Home Fikih Doa Mandi Wajib, Niat Mandi Junub, dan Tata Cara Mandi Wajib

Doa Mandi Wajib, Niat Mandi Junub, dan Tata Cara Mandi Wajib

SHARE

Doa dan Niat Mandi Wajib. Adakah doa mandi junub? Atau cukup bismillah saja? Berikut penjelasan lengkap beserta pertanyaan seputar mandi junub.

Jawaban ini kami sarikan dari Konsultasisyariah.com

Kami tidak mengetahui adanya doa apapun baik sebelum maupun sesudah mandi junub. Yang ada adalah membaca basmalah sebelum mandi. Ulama berbeda pendapat, apakah ada anjuran untuk membaca basmalah sebelum mandi junub?

Terdapat sebuah hadis dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (membaca basmalah) sebelum wudhu.”

Status hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad 11371, Ibnu Majah 429, dan yang lainnya. Dan ulama berbeda pendapat dalam menilai hadis ini. Sebagian ulama menilainya sebagai hadis hasan. Seperti al-Albani. Dan ulama lain menilainya dhaif. Karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Rubaih bin Abdurrahman dan Katsir bin Zaid yang statusnya dhaif jika sendirian.

(Ta’liqat Musnad Ahmad, 17/464).

Bagi ulama yang menshahihkan hadis ini, mereka berbeda pendapat, apakah hukum membaca basmalah sebelum mandi junub?

loading...

Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa membaca basmalah hukumnya wajib, baik ketika wudhu, mandi, maupun tayamum.

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, pendapat Abu Bakr, Hasan al-Bashri, dan Ishaq bin Rahuyah.

Kedua, basamalah hukumnya anjuran dalam semua kegiatan mensucikan diri dari hadats. Baik wudhu, mandi, maupun, tayammum.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad menurut riwayat yang masyhur. Al-Khallal mengatakan,

الذي استقرت الروايات عنه أنه لا بأس به يعني إذا ترك التسمية

Riwayat-riwayat yang shahih dari Imam Ahmad, bahwa tidak membaca basamalah hukumnya boleh. (al-Mughni, 1/114)

Dan ini pendapat at-Tsauri, Imam Malik, Imam as-Syafii, Abu Ubaid bin Sallam, Ibnul Mundzir, dan ulama Kufah. (al-Mughni, 1/114)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa membaca basmalah tidak wajib ketika mandi, karena mandi junub tidak sebagaimana wudhu.

Jika kita mengambil pendapat mayoritas ulama, maka di sana ada anjuran untuk membaca basmalah sebelum mandi. Dan boleh saja orang menyebutnya sebagai doa mandi junub.

Allahu a’lam

Pertanyaan-pertanyaan Seputar Mandi Junub

1. Setelah Mandi Junub, Apakah Masih Perlu Berwudhu?

Setelah kita mandi wajib, apakah masih perlu berwudhu?

Jawaban:

Seseorang yang ingin mengerjakan shalat setelah melaksanakan mandi junub secara syar’i, sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak wajib berwudhu lagi. Alasannya, apabila seseorang bersuci dari hadats besar, maka otomatis dia juga bersuci dari hadats kecil yang mengenainya.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ وَصَلاَةَ الْغَدَاةِ وَلاَ أَرَاهُ يُحْدِثُ وُضُوْءًا بَعْدَ الْغُسْلِ

Dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi, lalu shalat dua rakaat, dan saya tidak melihat beliau berwudhu lagi setelah mandi.” (Hr. Abu Daud: 259, Ahmad 6/119 dengan sanad shahih)

Hal ini berlaku bagi yang sudah berwudhu saat mandi janabat, maupun belum berwudhu saat mandinya. (Lihat: Shahih Fiqhus Sunnah, Syekh Abu Malik: 1/181)

Wallahu a’alam.

Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 12, tahun ke-7, 1430 H/2009 M.

2. Mandi Wajib Pakai Sampo dan Sabun

Apakah boleh mandi junub tanpa pake sabun atau shampo. Misalnnya pas di perjalanan tidak bawa sabun atau shampo. Thank’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Rukun mandi besar ada dua:

  1. Niat melakukan mandi besar, sesuai latar belakang dia melakukan mandi. Jika dia mandi besar karena junub, maka dia berniat mandi untuk menghilagkan hadats besar. Dan jika dia mandi besar untuk jumatan, maka dia berniat mandi hari jumat.
  2. Membasahi seluruh badan dengan air, dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki.

(al-Wajiz fi Fiqh as-Sunah, hlm. 51).

Mengenai tata cara membasahi seluruh badan dengan air, ada riwayat dari Aisyah dan Maimunah yang menceritakan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi.

Dalam penjelasannya, Aisyah mengatakan,

ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Demikian pula yang diceritakan Maimunah. Beliau mengatakan,

ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Selanjutnya, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dalam hadis di atas, tidak ada penjelasan mengenai alat pembersih yang digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti daun bidara. Karena itu, bukan syarat mandi junub, harus menggunakan sabun atau shampo.

Lajnah Daimah – lembaga fatwa Saudi – pernah ditanya menyenai hukum menggunakan sabun atau alat pembersih lainnya ketika mandi besar.

Jawaban Lajnah,

يجب الغسل من الجنابة بالماء ولا يجب فيه استعمال المنظفات كالصابون ونحوه وهذا هو الذي دلت عليه سنة النبي صلى الله عليه وسلم . وإن استعمل الصابون أو نحوه ، من المنظفات فلا بأس

Yang wajib ketika mandi junub adalah menggunakan air, dan tidak wajib menggunakan alat pembersih seperti sabun atau semacamnya. Demikian seperti yang dijelaskan dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun ketika seseorang menggunakan sabun atau alat pembersih lainnya , hukumnya dibolehkan. (Fatawa Lajnah Daimah, 5/315).

Kesimpulannya:

Mandi junub boleh dilakukan tanpa sabun maupun shampo, dengan syarat semua anggota tubuh basah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

3. Mandi Wajib Setelah Berhubungan Intim

  1. Saya ingin bertanya.. apakah setelah berhubungan intim.. wanita dan laki-laki diwajibkan mandi besar/wajib???
  2. Kapan wanita diwajibkan mandi besar/wajib ??

Sukron ya ustadz.. Wassalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Jawaban:

Pertama,
Laki-laki dan wanita jika keduanya berhubungan intim (jimak) maka mereka wajib mandi besar/wajib, meskipun tidak sampai keluar mani. Dalilnya adalah sabda Rosululloh, “Apabila seorang laki-laki duduk di antara 4 anggota badan lalu meyetubuhinya, maka ia wajib mandi.” (HR. Bukhori) dalam lafaz Muslim: “Meskipun tidak keluar mani”.

Kedua,
Wanita diwajibkan mandi besar/wajib apabila:

a. Keluar mani baik dalam keadaan sadar ataupun ketika sedang tidur.

Dalilnya adalah Dari Ummu salamah istri Rosululloh, dia berkata, “Ummu Sulaim datang kepada Nabi kemudian berkata, ‘wahai Rosululloh, sesungguhnya Alloh tidaklah malu atas kebenaran, Apakah wajib bagi seorang wanita untuk mandi jika ia bermimpi?’ maka Rosululloh menjawab, ‘Ya, jika dia melihat air.’” (HR. Bukhori Muslim)

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa apabila seorang wanita mimpi kemudian ketika bangun dari tidurnya dia melihat adanya bekas air (air di sini maksudnya adalah air mani) maka wajib atasnya mandi.

b. Setelah selesai masa haid atau nifas wanita diwajibkan mandi besar.

Dalilnya firman Alloh,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqoroh: 222)

Dan juga sabda Rosululloh dari ‘Aisyah bahwa Rosululloh berkata kepada Fatimah binti Abi hubais, “Jika kau mendapati haid maka tinggalkanlah sholat, apabila telah selesai maka mandi dan sholatlah.” (HR. Bukhori Muslim). Mandi di sini maksudnya adalah mandi wajib. Sedangkan untuk nifas maka telah terjadi ijma’ bahwa nifas itu sama hukumnya seperti haid (Al Wajiz hal. 51).

c. Jimak

Dalilnya sebagaimana yang telah disebutkan pada nomor 1.

Maroji:

  1. Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz karangan Syaikh Abdul ‘Azhim Al-Badawi.
  2. Taisirul ‘alam Syarh Umdatul Ahkam karangan Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman bin Sholih Ali Bassam.
  3. Majmu Fatawa Syaikh Utsaimin.

***

Penanya: Alif
Dijawab Oleh: Abu Uzair Boris Tanesia (Staf Pengajar LBIA)
Murojaah: Ustadz Abu Sa’ad

Sumber: muslim.or.id

4. Lupa Mandi Janabah

Assalamu’alaikum

Saya sedang hamil, usia kehamilan saya 8 minggu. kadang2 mengalami mual. ketika sehabis melakukan hubungan intim saya lupa mandi janabah, hanya mandi biasa. kejadiannya pagi, setelah mandi saya melakukan sholat dzuha, kemudian sholat dzuhur dan ashar. ketika hendak sholat maghrib saya baru teringat akan rambut saya yang masih kering dan belum di sisir. dari situ saya merasa kalo tadi pagi saya lupa mandi janabah. begitu ingat langsung mandi dan melaksanakan sholat maghrib karna sudah masuk waktu maghrib. bagaimana dengan sholat yang sebelumnya saya lakukan? apa saya harus mengulang atau bagaimana?

Mohon petunjuknya… jazakallahu khoiron katsiron

Wassalamu’alaikum

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat sah shalat adalah suci dari hadats besar maupun kecil.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

”Shalat tidak akan diterima yang dikerjakan tanpa bersuci.” (HR. Muslim 224, Nasai 139, Abu Daud 59, dan yang lainnya).

Kemudian, ulama sepakat, orang yang shalat dalam keadaan berhadas, shalatnya tidak sah, baik dia sadar maupun tidak sadar.

An-Nawawi  menegaskan,

أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدت وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء إن كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه إن صلى جاهلا أو ناسيا فلا إثم عليه وإن كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة

Kaum muslimin sepakat haramnya shalat bagi orang yang berhadats. Mereka juga sepakat shalat yang dikerjakan orang yang hadats tidak sah, baik dia sadar dirinya hadats atau dia tidak sadar, atau dia lupa. Hanya saja, jika dia shalat karena tidak tahu dirinya berhadats atau karena lupa, dia tidak berdosa. Dan jika dia tahu sedang berhadats dan tahu haramnya shalat dalam keadaan hadats, berarti dia telah melakukan dosa besar. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/67).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh al-Mardawi – ulama hambali – (w. 885 H),

لو انتبه بالغ أو من يحتمل بلوغه. فوجد بللا، جهل أنه مني: وجب الغسل مطلقا على الصحيح من المذهب

Ketika ada orang baligh terbangun dan dia menjumpai ada yang basah, sementara dia tidak tahu bahwa itu mani, maka dia wajib mandi secara mutlak menurut pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. (al-Inshaf, 1/228)

Shalat yang Telah Dikerjakan, Wajib Diulangi

Mengingat shalat yang dikerjakan ketika junub statusnya batal, maka dia wajib mengulangi setelah mandi.

Al-Mardawi menegaskan,

وحيث وجب عليه الغسل فيلزمه إعادة ما صلى قبل ذلك

“Karena dia wajib mandi, maka dia harus mengulangi semua shalat yang telah dia kerjakan.” (al-Inshaf, 1/228)

Mengenai Teknis qadha shalatnya, telah dijelaskan Lajnah Daimah, ketika menjawab pertanyaan yang diajukan, bahwa ada orang yang mengalami hadats kemudian dia lupa. Dalam kondisi lupa junub tersebut, dia telah melaksanakan shalat 5 waktu. Dia baru ingat, ketika menjelang zuhur di hari berikutnya. Apa yang harus dilakukan orang ini?

Jawaban Lajnah Daimah,

إذا كان الواقع كما ذكر فصلاته الصلوات الخمس وهو جنب باطلة لكنه لا إثم عليه؛ لأنه معذور بسهوه، وعليه أن يغتسل من الجنابة حين تذكر، ويعجل بقضائها مرتبة ‏.

Jika realitanya seperti yang anda tanyakan, maka semua shalat 5 waktu yang telah dia kerjakan dalam keadaan junub statusnya batal. Hanya saja dia tidak berdosa. Karena dia memiliki udzur, yaitu lupa. Dia wajib segera mandi besar ketika ingat, dan segera mengqadha semua shalat yang telah dia kerjakan secara berurutan.

(Fatawa Lajnah Daimah, no. 7223)

Allahu a’lam

5. Shalat Dalam Keadaan Junub Karena Lupa

mandi-junub

Pertanyaan:
Pak ustad, saya mau Tanya. Saat bangun tidur malam saya melakukan shalat isya dan tahajud. Setelah shalat, saya bru ingat bahwa tadi saat tidur saya mimpi basah, tapi itu saya ingat setelah shalat. Apakah shalat yang saya kerjakan itu batal?

Dari: Shawaiz

Jawaban:
Bismillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

Orang yang shalat dalam keadaan belum bersuci, baik dari hadas besar maupun hadas kecil, shalatnya batal dan wajib diulangi setelah bersuci dengan kesepakatan ulama.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (kitab Madzhab Syafi’i) mengatakan, “Kaum muslimin sepakat, haramnya shalat bagi orang yang berhadas. Mereka juga sepakat bahwa shalatnya tidak sah, baik dia sadar bahwa dia hadas atau tidak sadar, atau lupa bahwa dia sedang berhadas. Hanya saja, orang yang shalat sementara dia tidak sadar atau lupa bahwa dia sedang hadas maka dia tidak berdosa. Namun jika ada orang yang shalat, sementara dia sadar bahwa dirinya sedang hadas dan dia tahu bahwa shalat dalam keadaan hadas hukumnya haram, maka orang ini telah melakukan perbuatan dosa besar.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2: 67).

Bagaimana jika sudah melewati beberapa shalat?

Jawab: harus diulangi semuanya dalam satu waktu setelah teringat dan seusai bersuci. Misalnya, junub di malam hari dan baru ingat di waktu ashar. Ketika ingat dia langsung mandi dan mengerjakan tiga shalat: subuh, zuhur, dan asar di waktu asar.

Apakah harus berurutan sesuai dengan urutan shalat wajib?

Jawab: Dilaksanakan sesuai dengan urutan shalat wajib. Pendapat tiga imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa mengerjakan beberapa shalat dengan qadha wajib dilakukan dengan tertib (berurutan). (Al-Mughni, 2:336)

Dalilnya adalah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengqadha beberapa shalat pada saat perang Khandak. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat ashar pada hari perang Khandak setelah matahari terbenam kemudian setelah itu beliau shalat maghrib. (HR. Bukhari & Muslim)

Disadur: islamqa.com

6. Mandi Wajib di Kolam Renang

Assalamu’aikum Ustadz, bagaimana cara mandi wajib/junub jika di sungai atau empang? (bukan di kamar mandi). Apa stlh baca niat langsung nyemplung aja. Syukron

Dari Boy

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Para ulama menyebutkan bahwa mandi wajib ada 2 hukum,

  1. Mandi wajib yang sempurna (al-Ghaslu al-Kamil)
  2. Mandi wajib yang memiliki status minimal sah sebagai mandi wajib (al-Ghaslu al-Mujzi’)

Pertamaal-Ghaslu al-Kamil, mandi wajib yang nilainya sempurna.

Itulah mandi wajib yang memenuhi semua rukun dan sunah-sunah dalam mandi.

dan ciri khas mandi wajib yang sempurna, sebelumnya didahului dengan membersihakn organ intim kemudian dilanjutkan dengan wudhu.

Keduaal-Ghaslu al-Mujzi’, yaitu mandi yang memiliki status minimal sah.

Itulah mandi junub yang HANYA memenuhi bagian yang menjadi rukun saja, tanpa melakukan sunah-sunah mandi.

Dan rukun mandi ada 2 (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/72):

  1. Niat untuk membersihkan hadats besar atau berniat untuk mandi besar
  2. Membasahi seluruh tubuh dengan air, dari ujung rambut hingga ujung kaki

Al-Mubarokfuri menukil beberapa keterangan ulama,

وقالوا إن انغمس الجنب في الماء ولم يتوضأ أجزأه يعني الوضوء ليس بواجب في غسل الجنابة وهو قول الشافعي وأحمد وإسحاق وهو قول أبي حنيفة وأصحابه قال الشافعي في الأم فرض الله تعالى الغسل مطلقا لم يذكر فيه شيئا يبدأ به قبل شيء فكيفما جاء به المغتسل أجزأه إذا أتى بغسل جميع بدنه

Para ulama mengatakan, ketika orang yang junub membasahi dirinya ke dalam air, dan tidak wudhu maka mandinya sah. Artinya, wudhu itu tidak wajib dalam mandi junub. Ini adalah pendapat as-Syafii, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah dan ulama madzhab hanafiyah. as-Syafii dalam al-Umm mengatakan, ‘Allah mewajibkan mandi secara mutlak. Tanpa menyebutkan sesuatu yang harus dikerjakan sebelumnya. Karena itu, apapun cara yang dilakukan orang yang mandi junub maka mandinya sah, selama dia membasahi seluruh tubuhnya.’

Al-Mubarokfuri juga menukil keterangan adanya ijma ulama,

قال بن عبد البر هو أحسن حديث روي في ذلك فإن لم يتوضأ قبل الغسل ولكن عم جسده ورأسه ونواه فقد أدى ما عليه بلا خلاف لكنهم مجمعون على استحباب الوضوء قبل الغسل

Ibnu Abdil Bar mengatakan, hadis A’isyah adalah hadis terbaik yang menjelaskan masalah tata cara mandi. Namun jika seseorang tidak wudhu sebelum mandi, akan tetapi dia membasahi seluruh badannya dan kepalanya, serta berniat mandi junub, maka dia telah melakukan mandi junub yang sah, tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Akan tetapi mereka sepakat, bahwa dianjurkan wudhu sebelum mandi.

(Tuhfah al-Ahwadzi, 1/299)

Berdasarkan keterangan di atas, orang yang junub kemudian dia mandi di kolam renang atau di empang atau dia mengguyur air ke seluruh badannya, selama diiringi niat untuk mandi besar maka sah mandinya dan suci dari hadas besar.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

7. Puasa Tanpa Mandi Wajib

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu diantara pertanyaan yang sangat sering nyangkut di KonsultasiSyariah.com, ketika orang junub di malam hari ramadhan, baik karena mimpi basah maupun karena hubungan badan, atau karena onani, kemudia belum madi hingga masuk subuh, apakah puasanya sah. Kasus yang sering terjadi, mereka junub di malam hari dan ketiduran, kemudian bangun sudah masuk subuh.

Karena ketidak tahuannya, ada sebagian orang yang enggan puasa karena belum mandi junub ketika masuk subuh. Yang lebih parah lagi, ada yang tidak shalat subuh karena melanjutkan tidur hingga pagi hari. Padahal semua tindakan ini, meninggalkan shalat atau tidak puasa tanpa alasan, adalah dosa sangat besar. Sementara, belum mandi ketika masuk waktu subuh, BUKAN alasan yang membolehkan seseorang meninggalkan puasa. Dan meninggalkan puasa tanpa asalan yang benar mendapatkan acaman sangat keras, sebagaimana keterangan di: Hukum Membatalkan Puasa Tanpa Alasan

Belum Mandi Ketika masuk Waktu Subuh

Bukanlah syarat sah berpuasa, seseorang harus suci dari hadats besar atau kecil. Ini berbeda dengan shalat atau thawaf di ka’bah. Orang yang hendak shalat atau thawaf, harus suci dari hadats besar maupun kecil. Dan jika terjadi hadats di tengah-tengah shalat maka shalatnya batal. Lain halnya dengan puasa, suci dari hadats bukanlah syarat sah puasa. Tidak bisa kita bayangkan andaikan puasa harus suci hadi hadats, tentu semua orang yang puasa akan sangat kerepotan. Karena mereka tidak boleh kentut atau buang air selama berpuasa.

Oleh karena itu, orang yang junub dan belum mandi hingga subuh, tidak perlu khawatir, karena semacam ini tidaklah mempengaruhi puasanya. Dalil pokok masalah ini adalah hadis dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma; mereka menceritakan,

كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).

At-Tumudzi setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَغَيْرِهِمْ، وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ

Inilah yang dipahami oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Dan ini merupakan pendapat Sufyan At-Tsauri, As-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. (Sunan At-Turmudzi, 3/140).

Bolehkah Sahur dalam Kondisi Junub?

Ketika ada orang junub bangun tidur di penghujung malam, dia berada dalam keadaan harus memilih antara mandi dan sahur, apa yang harus didahulukan?

Dari penjelasan di atas, kita punya kesimpulan bahwa mandi junub tidak harus dilakukan sebelum subuh. Orang boleh mandi junub setelah subuh, dan puasanya tetap sah. Sementara sahur, batas terakhirnya adalah subuh. Seseorang tidak boleh sahur setelah masuk waktu subuh. Dengan menimbang hal ini, seseorang memungkinkan untuk menunda mandi dan tidak mungkin menunda sahur. Karena itu, yang mungkin dia lakukan adalah mendahulukan sahur dan menunda mandi.

Hanya saja, sebelum makan sahur, dianjurkan agar berwudhu terlebih dahulu. Sebagaimana keterangan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه للصلاة

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.” (H.r. Muslim, 305).

Jika Hendak Shalat Subuh, Mandi Dulu

Perhatikan, jangan sampai kondisi junub ketika puasa membuat anda meninggalkan shalat subuh, disebabkan malas mandi. Karena meninggalkan shalat adalah dosa yang sangat besar. Sebelum shalat, mandi dulu, karena ini syarat sah shalat.

Allah berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Jika kalian dalam keadaan junub, bersucilah..” (QS. Al-Maidah: 6)

Demikian, semoga bermanfaat.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits

8. Mimpi Basah

Assalamu’alaikum ustadz…

Usia saya masih muda, saya pernah mimpi basah tapi saya ragu untuk mandi besar, karena pada saat sperma saya mau keluar di dalam mimpi, mimpinya tiba-tiba tak berlanjut ( sperma gak keluar ).

Setelah itu tangan saya suka usil. Kemaluan saya, saya usilin dan keluar sperma dengan sendirinya. Saya semakin ragu untuk mandi besar. Pertama karena saya anggap saya belum mimpi basah. Kedua karena saya keluarkan sperma diluar mimpi basah. Pertanyaannya apakah saya harus mandi besar, karena saya ragu untuk mandi besar. Trims

Dari M. Adrian

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Masalah kewajiban mandi junub, tidak dikaitkan dengan mimpi dan bukan mimpi. Karena mimpi dalam islam, tidak dihitung sebagai amal. Amal baik maupun amal jahat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رفع القلم عن ثلاثة عن المجنون المغلوب على عقله حتى يفيق وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبى حتى يحتلم

“Pena catatan amal itu diangkat (tidak dicatat amalnya, pen.), untuk tiga orang: orang gila sampai dia sadar, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia balig.” (HR. Nasa’i 3432, Abu Daud 4398, Turmudzi 1423, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth)

Karena itulah, aturan mengenai mimpi basah dikaitkan dengan keluarnya mani.

Masalah mimpi, terkadang orang lupa. Dan terkadang orang tidak terasa bermimpi tapi keluar mani. Apapun itu, selama anda keluar mani, maka wajib mandi.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

Ada seorang sahabat wanita yang bernama Ummu Sulaim, beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ، فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟

Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi junub ketika dia bermimpi?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ المَاءَ

”Ya, apabila dia melihat air mani.”

Mendengar dialog ini, Ummu Salamah tersenyum dan keheranan, “Apa wanita juga mimpi basah?” kemudian direspon oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، تَرِبَتْ يَمِينُكِ، فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا

“Ya jelas, lalu ada dari mana ada kemiripan anaknya.” (HR. Bukhari 3328 & Muslim 313).

Berdasarkan hadis di atas, orang yang mengalami mimpi basah ada dua keadaan:

Pertama, dia melihat ada bekas air mani. Selema orang yang bangun tidur melihat bekas air mani, dia wajib mandi besar, sekalipun dia tidak ingat mimpinya.

Kedua, dia tidak melihat bekas air mani, artinya tidak ada yang keluar. Dalam kondisi ini, dia tidak wajib mandi, sekalipun dia ingat betul ketika tidur dia mimpi melakukan hubungan badan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

SHARE

1 COMMENT

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan