Dikenal Vokal, 7 Pernyataan Trump Sepanjang Tahun 2017 Ini Hebohkan Dunia

Posted on

Lahiya – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjalani tahun pertamanya sebagai presiden tahun ini sejak dirinya dilantik pada 20 Januari 2017. Dia berhasil mengalahkan Hillary Clinton dari Partai Demokrat.

Trump sang pengusaha bidang properti kelas kakap sering melontarkan pernyataan yang menjadi sorotan publik serta media AS dan bahkan dunia. Kebiasaannya vokal soal isu politik juga telah ia lakukan sejak dirinya masih jadi pengusaha.

Baca juga: Jika Mourinho Didepak dari Man United, Inilah 5 Calon Penggantinya

Pada Pilpres AS 2012, Trump juga pernah mempertanyakan status kewarganegaraan Presiden Barack Obama, yang kelahiran Hawaii. Trump yang terbiasa vokal ini tetap melanjutkan kebiasaannya itu meski sudah menjadi Presiden. Berikut 7 pernyataan Trump yang kontroversial, dilansir dari Tempo.co:

26 Januari 2017

  1. Pelantikannya sebagai Presiden ditonton sejumlah orang jauh melebihi Presiden yang sebelumnya. “Jumlah penonton, saya kira, terbanyak dalam sejarah untuk pidato pelantikan, yang merupakan hal hebat.” Media AS, seperti Reuters, menyatakan bahwa klaim ini keliru lantaran penonton pelantikan Barack Obama sebagai Presiden pada 2009 jumlahnya jauh lebih banyak. Hal itu nampak dari foto dari dua event itu yang disandingkan. Gedung Putih mengatakan sejumlah 720 ribu orang hadir di lokasi, sementara Trump memprediksi kurang lebih 1,5 juta orang hadir pada pelantikannya. Jumlah tersebut masih di bawah penonton pelantikan Obama yang sampai 1,8 juta orang berdasarkan data District of Columbia.

23 Januari 2017

  1. Trump menyebut Hillary Clinton menang suara populer pada Pilpres 2016 lantaran dirinya curang. Sejumlah jutaan suara ilegal merugikan Trump karena memilih Clinton misalnya dari kalangan imigran Meksiko. Tak ada bukti sejauh ini bahwa penggelembungan suara mencapai 3 juta suara, itu menjadi selisih suara populer antara Clinton dan Trump. Penasehat hukum Trump pun turut menyatakan Pilpres tak tercemar kecurangan.

Baca juga: Mendagri Tjahjo Kumolo Minta Maaf pada Masyarakat di Malam Natal, Ini Sebabnya

18 Februari 2017

  1. Trump menyebutkan sesuatu terjadi di Swedia pada 18 Februari 2017 yang merupakan kritik sehubungan dengan kebijakan migrasi negara Eropa itu, terkait serangan teroris karangan di Swedia. Padahal serangan teroris di Swedia saat itu tidak terjadi. Media Swedia Aftonbladet mengatakan menyebutkan ketika itu tak ada peristiwa besar yang terjadi, namun hanya penyanyi lokal yang mengalami kesulitan teknis ketika rehearsal.

4 Maret 2017

  1. Trump menyebut Presiden Barack Obama menyadap Trump Tower, yang merupakan markas kampanyenya sekaligus menjadi kantornya sebagai pengusaha properti kelas atas. Trump mencuit hal tersebut di akun Twitternya @realDonaldTrump. Namun tudingan tersebut keliru. Menurut mantan Direktur Intelejen Nasional, James Clapper, kepada NBC tak ada penyadapan yang dilakukan Presiden Obama terhadap calon Presiden Trump. Pernyataan itu didukung juga oleh Kementerian Hukum serta FBI.

11 Mei 2017

  1. Soal adanya informasi tentang intervensi Rusia untuk memenangkan Trump pada Pilpres 2016, yang ditemukan lembaga intelejen AS, Trump menganggap informasi tersebut bohong. “Kamu tahu, cerita Rusia dan Trump itu hanya karangan saja. Itu alasan Demokrat karena kalah Pilpres, yang seharusnya bisa mereka menangkan.” Informasi intervensi Rusia tersebut menjadi bahan investigasi oleh penasehat khusus Robert Mueller, sekaligus mantan direktur FBI, dari Kementerian Kehakiman. Dakwaan juga dikenakan pada sejumlah orang dekat Trump walau masih tentang isu uang.

Baca juga: Ustad Somad Diusir Hong Kong, Fahri Hamzah Ikut Angkat Bicara

15 Agustus 2017

  1. Trump menuding kelompok unjuk rasa tandingan di Charlottesville bahwa mereka tak memiliki izin. Trump pun dinilai memberikan pembelaan terhadap kelompok nasionalis kulit putih yang berunjuk rasa sehingga menimbulkan badai politik di Washington DC. Berdasarkan temuan NBC News, dua demo yang saat itu berlangsung sudah memiliki izin. Kedua kelompok pun menyuarakan sentimen mereka terhadap satu sama lain, juga sempat terlibat kontak fisik sampai harus dilerai polisi.

10 Agustus 2017

  1. Trump mengklaim bawha warga serta perusahaan AS membayar pajak paling tinggi di dunia. “Kita akan kurangi bayaran pajak,” kata Trump. Klaim Trump itu keliru menurut Tax Policy Center. Pernyataan Trump tersebut sering diulang-ulang sejak masa kampanyenya sampai tahun pertama masa kepresidenannya. Akhirnya Trump berhasil menggolkan undang-undang yang memangkas pajak perusahaan di AS senilai US$1,5 triliun (sekitar Rp20 ribu triliun) pada Desember ini.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan