Gambar Via: sooperboy.com

Contoh Surat Pribadi Untuk Ayah, Ibu, Nenek, Sahabat, Teman, dan Guru

Posted on

Contoh Surat Pribadi – Untuk Ayah, Ibu, Nenek, Sahabat, Teman, dan Guru. Contoh Surat Pribadi, Pengertian Surat Pribadi, Fungsi Menulis Surat Pribadi, Contoh Surat Pribadi untuk Ayah, Contoh Surat Pribadi untuk Ibu, Contoh Surat Pribadi untuk Sahabat, Contoh Surat Pribadi untuk Teman, Contoh Surat Pribadi untuk Guru.

Pengertian Surat Pribadi

Gambar Via: trivia.id

Surat pribadi yaitu surat yang ditulis seseorang untuk dikirimkan atau diberikan pada orang lain, entah itu teman, keluarga, saudara dan sebagainya yang isinya seputar beberapa hal pribadi. Surat pribadi menggunakan bahasa sehari-hari, karena bukan sebuah surat yang termasuk ke dalam surat resmi.

Fungsi Menulis Surat Pribadi

Gambar Via: catatangadisbali.com

Menulis yaitu kegiatan yang bermanfaat, tidak terkecuali menulis surat pribadi. Lantas, apa saja manfaat dari menulis surat pribadi itu? Berikut ini beberapa manfaat menulis surat pribadi:

Mengungkapkan Perasaan

Lewat surat pribadi, seseorang dapat mengungkapkan perasaannya, seperti permasalahan pribadi, pengalaman, perasaan, dan sebagainya.

Meningkatkan Kreativitas

Menulis surat pribadi bisa dijadikan sebagai latihan membuat tulisan. Karena dengan cara ini, orang yang menulis surat bisa mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk tulisan serta secara tidak langsung mengasah kapabilitas mereka dalam menulis.

Meningkatkan Inspirasi

Dengan menulis surat pribadi, kalian bisa menyampaikan inspirasi yang kalian punyai ke dalam surat secara bebas.

Untuk Mewakili Pribadi Seseorang

Selembar surat dapat mewakili pribadi seseorang. Pesan pribadi yang kalian tulis bisa di terima oleh orang yang kalian tuju meskipun jaraknya berjauhan. Tidak cuma itu, surat pribadi bisa pula menguatkan tali persaudaraan.

Contoh Surat Pribadi

Berikut ini beberapa contoh surat pribadi untuk berbagai tujuan, ada yang untuk teman, sahabat, ayah, ibu, nenek, dan juga guru. Kalian bisa simak dan pelajari baik-baik serta diperhatikan unsur-unsur yang ada di dalamnya:

Contoh Surat Pribadi untuk Ayah

Gambar Via: hipwee.com

Sengaja kutulis semua karena lisanku tak pernah sanggup menyuarakan segala yang peka dengan hati. Aku terlalu mudah menangis, aku terlalu ringkih untuk menyampaikan maksud baikku, Pa.

Aku kerap melarangmu menyantap cemilanku, bukan karena kikir atau alasan kotor lainnya, aku hanya tak ingin gula darahmu lepas dari kontrol dan kembali melihatmu terbaring sakit. Lebih baik kulihat kecewamu karena tak ada satu pun dari kita yang mengunyah manis, dari pada harus menuruti keinginanmu, dan menyaksikan tubuhmu merasakan segala lemah.

Biar nanti, sesekali kubuatkan kue, atau apa pun yang kau suka, tapi ingat. SE – SE – KA – LI. Bukan tiap kali kau minta. Hahahaha.

Pa, kita tahu benar jika kau bukan pria yang terlahir romantis, kau kerap kali bersuara lantang. Bukan, bukan karena kau sosok yang gemar berpelukan dengan emosi, melainkan karena tradisi keluarga. Aku paham itu setelah berulang kali ada di tengah keluargamu. Dan, tak satu pun dari mereka bisa berbisik, mereka kerap bicara lantang, tertawa, dan mengakhiri pertemuan dengan bernyanyi serta menari; kumaklumi, karena Opa memang berdarah Pakistan-India, bukan?

Pa, dulu, waktu aku masih belia, jika mama sedang marah, kau bukan memadamkan apinya, namun justru menyiramnya dengan bahan bakar, sehingga rumah yang awalnya damai, seketika menjadi penuh kecemasan. Aku, mas, dan abang menyaksikan bagaimana kalian saling berteriak, seumur hidup, akan kujadikan itu sebuah pengalaman, tak akan kuulangi di dalam rumah tanggaku kelak, karena kutahu benar bagaimana sakitnya hati seorang anak, melihat orangtuanya bertengkar.

Tapi, sekarang semua sudah kupahami, Pa. apa-apa penyebabnya, kenapa kau dan mama gemar memupuk benci dalam cinta. Kusyukuri karena semua itu hanya masa lalu. Entah bagaimana awalnya, keluarga kita justru tumbuh sabar dan insya Allah saling mencinta di jalan Allah, insya Allah.

Kau dengan segala kesabaranmu, kuyakin jika 1001 pria di dunia ini yang memiliki kesabaran yang setara denganmu, kau hebat, Pa. Akan jauh lebih hebat, jika kelak kau bisa seratus persen mengendalikan emosimu, dan marah dengan cara yang ramah. Agar tensi darahmu tak perlu meninggi, agar kau senantiasa sehat, agar kita terus bisa bersama.

Ah, benar saja kan, aku tak pernah kuat membahas hal macam ini, sudah sekuat tenaga kuatur napas, kutahan air yang ingin sekali terjun bebas dari mata. Namun? Gagal jua akhirnya. Aku masih di kantor, Pa. tak mungkin rasanya menangis di depan mereka yang tak tahu penyebabnya.

Aku memang gadis kecilmu yang mudah menangis, aku memang si bungsu yang perasaannya terlalu sensitif.

Pa, entah kapan kubisa menyuarakan kalimat ini di telingamu,

‘Puput sayang banget sama papa”

Tapi, kuyakin jika Allah tahu itu; jelas.

Pa, terima kasih karena terus ada untuk mama, terus sabar menghadapi segala situasi yang kuyakin tak semua kepala rumah tangga bisa lewati, terus rutin membersihkan kotoran kucing di rumah, karena kau memperhatikan kesehatanku sebagai anak perempuanmu. Terima kasih karena kau tak pernah merasa pekerjaan rumah adalah pekerjaan istri dan anak perempuan saja, terima kasih karena telah menjadi cinta pertamaku, dan menjadi panutan.

Maaf jika kusempat menambah daftar dosa-dosamu, maaf jika kutelat menutup rapat aurat, maaf jika dulu kusempat sulit diingatkan untuk beribadah, dan maaf untuk segala yang tak bisa kusebutkan.

Pa, kita (mama, mas, abang, kak Oni, dan aku) akan terus berusaha membuatmu bahagia, dengan cara kita. Kau akan bisa merasakan cinta kita, hanya dengan satu cara, menerima kami sebagai kami, bukan seperti mereka, karena kami bukan mereka.

Pa, tetaplah ada di sini, di hatiku, sebab kau akan selalu menjadi pria pertama kecintaanku.

Sssssssssttt.. kuakhiri surat ini ya, Pa. Masih ada yang harus kurapihkan sore ini, sampai jumpa di lantunan kata cinta berikutnya.

Salam sayang,

Anak perempuanmu satu-satunya; Puput.

Contoh Surat Pribadi untuk Ibu

Gambar Via: beritalangitan.com

Surat cinta ini untukmu. wanita kecintaan yang memiliki jenjang usia tiga puluh tahun di atasku.

Apa kau tahu, jika tiba-tiba saja aroma kopi begitu menyengat di kantorku, dan wajahmu terbayang jelas di kepalaku. Sebab, tiap pagi, kau selalu rutin menyapa cangkir yang berisi minuman kesayanganmu itu.

Ma, aku ingat jelas, bagaimana kau begitu telaten mengurus mas, abang, dan putri bungsumu ini. Aku ingat bagaimana kau selalu menyiapkan sarapan; bahkan menyuapi kita dengan perjanjian, minimal tiga sendok makan, yang pada kenyataannya kuhitung kau berhasil mengecohku hingga sepuluh kali suap. Hahahaha.

Tak apa, aku paham jika kau hanya ingin memastikan kami siap belajar di sekolah, dengan asupan makanan yang sebelumnya kau siapkan.

Kau juga sosok ibu yang tak pernah membiarkan rambut kami berantakan, yang senantiasa memastikan jika pakaian kami rapih dan licin, tak boleh ada sedikitpun kusut yang tertinggal. Bahkan kau dinobatkan ibu rumah tangga dengan kemahiran menyetrika baju tingkat tinggi. Aku bangga, Ma. Kau nomor satu dalam hal kebersihan.

Kau juga selalu membuat kita bahagia saat sampai di meja makan, karena masakanmu tak pernah terasa buruk. Kau adalah koki terbaik untukku. Guru terbaik dalam banyak hal yang bersinggungan dengan ‘tugas perempuan’.

Wejanganmu tentang banyak hal, kan selalu kuingat, dan senantiasa berhasil membuatku mengurungkan niat untuk melakukan hal yang tak perlu.

Kau selalu bilang, jika kau mendoakanku sejak dalam kandungan, dan salah satu doa yang kerap kali kau nyatakan adalah “Kalau hamba punya anak perempuan, berilah ia jodoh yang mencintai dia tulus, bukan karena nafsu, atau fisik semata.” Dan, aku yakin jika Allah mendengar doamu, Ma. Aku yakin lelaki itu sedang dalam perjalanannya, tak usah gusar, kau harus percaya jika Allah menyiapkan kebahagiaan cinta; untukku. Berkat doamu.

Ma, terima kasih karena telah bersedia menjadi sahabat terbaik, sekaligus teman debat dengan durasi paling lama. Kau manusia keras kepala yang tak pernah ingin kulepas. Kau manusia yang gemar meluapkan emosi, namun tak sedikitpun ingin kusiakan.

Mungkin, jika aku tidak terlahir dari rahimmu, aku tak akan sampai di lembar indah hidupku saat ini.

Bohong jika kita tak pernah bertengkar, karena adu pendapat denganmu selalu membuatku rindu. Kita kerap bicara dengan suara yang lantang, kau gemar menggangguku hingga kukesal, namun akhirnya? Tawa kita pecah, tak berlebihan rasanya jika kita bersyukur karena saling memiliki.

Ma, terima kasih karena selalu bersedia menyantap masakanku yang belum selezat masakanmu, atau mungkin tak akan pernah menandingi kelezatan hasil masakanmu, hahahaha. Terima kasih karena telah mendidikku dengan cara yang kuanggap tepat.

Mungkin, kau yang sekarang bukan lagi kau yang dulu. Kau sudah mudah lupa dengan segala hal. Mulai dari lupanya kamu menyimpan sesuatu, hingga sulit untuk mengingat percakapan yang baru saja telingamu dengar.

Tak apa, Ma. Aku ada di barisan paling depan, jika nantinya mereka bersiap menyerang. Dulu, kau melindungiku dengan cara yang baik dan ramah pada sesama. Dan, sekarang aku kan berusaha melindungi dengan cara yang serupa.

Aku sedang belajar, mengatur emosi yang tak perlu kuluapkan, sebab kita sama-sama tahu jika Allah senantiasa Memeluk.

Ma, lembaran hidup yang sempat kelam, cerita yang sempat buram, tak perlu lagi dikenang, sebab aku tak akan berhasil mencipta bahagia untukmu sekarang, jika kau masih saja sibuk dengan cerita-cerita duka di masa lalu.

Hmm, sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan, namun lagi-lagi aku harus segera menyudahi surat kali ini.

Harapku sama dengan surat sebelumnya, bisa berbisik tepat di telingamu,

“Ma, Puput sayang banget sama, Mama.”

Entah kapan, tapi insya Allah akan.

Terima kasih karena telah menjadi semesta yang tak pernah ingin kutukar, meski hanya sekejap pandang.

Dari anak bungsumu yang kerap menyebalkan, namun selalu kau akui jika aku begitu mudah membuatmu rindu.

Salam sayang,

Puput.

Contoh Surat Pribadi untuk Nenek

Gambar Via: teen.kapanlagi.com

Menulis surat bukan hanya bisa kita tujukan untuk mereka yang masih ada di dekat kita, namun surat juga bisa kita tujukan untuk mereka yang telah tiada, karena kata-kata akan tetap sampai lewat doa-doa yang bisa kita terbangkan, seperti ini contohnya:

Nek, Puput kangen.

Lucu ya, Nek. Seorang cucu kayak Puput bilang kangen sama Nenek. Huuu. Tapi, emang beneran kangen. Tiba-tiba aja Puput sendu pas kebayang Nenek lagi ketawa. Ngetawain lawakan yang ada di rumah ini.

Nenek apa kabar di sana? Maaf kalo gak tiap waktu kita mikirin Nenek. Maaf kalo doa yang dikirim masih terlalu sedikit. Maaf kalo cucu Nenek yang satu ini terlalu sibuk sama dunia, sampe lupa kalo ada Nenek yang senantiasa rindu doa-doa dari kita.

Nek, ada banyak kabar bahagia, lho. Ya, walaupun ada juga beberapa kabar kurang nyenengin. Puput yakin kalo nenek ada di sini, Nenek pasti happy banget deh pas tau kabar bahagianya. Tapi, Nenek juga pasti nangis kalo tau kabar kurang nyenenginnya tuh apa. Walaupun Puput sadar kalo sekarang pun Nenek pasti tau jelas; di sana.

Nek, Puput pelan-pelan udah mulai kerja pake hati, lho. Puput dapet kerjaan yang Puput suka. Tempatnya juga gak jauh. Puput pulangnya gak terlalu malem. Capeknya juga dibawa ketawa karena Puput kerja dibidang yang Puput suka. Mulainya dari bawah banget sih, Nek. Dari bawah bangeeet. Tapi, pelan-pelan naik kok, Nenek tenang aja. Kita sama-sama tau kalo ‘indah pada waktunya’ itu bukan kalimat klise dan ‘hasil yang gak pernah khianati proses’ juga kalimat nyata.

Masih jauh banget sih Nek buat bisa meluk cita-cita Puput, kadang Puput juga pingin udahan karena lelah. Tapi, Nenek tau kan? Puput gak bakal nyerah.

Nek, Puput kangen deh kalo kita lagi ngobrol berdua. Nenek nyeritain perasaan Nenek buat tiap-tiap anak Nenek. Terus Nenek nanya-nanya tentang Puput a, b, c, d. Terus kita ketawa berdua. Gak jarang juga sih kita diskusi. Ternyata, kalo Nenek udah gak di sini kayak sekarang, baru berasa ya, ocehan Nenek yang ‘itu-itu’ aja tuh ngangenin.

Puput kangen bunyi langkah kaki Nenek yang nyeret sendal. Langkah demi langkah. Sambil angkat daster Nenek yang kepanjangan.

Puput kangen linglungnya Nenek yang lupa bawa anduk kalo mau mandi, terus gak enak hati cuma buat bilang ‘Put, tolong ambilin anduk Nenek dong’ sampe akhirnya anduk ada di tangan Nenek, Nenek langsung nyengir. Lucu.

Puput kangen Nenek yang ngajarin Puput buat banyak minum air putih. Buat makan tepat waktu. Buat ngelakuin hal yang emang harus dilakuin.

Puput kangen Nenek yang suka ngeliat teh Sarseh, ketawa ngeliat kang Sule, terus ngikik kalo nonton sitkom. Akhirnya Puput sadar kalo Nenek itu ngegemesin.

Nek, bentar lagi bulan puasa, lho. Inget gak? Nenek suka bilang ‘Nenek kuat gak ya Put puasa nanti?’ Dan jawabannya bukan gak kuat, Nek. Tapi emang masanya udah abis. Tahun lalu ramadhan terakhir buat Nenek. Dan Puput bangga Nenek puasanya full. Keren.

Mudah-mudahan dengan dipanggilnya Nenek sama Allah, bisa bikin Puput, anak-anak Nenek, cucu-cicit Nenek, semua keluarga Nenek lebih rajin lagi ibadahnya ya, Nek. Karena kita sadar banget, seenggaknya, ada alasan yaitu Nenek yang selalu nunggu kiriman doa dari kita; dari sini.

Nek, makasih ya, udah mau jadi salah satu penyebab kangen yang Puput rasain. Maaf karena Puput gak sempet bilang sayang langsung di kuping Nenek. Maaf buat semua perasaan gak enak hati yang pernah Puput buat ke Nenek.

Duh, jadi netes kan air matanya. Hehehehe. Baik-baik di sana ya, Nek. Terpenting, Nenek udah gak sakit lagi.

Satu kalimat terakhir; love you so, Nek. Al-Fatihah. ♡

Contoh Surat Pribadi untuk Sahabat

Gambar Via: brodanang.wordpress.com

Jakarta, 16 Desember 2016

Untuk Naura sahabatku

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hai Naura, bagaimana kabarmu? Wah, nyatanya udah lama ya kita tidak berjumpa. Mulai sejak lulus SMP, kita belum berjumpa lagi. Bagaimana kabarmu serta keluarga kamu disana? Apakah kamu kerasan tinggal di situ? Tentu kamu udah punya banyak rekan baru ya.

Ra, sesudah lulus SMP, aku meneruskan ke SMA favorite disini. Alhamdulillah aku dapat di terima di sekolah itu. Awalnya aku ragu dengan nilaiku yang pas-pasan. Namun, namanya juga udah takdir, aku di terima di sekolah itu.

Aku bahagia sekali dapat di terima di sekolah favorite yang dahulu aku idamkan. Di sekolah itu aku jadi punya banyak rekan baru. Guru-gurunya juga baik-baik. Namun, namanya juga sekolah, banyak tugas hingga buat aku repot. Aku meluangkan menulis surat ini lantaran aku kangen sama kamu, Ra.

Bila ada waktu, kamu main dong ke tempat tinggal aku agar kita dapat bermain serta bercanda seperti dahulu. Jika memang perlu ajaklah rekan-rekan kamu agar dapat kenalan sama aku.

Sekian dulu, ya! Sampai nanti.

Sahabatmu,

Adinda Kusuma Melati

Contoh Surat Pribadi untuk Teman

Gambar Via: youthmanual.com

Surat pribadi yang ingin kalian tulis untuk teman, tidak harus ditujukan untuk satu orang saja, lho. Kalian juga bisa menuliskan sebuah surat yang lucu, namun tetap menyentuh seperti surat yang kalian tulis untuk teman sekelas kalian, seperti ini Contohnya:

Untuk kalian, keluarga gue semasa putih abu. Yap, gue ngerasa kita ini keluarga, karena kita pernah berantem hebat, kita pernah saling gak suka, tapi tiga tahun sama-sama lebih sering kita pake buat saling meluk, saling support. Gue sih ngerasanya gitu, gue harap masa putih abu kalian sama gue bukan masa yang menyebalkan, ya. Surat cinta di hari ke-23 ini gue tulis buat kalian, tulus, semoga bisa bangkitin ingatan kita, ya. Mari memeluk kenangan ramai-ramai, kawan.

Gue mulai sesuai absen, yaaa.

Buat Achmad Wirawan a.k.a bang Ucup:

Orang yang selalu angkat tangan pertama kali tiap guru mulai absen, salah satu ketua kelas RPL2, soulmatenya mamed.

Bang, yang gue tau, lo selalu usaha buat hadir di pertemuan-pertemuan RPL2, dan kenapa gue manggil lo abang? Ya, karena lo layaknya seorang abang, jail, rese, tapi juga siap ngebantu siapa aja yang butuh bantuan selama lo bisa.
Masalah rambut, lo mau gondrong atau gimana pun bebas, asal please banget, jangan ulang model rambut kayak ustad yang satu itu, ya, bang! Jangan lupa terus ketawa bahagia dan jangan berhenti marawisan!

Buat Ahmad Raditya a.k.a Farel:

Gue lupa kapan pastinya gue mulai manggil lo Farel dengan pamrih berupa lo juga mesti manggil gue Agnes, tapi yang jelas dosa gue terus nambah karena manggil lo Farel, karena semua juga tau, lo sama Farel gak mirip!

Rel, kelas satu dulu, lo jadi perbincangan hangat anak-anak karena rompi lo, iya, rompi ngojek looo!

Lo orang yang hobinya nyengir, tapi kalo udah urusan hati? Lo bisa jadi paling diem dan sok serius, paling enggak itu sih yang gue tau waktu lo masih pacaran sama temen sekelas kita.

Gue tau banget lo ngerasa kegantengan lo bertambah kalo udah sampe lapangan basket, padahal? Jujur ya, Rel? Biasaaaaa aja.

Rel, alay itu kan proses menuju kedewasaan, gue mau nanya, kira-kira kapan lo mau dewasa? Saran gue sih gak usah, pertahankan aja gelar lo yang ini, yaaa. Salam damai.

Buat Anisa Raichma Hasan a.k.a Tik:

Gak tau kenapa gue lebih suka manggil lo, Tik daripada Nisa, dan sekadar penjelasan aja, kalo Tik itu bukan berarti cantik, tapi Tik ya Tik. Titik.

Tik, lo masih inget gak waktu lo ngamuk di kelas? Di ruang 6? Gue masih inget banget, asli. Lo tau gak? Lo ngeselin! Ngamuk tiba-tiba, dibaikin gak mau, eh pas pawang lo dateng? Lo nyengir. Kan asem!

Tik, lo juga salah satu cewek tercuek di antara kita, karena lo bisa ngupil di mana aja selama lo mau, gue gak tau abis lo ngupil upilnya di ke manain.

Tik, perihal jodoh gak ada yang tau, tapi kalo emang yang kali ini yang terbaik, semoga segera sah, ya. Biar RPL2 reunian lagi di resepsi, terus pas foto rame-rame, dua mantan lo fotonya disamping lo, ya? Biar enjoy.

Buat Asep Supriadi a.k.a Asep:

Yang paling gue inget dari lo adalah saat lo cerita ke gue tentang kehidupan lo dari kecil sampe kita kenal, lo ceritain semuanya lewat tulisan, lo simpen di laptop lo, di folder yang gak bakal bisa ditemuin orang lain kecuali gue, dan? Gue salut sama lo!

Sep, gue gak pernah ada niat sedikitpun manfaatin lo, lo baiiiiik banget, sampe akhirnya suatu saat gue sadar, gue harus bisa mandiri dan gak bergantung sama lo, karena dengan begitu, waktu lo yang selama ini ke pake buat bantu gue, bisa lo gunain buat nemuin tambatan hati lo.

Sep, gue berdoa lo dapet pasangan hati yang terbaik, yang bakal jadi ibu dari anak-anak lo. Guys? Aamiin-in please. Jangan kalah sama keluhan, Sep! Semangat.

Buat Asri Safitri a.k.a Asri:

Sri, yang gue tau lo gak suka dipanggil, Sri? Detsrait?

Lo salah satu atau bahkan satu-satunya cewek yang ngomongnya cepeeet banget, muka lo jutek banget, tapi kalo udah ketawa? Juara! Kalo udah bete, judesnya nakutin parah. Lo juga cewek yang pake kerudungnya paling rapih di kelas.

Dan yang paling gue inget dari lo adalah niat lo buat nikah tanggal 17 Juli 2017, undangannya udah jadi, cuma nama mempelai prianya aja yang lo kosongin, kata lo pas dapet nanti bisa langsung ditulis. Sembarangan kaaan!

Tapi, semoga lo segera ketemu sama sosok yang pas buat namanya lo tulis di posisi mempelai pria undangan pernikahan lo 17 Juli 2017 mendatang ya, Ri. Aamiin.

Buat Elly Yulianti a.k.a Mamieh:

Elly? Mamieh? Mamih? Yap, Elly aja, ya.

Ly, lo masih inget waktu kita nyari tempat PKL bareng? Gue masih inget. Dan, kenyataannya kita emang PKL bareng, walaupun beda perusahaan tapi satu kantor.

Ly, gue inget waktu lo nangis hampir pingsan di ruang 7.

Lo yang aweeet banget sama Angga, semoga segera naik ke jenjang berikutnya, aamiin. Pokoknya, semoga panggilan Mamih Papih bisa bikin jabatan lo sama Angga sebagai Mamih Papih berjalan dengan baik buat anak-anak kalian nanti. Aamiin aamiin aamiin.

Buat Embun Wildania a.k.a Embun:

Embuuuuuuuuun, kangen gak sama gue? Honestly, gue kangen sama lo! Asli. Gue kangen godain lo, Mbun. Gue kangen lo teriak ‘Aaaaaaaa anu mah’ kalo lagi gue godain, gue inget lo sering ngajak gue shalat, gue inget lo ngamuk pas anak-anak di revit ngelakuin hal bandel (termasuk gue), gue inget lo banting pintu revit!

Mbun, Tuhan pasti kirim suami yang baik buat lo, buat nemenin hidup lo yang insya Allah makin baik. Tetap memanusiakan manusia ya, Mbun. Amisyuh!

Buat Fajar Adha a.k.a Bule:

Le, lo adalah cowok yang paling sering di bully sama anak-anak, itu kenapa gue jadi deket sama lo, karena gue gak suka aja liat lo sendirian. Eits, tapi jangan pada ciye-ciye dulu, gue sering bareng Bule ke mana-mana karena emang dia bersedia nemenin gue ke kantin, atau ke manapun.

Le, lo apa kabar sekarang? Lagi jalan ke arah mana? Cepetan balik ke arah yang selayaknya, ya, Le. Udahan main-mainnya, usia kepala dua udah lewat banyak, lho.

Le, lo tau gak? Berapa banyak anak TP sama MO yang emosi sama lo gara-gara lo sering bareng sama gue? Banyak! Mereka bilang sendiri ke gue, gak suka liat kita bareng. Ah, gila, gue ngakak! Kayaknya mereka ada rasa deh sama lo!

Le, kangen Ongky gak? Kangen kan? Sayang kan sama Ongky? Banyakin doa, samperin tempat dia istirahat, tengokin, dia juga pasti kangen banget sama lo!

Buat Fani Az Zahra a.k.a Madur:

Gak tau gimana awalnya gue jadi manggil lo Madur (Mama Durhaka), dan lo manggil gue Andur (Anak Durhaka) (untung Andur, bukan Undur, apalagi Undur-undur) *oke, gue mulai garing*

Dur, yang paling gue inget dari lo adalah? Ketawa lo. Menggelegar! Lo sabaaaaar banget ngadepin Pota, lo hebat, Dur.

