenali sesiapanya
tinggal kita yang harus mawas
mungkinkah juga membuat alam membuas?

21/9/16

Syair Negeri Ironi (11)

Lagi-lagi kisah petinggi negeri
Terjerat perkara sungguh ngeri
Jabatan dipakai bermain api
Entah permainan atau lupa diri

Banyak tamu adalah berkah
Silaturahmi dan banyak hikmah
Namun ada tamu yang amat ramah
Ada pula yang bikin masalah

Masalah sering kita buat sendiri
Atau orang lain mau bikin setori
Maka diperlukan punya harga diri
Atas godaan bersifat duniawi

Tapi ini tentang pejabat teras
Berkiprah di lingkungan atas
Citra negara disandang jelas
Mengapa pula ambil laku culas

Mau jadi apa negeri tercinta ini
Jika para pemimpin hanya mimpi
Pikirkan diri dan lupakan janji
Maka kemuakan wajar terjadi

Padahal umumnya orang terpelajar
Menggapai jabatan secara pintar
Tapi mengapa tak paham yang benar
Bikin masyarakat awam marah besar

Celakanya lagi ini seperti berulang
Tak jadi pelajaran bagi banyak orang
Menjadi tokoh itu tidak gampang
Redamlah kesal dan rasa berang

Oh, kapan ironi ini akan pergi
Mungkinkah kelak itu tak lagi terjadi
Sebab negeri ini sungguh berarti
Bagi saya dan banyak yang lain lagi

20/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Empat

subuh yang berkawan harapan
seperti api abadi di tengah badai
tetap memberi setitik elan
dalam resah yang terus membantai
dan mengalutkan

risau yang terus beri pukau
hanya sihir yang harus dielakkan
maka petang yang riang di ujung hari
mencumbu malam sebagai ingatan
menepikan amnesia di ruang hati

20/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Tiga

yang menjalar di benakmu
dan kau tabung sebagai catatan
kenapa tiba-tiba menguarkan jemu
setiba dirimu dari lanskap ingatan
yang merinai membasahi hati?

hatimu yang berlinang air kata
kini seperti rawa mengerontang
dihardik sunyi penuh sukacita
yang sebisa mungkin kau tentang
lantaran keheningan masih kau damba

19/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Dua

ketersesatan yang tengah mengawani
sepertinya masih kerasan dan tak peduli

ke mana pun aku bersijingkat
ia erat menggelayut ketat
kemarahanku yang hampir meledak
malah ia rangsang dengan rasa tak jenak

dan yang terjadi bukan lagi menghakimi
tapi picuan untuk perlahan memaknai

sebab setiap keterpurukan punya sayap
setiap kebuntuan punya celah harap
tinggal kita memang yang memberi harga
pada hikmah yang diam-diam mengada

18/9/16

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh Satu

pagi yang beda
lagi-lagi cuma soal rasa
sebab tak ada yang abadi
bahkan pun untuk hari

maka jika engkau ingin rasa itu lagi
samudera seolah engkau garami
itu sebabnya waktu melaju
dan alur hidup terus maju

: kita tak elok terjebak harapan semu

Sajak Kedua Ratus Enam Puluh

perjalanan mensyaratkan rehat
dan tiap alurnya sarat keseketikaan
yang menjadi penghalang
yang menjadi penunjang

aku sedang di ruas itu
mencoba bersahabat dengan waktu
sebab kalkulasiku masih timpang
maka ingin kuisi setiap rumpang
dengan rasa jujur
dengan raga penuh syukur

mari kita sama melangkah
menuju-Nya, pemberi berkah
tapi tak usahlah bertanya
kapan akan tiba

16/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Sembilan

aku tengah bersiap
pendakian berikut sama istimewanya
namun yang belum kita jamah
senantiasa ada celah
: yang menggiriskan
yang menggemaskan

nuansa tipis terus mengada
dua kutub selalu berjendela
dan yang di rumah sebelah
senantiasa ada beda gairah
padahal tak ada yang kurang di dalam
ternyata sebabnya adalah enggan
: enggan mengirim pujian
enggan bersalin kebiasaan

15/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Delapan

dalam setiap letihku
tertating asa berkarib dengan waktu
sama dikemas dalam pigura
bernama deras masa

ia sangat sering begitu deras
lantaran detik lekas bergegas
sementara aku hanya punya lelah
tanpa harga pada yang lewat
jadi betapa percuma yang telah
hanya mengarus begitu cepat

maka kumulai lagi hari
bersama langkah yang bukan berlari
tapi kuupayakan demi masa
agar sedikit saja yang sia-sia

14/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Tujuh

gemericik yang aku tunggu
masih membawa rinduku
kepada angin berisik
yang sesekali suka mengusik
dan menyelingi kaki hari
dalam langkah membangun memori

dalam gericik air yang sampai
selalu terbawa bulir padi
yang adalah karibku di kala santai
yang suka melayang dalam mimpi
di kala aroma persawahan
rajin membangun kenangan

13/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Enam

pengorbanan dan pengurbanan
bergandengan dalam perjalanan
mengalir semenjak berabad
ada yang sekadar biar tampak taat
ada yang cuma pengulangan hampa
ada pula dihayati sepenuh jiwa
dan kita sungguh tak elok mencampurinya

momen selalu kita perlukan
kerutinan telah menumpulkan rasa
keseharian banyak membuat majal
maka setiap titik menyamankan
yang memberi jeda
adalah kesempatan tengok diri dengan akal

12/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Lima

Dalam secebis gerimis
aku terus dihujani orkestra ingatan
tanpa jeda, tanpa berkata-kata
menyerindai sebagai baris
atau rumpun catatan perjalanan
yang suka berupa alpa.

Gerimis awet laiknya diformalin
suka menyelinap dalam dingin
yang mampu bekukan senyummu
dan memilih sembunyi dalam sunyi
atau kuanggap sembilu.

Karena malam terus menggerimis
izinkan aku menyapamu lewat puisi
yang dulu suka engkau kais
dari sisa kebersamaan kita yang pasi
hanya karena enggan
yang lebih kita kedepankan.

11/9/16

Sajak Kedua Ratus Lima Puluh Empat

jika kini ketakpahaman merajalela
kebingungan menjadi bunga harian
kegamangan menyebar di mana saja
semua lebih oleh cupetnya pemaknaan
termasuk ihwal kesejatian

dalam ruang yang tak berbatas
sia-sia mencari kemurnian entitas
lalulalang darah
sulit ditebak ke mana mengarah
maka tolok berbeda jadi perlu
sebab masa lalu tinggal residu
meski muskil dilenyapkan
tanpa catatan

10/9/16

No Responses

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan