Di Mana Keadilan Sosial? Hanya Makan Daun Dicampur Garam, Kisah Nenek Julaeha Bikin Sesak

Posted on

Lahiya – Tak hanya hidup di daerah yang jauh dari tempat asal, seorang wanita yang sudah begitu renta ini juga tinggal seorang diri tanpa sanak saudara. Dan karena kondisi tersebut, ia harus membanting tulang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Adalah Nenek Julaeha, yang meski usianya sudah terbilang sangat renta, namun masih tetap tak boleh berdiam diri berpangku tangan jika tetap ingin makan untuk sehari-hari. Yang bikin miris adalah, tak jarang ia hanya bisa makan daun dicampur garam, seperti diwartakan Kompas.com.

“Di sini tinggal sendirian, anak sudah tidak ada, saudara juga tidak ada. Mau paksa bagaimana sudah tidak ada, ya tidak usah makan, minum air saja. Kadang makan daun saja dengan garam,” tutur Nenek Julaeha yang ditemui di kediamannya, Rabu (27/12), dikutip dari Kompas.com, Rabu (27/12/2017).

Ia sebenarnya warga Desa Sumber Suko, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Namun pada tahun 1992, ia mengikuti tetangganya ke Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara saat ada program transmigrasi.

Baca Juga: Tak Tergoda Terjun ke Dunia Politik, KSAD Jenderal TNI Mulyono: Nambah Dosa Saja!

Seiring dengan bergantinya waktu, tetangganya tersebut telah kembali ke daerah asalnya dan meninggal. Sementara Nenek Julaeha bertahan seorang diri di Kabupaten Buton sambil terus bekerja serabutan demi bertahan hidup.

Di usianya yang semakin tua, ditambah dengan kondisi kesehatannya yang makin menurun, Nenek Julaeha pun hanya bisa pasrah terbaring dalam gubuk reyot di Desa Siotapina, Kecamatan Ambuau, Kabupaten Buton, dan mengandalkan uluran bantuan dari tetangga-tetangganya.

“Kehidupan sehari-hari tidak ada beras. Dikasih uang Rp 2.000 oleh orang, Cuma beli kopi saja. Kalau sudah minum kopi sudah kenyang. Jadi kadang tidak makan tiga hari atau dua hari. kalau tidak makan, saya sakit perut, tidak ada anak-anak di sini, saudara tidak ada, orangtua tidak ada juga, ya diam saja,” kisahnya.

Baca Juga: Wow Siapa yang Sangka, Begini Ucapan Natal Bung Karno Teruntuk Sang istri. Bikin Jatuh Hati!

Menurut penuturan kepala Desa Siotapina, La Nelo, sebelum memiliki tempat tinggal sendiri, Nenek Julaeha tinggal di kebun milik orang begitu ditinggal pulang oleh tetangganya. “Kebetulan ada tanah sisa dari HPL transmigrasi kita programkan untuk nenek tersebut, dan hibahkan tanah seluas 25X20 meter.”

Rumah seadanya dari dinding papan kayu dan tripleks dan lantai tanah yang kini ditempati Nenek Julaeha berdiri atas bantuan para warga Desa Siotapina yang bergotong royong membangun rumah di tanah hibah tersebut.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan