Ekonomi China Terseok-Seok, Rupiah Pun Anjlok | @Strategi_Bisnis

rupiah melemah dari dollar

Dolar akhirnya tembus 14000 – anjlok 40% dari posisi 10 ribu. Apakah akan membaik atau justru makin kolaps ke 15000?

Reminder. Dihitung dalam dolar, nilai gajimu sudah tergerus 40%. Bgm rasanya gajimu dipotong 40%? Pahit.

Dolar 14 ribu relatif memukul banyak  pelaku bisnis. Harga barang-barang ikut naik. Kalau harga naik, omzet penjualan cenderung menurun. Sepi.

Kenapa rupiah bisa anjlok sedemikian parah? Salah satu sebab utamanya : karena sang raksasan Tiongkok sedang termehek-mehek ekonominya.

Raksasa ekonomi Tiongkok adalah kekuatan no 2 dunia. Saat ekonominya woles, seluruh dunia ikut woles. Konsekuensi dari borderless world economy.

Kenapa Tiongkok slow down? Disini mungkin berlaku prinsip the law of big number. Saat ekonomimu makin meraksasa, makin sulit tumbuh.

Seperti bisnis. Saat masih kecil dan omzet hanya miliaran, tumbuh 100% mudah. Saat omzet sudah triliunan, tumbuh 10% aja sulit sekali.

Itu yang disebut law of big number. Ini yang terjadi di Tiongkok. Karena ekonomi sudah raksasa, tumbuh 6% saja sudah bagus. Goodbye 10% seperti tahun-tahun silam.

Ibarat ilmu marketing, pasar ekonomi Tiongkok sudah mulai saturated. Sudah mulai landai. Tidak lagi bisa tumbuh dengan agresif seperti sblmnya.

Itulah kenapa ekonomi Tiongkok diramalkan hanya tumbuh 6 – 7% dalam thn2 mendatang. Dulu bisa tumbuh 10 – 14%.

loading...

Namun dunia kaget dengan perubahan yang seperti mendadak itu. Semua harga komoditi dunia kolaps; dan ekonomi Negara-negara lain ikut semaput.

Ekonomi indonesia sangat terpengaruh dengan kejatuhan ekonomi Tiongkok. Sebab kita banyak  ekspor komoditi alam ke sana juga.

Ekonomi Tiongkok termehek-mehek,  harga komoditi alam jatuh, ekonomi indonesia ikut pingsan, rupiah terkaing-kaing.

Penurunan ekonomi Tiongkok ini juga membuat bursa saham mereka kolaps. Kemarin jatuh 8%, black monday. Dunia ikut terjungkal.

Tadinya FED diramalkan akan menaikkan suku bunga dolar September ini. Rencana kenaikan suku bunga ini yang juga ikut buat rupiah letoy.

Namun kejadian black monday kemarin di Tiongkok membuat analisa menyebut Fed akan menunda kenaikan suku bunganya. Sampai Maret tahun depan.

Apa artinya penundaan itu? Pasar akan galau. Dan kegaualaun hati pasar, akan membuat rupiah kian gamang menatap masa depan. Jiahh.

Penurunan ekonomi Tiongkok ini sebagian memang disengaja oleh pemerintahnya. Presiden Xi Jinping menyebutnya sebagai “the new normal”.

New Normal artinya Tiongkok ingin tumbuh pelan tapi pasti, alon alon waton kelakon. Tidak lagi gas pol seperti 20 tahun terakhir. Woles le, woles.

Prinsip alon-alon waton kelakon, alias woles ini yang sekarang dipegang rezim Xi Jinping. Meraka ingin tumbuh pelan tapi pasti. Ora usah grusa grusu.

Tapi prinsip Woles a la Xi Jinping itu tetap membuat ekonomi dunia terkejut. Butuh waktu untuk adaptasi. “New Normal” butuh proses.

Apa yang kita saksikan minggu ini, termasuk global black monday kemarin; adalah proses adaptasi menuju “Tiongkok Woles Ideology”.

Proses adaptasi menuju strategi Tiongkok Woles itu memang pahit dan memakan korban. Rupiah jadi korban yang terkulai layu dalam kepedihan.

Sampai kapan rupiah akan terkoyak dalam badai kegamangan? Sejumlah analis menyebut, sampai 3 thn ke depan. Tergantung dua aspek.

Yang pertama tentu saja aspek internal: penyerapan anggaran infrastruktur harus cepat dan lugas, kerja tuntas tanpa banyak  kegaduhan.

Aspek kedua, tergantung kepiawaian teknokrat Tiongkok mengawal transisi dari “super growth strategy” ke “Tiongkok woles stratgy”.

Woles itu selow ya le, selow wae, slow down. Keep calm and woles.

Kalau Tiongkok berhasil soft landing, mengubah ekonominya tumbuh pelan tapi pasti (new normal), ekonomi dunia akan aman. Rupiah bisa ke 12ribu
.
Apa bisa ke 10 ribu? Atau 8000? Bisa saja, asal sampeyan kerja keras, ikhtiar dan berdoa (doa nasional). Work hard. Pray hard.

Namun kalau teknokrat Tiongkok gagal mengawal soft landing, ekonomi dunia bisa kolaps. Dan rupiah bisa tembus 15 ribu. Woles le, woles.

Namun kita optimis dengan kepiawaian teknokrat Tiongkok dalam meracik kebijakan ekonomi. Tim ekonomi Tiongkok lebih hebat daripada tim ekonomi Jepang.

Omong-omong sampeyan opo nduwe duit dollar le? Dollar cap dakocan?

Kultwit business + strategy @Strategi_Bisnis 25/08/2015