SHARE
Gambar Via: firda9284.wordpress.com

Contoh Wawancara – Wawancara (bahasa Inggris: interview) adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih serta berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Maksud dari wawancara yaitu untuk mendapatkan informasi yang tepat dari narasumber yang terpercaya. Wawancara dikerjakan dengan cara penyampaian beberapa pertanyaan dari pewawancara pada narasumber.

Ankur Garg, seseorang psikolog menyebutkan kalau wawancara bisa jadi alat bantu ketika dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/kandidat untuk sebuah posisi, jurnalis, atau orang biasa yang sedang mencari tahu mengenai kepribadiannya maupun mencari informasi.

Gambar Via: kmfh.hukum.ugm.ac.id

Dalam bidang jurnalistik wawancara jadi satu diantara cara untuk mendapatkan informasi bahan berita. Wawancara umumnya dikerjakan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekumpulan orang yang menjadi sumber berita (narasumber). Lazimnya dikerjakan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan. Sedangkan dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara umumnya dilaksanakan atas kehendak sumber berita.

Beragam Macam Jenis Wawancara

Jenis-Jenis Wawancara diantaranya:

  • Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
  • Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dulu.
  • Wawancara telepon yakni wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
  • Wawancara pribadi.
  • Wawancara dengan banyak orang.
  • Wawancara dadakan/mendesak.
  • Wawancara kelompok di mana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya.

Berhasil tidaknya wawancara tidak hanya ditetapkan oleh sikap wartawan namun juga ditetapkan oleh tingkah laku, penampilan, serta sikap wartawan. Sikap yang baik umumnya mengundang simpatik serta akan membuat suasana wawancara akan berjalan akrab dengan kata lain komunikatif. Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditetapkan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar materi tema pembicaraan baik oleh narasumber ataupun wartawan.

Jenis Wawancara Lainnya

Gambar Via: gelut.com

Dilihat dari segi pengerjaannya, wawancara dibagi jadi 3 jenis yakni:

Wawancara bebas

Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas bertanya tentang apa saja pada responden, tetapi mesti di perhatikan kalau pertanyaan itu terkait dengan data-data yang diinginkan. Bila tidak hati-hati, terkadang arah pertanyaan tidak terkendali.

Wawancara terpimpin

Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah diberi dengan daftar pertanyaan yang lengkap serta terperinci.

Wawancara bebas terpimpin

Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pengerjaannya pewawancara sudah membawa dasar tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.

Contoh Wawancara

Gambar Via: orangradio.com

Wawancara 1

Di bawah ini adalah contoh wawancara tentang pentingnya menuntut limu dengan narasumber yang merupakan seorang cendekiawan.

Pewawancara:
Selamat pagi Professor Widodo, apakah saya boleh meminta waktunya sebentar untuk mewawancarai Bapak?

Narasumber:
Selamat pagi, Adik dari mana ya?

Pewawancara:
Saya dari majalah pendidikan Pintu Ilmu, ingin mewawancarai Bapak mengenai pentingnya menuntut ilmu.

Narasumber:
Oh, kalau begitu mari langsung saja dimulai wawancaranya!

Pewawancara:
Kalau boleh, bisakah bapak menceritakan profil singkat pendidikan Bapak ?

Narasumber:
Saya pernah bersekolah di SDN 1 Tanjung Gading, kemudian saya melanjutkan SMPN 1 dan SMA 1 Suka Maju. Setelah itu saya kuliah di Universitas Terang Benderang dan mengambil jurusan Ilmu Filsafat. Saya mendapatkan gelar professor saya di Universitas Indonesia.

Pewawancara:
Sudah berapa lama Bapak menyandang gelar professor ini?

Narasumber:
Saya mendapatkan gelar professor saya dalam bidang filsafat ketika saya berumur 45 tahun, jadi kira – kira sudah 4 tahun.

Pewawancara:
Apasih yang memotivasi Bapak untuk terus belajar di hari tua Bapak ?

Narasumber:
Bagi saya ilmu adalah nafas, jadi jika saya tidak belajar atau berhenti belajar saya akan mati. Hal ini dikarenakan ilmu sangatlah penting untuk dipelajari tidak peduli berapapun umur kita karena ilmu selalu berkembang dan jika kita berhenti belajar maka kita akan tertinggal.

Pewawancara:
Jadi meskipun sudah menjadi professor pun Bapak masih belajar.

Narasumber:
Tentu, hingga saat ini pun saya masih mempelajari ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan dan ilmu – ilmu baru dengan cara belajar sendiri maupun mengajar mahasiswa. Mengajar juga bisa dijadikan sarana untuk mengajar karena mengajar bukan hanya mentransfer ilmu saja, melainkan beridiskusi dengan para mahasiswa mengenai berbagai macam hal.

Pewawancara:
Menurut Bapak mengapa sih menuntut ilmu itu penting?

Narasumber:
Ilmu adalah suatu hal yang bisa menaikan derajat kita di mata Tuhan dan manusia. Dengan ilmu kita bisa memperbaiki diri kita sendiri dan masayarakat sekitar kita. Tanpa ilmu, kita akan kembali ke jaman primitive dan kita tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Pewawancara:
Menurut Bapak sejak kapan kita mulai menutut ilmu dan sampai kapan?

Narasumber:
Nabi Muhammad SAW bersabda tuntulah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Beliau memerintahkan kita untuk terus menuntut ilmu sepanjang hidup kita di mulai dari kecil hingga kita mati. Waktu yang paling pas untuk belajar adalah ketika kita berumur 4 hingga 6 tahun karena masa-masa itu disebut dengan golden age dimana otak akan bekerja dengan sangat optimal.

Pewawancara:
Menurut Bapak bagaimana dengan dunia pendidikan kita saat ini?

Narasumber:
Pendidikan kita saat ini masih tertinggal dengan Negara-Negara maju, seperti Amerika, Inggris, dan lain – lain. Hal ini dikarenakan pemrintahnya yang belum berkomitmen untuk memajukan pendidikan di negeri ini dan juga kurangnya dan tidak meratanya pendidikan di negeri ini.

Pewawancara:
Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan kita?

Narasumber:
Pemerintah harus menyatukan tujuan mereka mau di bawa kemana dunia pendidikan ini, dengan cara memberikan kurikulum yang benar-benar baik yang tidak terus menerus mengalami pergantian. Dan juga pemerintah harus memperbaiki fasilitas dan meratakan pendidikan di negeri ini, jangan hanya berkonsentrasi di perkotaan saja, tetapi di seluruh wilayah Indonesia.

Pewawancara:
Saya kira cukup sampai di sini Prof, Terimakasih atas waktunya.

Narasumber:
Terimakasih kembali.

Wawancara 2

Gambar Via: republikmuda.com

Berikut ini adalah wawancara dengan salah satu guru SMA tentang penarikan kurikulum 2013.

Pewawancara:
Selamat pagi Pak, apakah saya bisa minta waktunya sebentar untuk wawancara?

Narasumber:
Selamat pagi, dengan senang hati, Silahkan!

Pewawancara:
Kita telah mengetahui bahwa kurikulum 2013 telah ditarik kembali dan dikembalikan ke KTSP. Bagaimana pendapat Bapak sebagai pengajar?

Narasumber:
Menurut pendapat saya langkah yang telah dilakukan oleh pemerinta ini telah tepat.

Pewawancara:
Apa alasan Bapak menyetujui langkah ini?

Pewawancara:
Sebenarnya kurikulum 2013 adalah kurikulum yang bagus karena meananamkan nilai-nilai karakter ke dalam diri siswa, tetapi kurikulum ini masih belum efektif jika ditetapkan sekarang ini karena masih banyak permasalahan-permasalahan yang mengahalangi tercapainya tujuan kurikulum baru tersebut.

Pewawancara:
Permasalahan – permasalahan seperti apa yang mengahalangi itu Pak?

Narasumber:
Banyak sekali, seperti ketiadaan buku-buku penunjang, kurang siapnya beberapa guru dan sekolah karena kurang sosialisasi.

Pewawancara:
Jadi apakah selama ini Bapak belum mendapatkan sosialisasi dari pemerintah?

Narasumber:
Kami belum mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. Selama ini kami mempelajarinya dari membaca di internet dan dari seminar-seminar yang diadakan oleh sekolah.

Pewawancara:
Lantas apa pendapat Bapak dengan dikembalikannya kurikulum ke KTSP?

Narasumber:
Pengembalian kurikulum ke KTSP membuat kami lega dan memudahkan kami kembali untuk mengajar.

Pewawancara:
Lalu apa harapan Bapak kepada pemerintah?

Narasumber:
Saya berharap pemerintah kembali merevisi kurikulum 2013 itu sehingga menjadi sempurna dan kemudian melukukan sosialisasi – sosialisasi di sekolah. Dengan begitu, kami semua bisa siap melaksanakannya.

Pewawancara:
Terimakasih atas waktu yang telah Bapak berikan, semoga harapan Bapak bisa didengar oleh pemerintah.

Narasumber:
Terimakasih kembali.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Contoh Wawancara, kami harap semoga Postingan kali ini mengenai Contoh Wawancara di atas sedikitnya dapat membantu kalian yang sedang mencari contoh-contoh Wawancara untuk lebih mengerti lagi pelajaran Bahasa Indonesia tentang Wawancara. Dan, semoga kamu juga jadi semakin mencintai Bahasa Indonesia, ya. [ki/wi]

Loading...
Loading...