Desa Jomblo, Banyak Pria Tua Tak Kunjung Menikah di Kampung Ini

Posted on

Lahiya – Bagaimana jika sekumpulan para lelaki jomblo berkumpul dalam satu desa yang sama? Sebuah desa di Provinsi Anhhui, China Timur ternyata memiliki banyak lelaki bujangannya.

Salah satunya adalah Xiong Jigen, lelaki lajang yang tinggal di Laoya. Bahkan uniknya, ia dijuluki ‘bujang lapuk’ karena usianya yang telah menginjak kepala empat namun belum menikah.

Begitupula dengan orang-orang yang memiliki pengalaman yang senasib dengan Jigen akan dijuluki hal yang sama. Di China, lelaki berusia 20-an tahun pada umumnya telah menikah, memiliki istri, anak, kendaraan pribadi, maupun rumah.

Jigen sendiri kemudian menceritakan kondisi desanya yang kecil.

“Tempat ini sulit dijangkau dan transportasinya sulit,”ujar Jigen seakan beralasan.

Salah satu cara termudah untuk mencapai desa tersebut adalah melalui jalur darat. Butuh satu jam lamanya untuk dapat sampai ke sana dan pastinya akan melewati medan yang sulit.

Rumah Jigen sendiri dapat dikatakan dekat dengan area hutan dengan pemandangan yang indah. Rumahnya dikelilingi pepohonan dengan kandang ayam di bagian belakang. Selain itu, terdapat ladang jagung yang terletak di bagian halaman depan rumahnya di bawah bukit.

Desa Laoya tempat Jigen tinggal memiliki arti ‘bebek tua’. Atau oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan ‘desanya para bujangan’.

Mengejutkannya, berdasarkan survey pada tahun 2014, terhitung sekitar 112 pria berusia 30 tahun hingga 55 tahun masih menyandang status sebagai bujangan. Anka tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan penduduk Laoya yang berjumlah 1600 orang.

China adalah salah satu dengan rasio jumlah penduduk lai-laki lebih tinggi dari perempuan. Setiap kelahiran 115 anak laki-laki di China, berbanding dengan kelahiran 100 anak perempuan. Begitupula dengan budaya China yang lebih mengunggulkan dan berharap adanya anak laki-laki dalam setiap keluarga ketimbang perempuan.

Bahkan tidak sedikit yang tega untuk melakukan aborsi karena anak yang dikandung bukan anak laki-laki. Hal demikianlah yang membuat angka kelahiran laki-laki di China meledak. Pemerintah pun berusaha untuk menekan angka pernikahan lelaki di China.

Keberadaan ‘mak comblang’ juga hal yang biasa ditemukan disana. Semua orang tua para lelaki bujang tersebut tentu menginginkan kehidupan yang terbaik untuk anaknya.

Tak terkecuali dengan Jigen, ia pernah menggunakan jasa mak comblang dalam usaha pencarian cintanya.

“Beberapa perempuan pernah berkunjung kesini, namun mereka pergi lagi karena mendapatakan kesan yang buruk tentang transportasi,”ungkapnya.

Saat saya dan perempuan itu berdiri di depan rumah, sayamenanyakannya apakah ia pernah jatuh cinta. Jigan pun mengaku bahwa ia pernah pacaran.

“Saya pernah pacaran sebelumnya, namun tak berhasil. Mereka mengeluh jika desa saya tak baik untuknya, terutama jalan-jalannya,”ujar Jigan.

Perempuan – perempuan di Anhui memanga akan meninggalkan desa untuk merantau di Shanghai ketika dianggap cukup dewasa. Beberapa dari mereka ingin mencari penghidupan yang lebih baik, namun tak sedikit yang mencari suami disana. Sekembalinya ke desa, mereka sudah dalam status telah menikah.

Anak-anak di China memiliki tradisi untuk merawat orang tua mereka. Begitupula dengan Jigan. Ia merawat pamanya yang sudah renta. Di Laoya sendiri bahkan penduduknya telah memiliki televisi satelit, begitu juga sepeda sebagai alat transportasinya.

Namun Laoya tetaplah terpencil. Saat para wanita mengunjungi rumah Jigan, rumahnya dirasa tidak terlalu ‘membujuk’ para wanita tersebut.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan