Demi Menyelamatkan Ibunya, Dia Membuat Roti Menggunakan Darahnya sendiri, Tapi Tak Disangka Disambar Serigala, Namun, Akhirnya Harus Bersyukur padanya

Posted on

Erabru.net. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, dan demi dirinya (Bi Xia) ibunya tidak menikah lagi. Mereka kini hidup berdua dalam kesusahan. Kalau bukan karena bantuan pamannya, sang ibu sudah bekerja di luar daerah saat ini, dan sudah pasti tidak akan begitu banyak piagam penghargaa di rumah.

Bi Xia tahu kesempatan untuk sekolah itu tidaklah mudah baginya, ia belajar dengan tekun sejak kecil, dan prestasi di sekolahnya juga selalu berada di ranking teratas.

Namun, saat akan ujian kelulusan, Bi Xia yang lincah menjadi murung, dan baru diketahui setelah ditanya gurunya, ternyata ibunya dirawat di rumah sakit, karena kanker paru-paru stadium akhir.

Bersama Bi Xia, sang guru menjenguk ibunya Bi Xia di rumah sakit, dan ketika melihat mereka datang, ibu Bi Xia yang tampak pucat tampak seperti mau mengatakan sesuatu, namun, entah kenapa selalu tak terucap dari bibirnya.

Guru meletakkan buah-buahan yang dibawanya ke atas meja, kemudian bertanya pada paman Bi Xia : “Ibunya Bi Xia tidak apa-apa kan ! Saya juga baru tahu hal ini.”

Paman tersenyum dan menjawab : “Ibu Bi Xia telah banyak menderita demi dia, tak disangka sekarang menderita penyakit serius! Dokter bilang penyakitnya tidak bisa disembuhkan, sebaiknya dirawat di rumah.”

Mendengar hal itu, Bi Xia seketika berlutut di lantai dan sambil menangis ia berkata : “Ibu, Bi Xia minta maaf, sayalah yang membuat ibu seperti ini!”,

Kemudian Bi Xia membalikkan badannya berkata pada guru dan pamannya : “Guru, paman, saya mau berhenti sekolah, saya mau menemani dan merawat ibu!”

Bi Xia sudah membulatkan tekat ingin merawat ibunya, hingga pamannya pun mau tidak mau menyetujuinya, sementara gurunya juga tak kuasa untuk menahannya.

Setibanya di rumah yang kumuh, ibu Bi Xia yang lemah terbaring di tempat tidur, sambil memandang Bi xia, putrinya, hatinya benar-benar sedih, ia merasa bersalah, dan betapa bahagianya jika saja bisa hidup beberapa tahun lagi melihat tibanya hari gemilang putrinya ! gumamnya dalam hati.

Sementara itu, Bi Xia rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya setiap kali terbayang dengan suasana getir bersama dengan ibunya.

Tapi ia tidak boleh menangis di hadapan ibunya, karena takut sang ibu akan khawatir, jadi ia hanya menangis secara diam-diam saat sepi di malam hari.

Meskipun dokter memvonis ibunya tidak bisa disembuhkan lagi, tapi Bi Xia tidak menyerah, saat pulang ke rumah, ia langsung mencari berbagai informasi, dengan harapan bisa menyembuhkan ibunya.

Tiba-tiba dia melihat sebuah artikel, yang menyebutkan bahwa dengan merendamkan roti ke dalam darah manusia, kemudian dipanggang, sangat manjur mengobati penyakit paru-paru.

Bi Xia tampak gembira, kemudian mengambil pisau dan 3 buah roti kukus, lalu bergegas ke gunung, karena ia takut ketahuan ibunya yang pasti akan mencegah dengan hal yang dilakukannya.

Sesampainya di gunung, Bi Xia masuk ke sebuah gua dan duduk di atas tanah, kemudian mengambil pisaunya dan tanpa ragu sedikit pun langsung mengiris pergelangan tangannya.

Darah segar pun mengalir dengan deras, tapi anehnya ia tidak merasakan sakit sedikit pun, kemudian ia membasahi roti kukusnya dengan darah dari pergelangan tangannya yang terus mengucur.

Bi Xia tampak tersenyum gembira, ini adalah senyum yang terpancar dari sanubarinya, akhirnya bisa menyelamatkan ibu! Tapi tak lama kemudian, Bi Xia merasa sangat mengantuk, sekujur badannya lemas dan ingin tidur.

Dia berusaha melawan kantuknya, dan mengatakan pada dirnya sendiri tidak boleh tidur, karena ibunya sedang menunggunya di rumah!

Dia membayangkan suasana ibunya yang sembuh dari sakitnya, memikirkan masa-masa hangat bersama ibunya, dia mencubit dirinya jangan sampai tertidur, tapi akhirnya “tertidur” juga !

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan