Dalil Naqli dan Aqli Bank Syariah | @ahmadifham

Dalil Naqli adalah dalil, tanda, petunjuk atau rujukan yang bersifat teks atau nash baik Alquran maupun Hadits. Termasuk dalam Dalil Naqli (menurut saya) di sini adalah Haqq atau kesenyataan atau SunnatuLlaah atau Sunnah Allah — daun yang lepas dari tangkai dan jatuh ke bumi seiring gravitasi adalah Haqq.

Sedangkan Dalil Aqli adalah dalil selain SunnatuLlaah, Alquran dan Hadits. Dalam berdalil Aqli, Syariat akan menjadi yang utama dibandingkan aqal. Dan dalam berdalil Aqli maka tetap merujuk kepada Alquran, Hadits, Ijma’, Qiyaas. Dan tentu harus tersesuaikan dengan Sunnah Allah (Haqq).

Dalil Naqli memang terfakta bisa di-Aqli-kan. SunnatuLlaah pun bisa di-Aqli-kan. Bahkan sesungguhnya Alquran dan Hadits serta merta menjadi Dalil Aqli sesaat setelah ditafsirkan oleh makhluuq bernama manusia, seperti oleh ‘aalim, ulamaa, ‘allaamah, kyai, syaikh, professor, duktuur, guru, ustaadz, dan juga oleh kita kita siapapun kita yang berijtihad meski tak berpredikat itu.

Dalil Naqli adalah teks dan konteks itu sendiri. Ketika diterjemahkan bahkan dimaknai dan ditafsirkan maka serta merta menjadi Dalil Aqli. | Jadi ternyata kita lebih dominan menggunakan Dalil Aqli dibandingkan Dalil Naqli.

Nah, bagaimana penggunaan kedua dalil ini terkhusus ketika bahas Fiqh Mu’aamalah sisi Bank Syariah? | Simpel aja. Mari ikut kaidah Fiqh. Kaidah pemahaman. Kaidah pemikiran. Lagi lagi ini urusan akal. Akal yang memaknai teks. Ada Fiqh Ibaadah. Ada Fiqh Mu’aamalah.

Al ashlu fil mu’aamalati al ibaahah hatta yadullu ad daliilu ‘alaa tahriimihaa artinya “Hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

Al ashlu fil ‘ibaadaati at tahriim, “hukum asal (ritual) ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).” | Al ashlu fil ‘ibaadaati attawaqqufi, “hukum asal dari (ritual) ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).

Perhatikan kaidah kaidah fiqh di atas yang ma’ruuf di kalangan ulama, dan disesuaikan dengan berbagai Nash baik Alquran maupun Hadits.

Dalam hal Ibadah, silahkan JANGAN KREATIF, sampai ada dalil yang memerintahkan. | Sehingga kalau ada bahasan terkait KEBOLEHAN ritual ibadah maka sangat sangat penting mengungkap dalil dalilnya.

Beda Ibadah, beda Muamalah (non ritual Ibadah). Sekali lagi ada beda signifikan urusan Ibadah dibandingkan dengan urusan Muamalah.

loading...

Dalam urusan Muamalah, jika Anda melarang-larang, maka sangat penting ada dalil. Beda dengan ketika Anda memboleh-bolehkan, maka sangat gak penting ada dalil.

Sehingga ketika Anda bicara Bank Syariah dalam rangka memboleh-bolehkannya, maka gak penting ada dalilnya. Tentu Anda harus berpikir cerdas dan sudah cek bahwa yang dilakukan Bank Syariah adalah bukan yang terlarang.

Dan ketika Anda melarang hal-hal yang dilakukan Bank Syariah, maka penting bagi Anda untuk bisa sebutkan dalil pelarangannya.

Ketika saya bahas LOGIKA FIKIH BANK SYARIAH, maka yang akan dominan terbahas memang adalah KEBOLEHAN Bank Syariah. Namun, tetap akan bahas Fikih Larangan di bagian awal. Dalam fikih larangan inilah yang akan disesuaikan dengan dalil naqli pelarangan. SELEBIHNYA BOLEH, MESKI TANPA DALIL TEKS/NAQLI.

Akhirnya, perlu kita pahami bersama bahwa di dalam konteks Bank Syariah (Mu’aamalah), dalil naqli itu sangat penting diungkap oleh pihak-pihak yang melarang-larang Bank Syariah. | Jika membolehkan ya gak perlu dalil naqli.

Perhatikan dua dialog ini:

A: “Bank Syariah itu dilarang.” | B: “Mana dalilnya?” | A: “Ini lho dalil pelarangannya ….” (Maka pihak yang melarang harus menyiapkan dalil).

A: “Bank Syariah itu boleh.” | B: “Mana dalilnya?” | A: “Gak penting”. (Namun pihak yang membolehkan Bank Syariah harus tahu dalil larangannya untuk siap berargumen aja jika didebat. Jika tidak didebat ya sudah, gak apa apa. Gak perlu diungkap).

Atau bisa disebutkan bahwa dalil Naqli kebolehan Bank Syariah adalah ketika tidak nabrak dalil Naqli yang melarang atas skema dan transaksi yang dijalankan Bank Syariah.

Dan bagi pihak yang membolehkan Bank Syariah tentu perlu paham Maqaashid Bank Syariah dan juga ranah dharuriyat, hajiyat, tahsiniyat. Kita perlu tahu pertimbangan-pertimbangan kemaslahatan dan berbagai kaidah fiqh yang menyebabkan Bank Syariah itu wajib ada untuk saat ini.

waLlaahu a’lamu bishshowaab

1