SHARE
bank-syariah
Bank Syariah

Dalil Naqli adalah dalil, tanda, petunjuk atau rujukan yang bersifat teks atau nash baik Alquran maupun Hadits. Termasuk dalam Dalil Naqli (menurut saya) di sini adalah Haqq atau kesenyataan atau SunnatuLlaah atau Sunnah Allah — daun yang lepas dari tangkai dan jatuh ke bumi seiring gravitasi adalah Haqq.

Sedangkan Dalil Aqli adalah dalil selain SunnatuLlaah, Alquran dan Hadits. Dalam berdalil Aqli, Syariat akan menjadi yang utama dibandingkan aqal. Dan dalam berdalil Aqli maka tetap merujuk kepada Alquran, Hadits, Ijma’, Qiyaas. Dan tentu harus tersesuaikan dengan Sunnah Allah (Haqq).

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,

Dalil Naqli memang terfakta bisa di-Aqli-kan. SunnatuLlaah pun bisa di-Aqli-kan. Bahkan sesungguhnya Alquran dan Hadits serta merta menjadi Dalil Aqli sesaat setelah ditafsirkan oleh makhluuq bernama manusia, seperti oleh ‘aalim, ulamaa, ‘allaamah, kyai, syaikh, professor, duktuur, guru, ustaadz, dan juga oleh kita kita siapapun kita yang berijtihad meski tak berpredikat itu.

Dalil Naqli adalah teks dan konteks itu sendiri. Ketika diterjemahkan bahkan dimaknai dan ditafsirkan maka serta merta menjadi Dalil Aqli. | Jadi ternyata kita lebih dominan menggunakan Dalil Aqli dibandingkan Dalil Naqli.

Nah, bagaimana penggunaan kedua dalil ini terkhusus ketika bahas Fiqh Mu’aamalah sisi Bank Syariah? | Simpel aja. Mari ikut kaidah Fiqh. Kaidah pemahaman. Kaidah pemikiran. Lagi lagi ini urusan akal. Akal yang memaknai teks. Ada Fiqh Ibaadah. Ada Fiqh Mu’aamalah.

Al ashlu fil mu’aamalati al ibaahah hatta yadullu ad daliilu ‘alaa tahriimihaa artinya “Hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

Al ashlu fil ‘ibaadaati at tahriim, “hukum asal (ritual) ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).” | Al ashlu fil ‘ibaadaati attawaqqufi, “hukum asal dari (ritual) ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).

Perhatikan kaidah kaidah fiqh di atas yang ma’ruuf di kalangan ulama, dan disesuaikan dengan berbagai Nash baik Alquran maupun Hadits.

Dalam hal Ibadah, silahkan JANGAN KREATIF, sampai ada dalil yang memerintahkan. | Sehingga kalau ada bahasan terkait KEBOLEHAN ritual ibadah maka sangat sangat penting mengungkap dalil dalilnya.

Beda Ibadah, beda Muamalah (non ritual Ibadah). Sekali lagi ada beda signifikan urusan Ibadah dibandingkan dengan urusan Muamalah.

Dalam urusan Muamalah, jika Anda melarang-larang, maka sangat penting ada dalil. Beda dengan ketika Anda memboleh-bolehkan, maka sangat gak penting ada dalil.

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,
insurance
Loading...