Dur, lo tau apa yang paling bikin gue ngakak tiap inget lo? Yaitu, pas kita tahun baruan di puncak, Uci kesurupan, lo lagi baca doa, mundur-mundur-mundur, daaan lo jatuh dari ujung kasur, terus? Punggung lo kepentok siku lemari.

Sakit kan, Dur? Tapi karena situasi gak memungkinkan buat lo ngerintih, lo naik lagi ke kasur dan lanjut doa. Lo tegar banget, Dur.

Buat Fanisha Damayanti a.k.a Acil:

Yang satu ini paling sering nih ketemu gueee, bukan cuma di kelas, tapi bareng juga hampir tiap pulang pergi sekolah, basis 31, yoi gak, Cil?

Gue inget waktu lo pacaran di angkot sama siapa deh yang anak MM? Asli lupa gue sama namanya. Gue inget waktu lo pacaran di angkot sama Popo.

Acil lebih bersikap dewasa ngadepin pacarnya ketimbang gue yang kakuuu banget.

Cil, lo inget gak waktu kita lagi di angkot, terus di belakang angkot kita ada cowok naik motor pake helm catok, gue bilang sama lo buat liatin dia sampe dia grogi kan? Dan? Berhasil. Dia grogi. Terus gue kena batunya, karena pas kita turun, gak lama itu cowok berhenti depan gue, ngajak gue bareng, gak taunya itu cowok yang lagi PDKT sama gue, itu mantan pertama gue yang sebelumnya gue gak pernah tau mukanya kayak gimana. Gilaaak!

Buat Garry Gautama a.k.a Toyeng:

Gar, yang gue tau lo pendiem tapi saklek juga orangnya, kalo gak mau lo berani bilang gak mau.

Gar, kenapa sih lo hobi banget ketawa sambil merem? Kenapa? Kalo lo lagi asik ketawa terus kita ngilang gimana coba? *gue gak lagi rasis, lho, sumpah*

Gar, cewek yang kemaren lo bawa ke resepsi Sechil di jaga sampe nanti, ya. Kayaknya jodoh. x)) aamiin ya, Gar.

Buat Hilda Ayu Nur Fitriana a.k.a Guru Psikologi RPL2:

Hai mama termuda di RPL2, gue salah satu orang paling bahagia begitu tau lo mau serius married, apalagi setahun kemudian lo langsung ngasih gue ponakan, cewek pula! Ah, super. Gak sia-sia lo buka kelas psikologi di perpus tiap waktu kita luang, lo emang cewek paling mateng, udah keliatan banget dari dulu-dulu-dulu-dulu.

Da, langgeng sama ayahnya, Kinar, ya. Sampai maut memisahkan. Bahagia terus ya keluarga kecilnya. Aamiin. Jaga dan rawat ponakan gue penuh kasih, yaaa. Gue turut bahagia selalu atas kebahagiaan-kebahagiaan lo dan keluarga kecil lo.

Buat Ignatius Samuel Megis a.k.a Sammy tanpa Simorangkir:

Sammy, lo orang paling lemes badannya, tapi paling kerja otaknya, terutama pas produktif!

Sam, satu-satunya yang gue inget tentang lo adalah pas di bengkel, lo lagi ngerjain tugas, lagi ngoding, lo pake headset, dengerin musik, muka lo tenaaaaang banget, pas gue cabut dan gue dengerin? Itu lagu teriak-teriaknya minta ampun. Gak ngerti lagi deh gue.

Lo juga hobi cengengesan dengan beribu arti.

Buat Irfan Rachmat Setiawan a.k.a Ipank:

Pertama kali mau ngenal lo lebih jauh itu karena Resvi, temen SMP gue, mantan lo, minta tolong buat nyari tau lo tuh kayak gimana sih di sekolah. Makin tau pas lo jadian sama Mely. Aih, agak gak enak nih bahasnya, takut luka-luka yang udah sembuh malah ke buka lagi. Skip aja, ya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan