Empat Tahun Belajar Jadi CEO


Menjad seorang CEO
CEO

oleh:
Hendry Satriago (@HandryGE)

Bulan ini, saya genap empat tahun menjadi CEO GE Indonesia. Banyak yang saya pelajari selama ini. Saya ingin share beberapa hal selama belajar menjadi CEO. Pertama, leading adalah managing banyak hal, baik stakeholders, processes, dll. Tak cukup leading jika hanya dengan visi. Saya tak mau terjebak dalam dikotomi leader vs manager.

Leaders harus bisa me-manage dan manajer harus punya leadership. Leadership dinilai dari result, accountability, dan relationship-nya dengan para followers dan stakeholder lainnya. Betul jika seorang leader memerlukan visi yang kuat, tapi followers juga butuh action dan good relationship dengan leaders-nya. Tentunya sharing saya malam ini berdasarkan yang saya alami, belum bisa digeneralisisasi. Hal ini disebabkan leadership adalah tiga faktor yang selalu saling terkait. Leader, followers, dan situation.

Tak hanya tentang leader saja, ketika saya memulai pekerjaan CEO ini empat tahun yang lalu, saya ingat bahwa tim saya tidak memerlukan retorika or empty talk. They and I need vision that is clear, doable, and reasonable serta menimbulkan rasa bangga, bukan kebingungan. Selama belajar jadi CEO, empat tahun ini saya juga belajar bahwa leader need to manage expectation, tak bisa oversell atau ai???cuap anginai??i?? terus.

Menjadi leader berarti harus siap menghadapi good news and bad news dengan kepala dingin, bahkan dengan tetap tersenyum. Begitu leaders overreacted terhadap bad news, followers nantinya hanya berani menyampaikan good news atau kepalsuan. Begitupun jika leader overreacted terhadap good news, doing early celebration, dan sebagainya, maka sangat mudah membuat kita menjadi lengah. Ya, being a leader adalah me-manage people dan process. Good people create good process and vice versa.

Pengalaman saya belajar jadi CEO empat tahun ini mengajarkan if you have good people around you, the job become easier and you become better too. Oleh karena itulah, saya berprinsip the job of a leader is to create another leader agar saya selalu dikelilingi orang bagus.

Leader harus tegas! Tegas dalam mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut. Salah satu ketegasan yang sangat diperlukan adalah menjauhkan bad followers dan mempromosikan good followers.

Leaders tak bisa berkompromi jika sudah masuk soal integritas. Pelanggaran integritas adalah sel kanker! Selama belajar jadi CEO empat tahun ini saya bertemu banyak leaders dari penjuru dunia. Satu hal yang menarik adalah mengenai karisma mereka. Para charismatic leaders ini memiliki karisma karena hasil kerja mereka, bukan karena penampilan mereka. Karisma ini adalah pengakuan dari orang lain, karena hasil kerja dan hubungan interpersonal yang baik, bukan self proclaim.

Pengalaman lain dari belajar jadi CEO empat tahun ini adalah tentang menghadapi perubahan. Leaders adalah agent of change bukan pembela status quo. Disebabkan leaders adalah agent of change, mereka tak bisa berhenti untuk menelurkan ide dan men-encourage tumbuhnya ide. Untuk itu, leaders perlu membuat kultur keterbukaan terhadap ide, terhadap perubahan, terhadap kritik, serta terhadap bad news. Bagaimana akan ada ide lahir jika followers-nya takut bersuara dan hanya berani menyampaikan good news?

Barbarra Kellerman menyatakan bahwa leaders yang rigid, intolerate dan intemperate mudah terjerumus menjadi bad leader. Alasannya? Karena leaders dengan behaviour seperti itu tak membuat ide dan input yang mengalir dengan baik. Salah satu kesalahan yang saya rasakan saat belajar menjadi CEO empat tahun ini adalah terlena dalam good situation dan tidak well prepared dalam kekalahan.

Sudah menjadi pengertian awam bahwa leaders itu harus good in winning dan good in losing. But man, when you are facing losses, it is really not easy to accept it and having new good strategy to bounce back. Hanya dengan mentalitas selalu siap belajar dan love the process of learning-lah, accepting losses dapat menjadi advantage. Facing winning situation tantangannya adalah sustaining the spirit to keep winning, learning again and be humble. Facing losing situation tantangannya adalah not blaming others and do self reflection to learn from it.

Dalam bisnis, biasanya hal paling mudah ketika menghadapi losses adalah blaming the market but that so cheap! Blaming external factor itu seringkali membuat kita lupa belajar dan berpikir tentang ide lain, tentang option, juga tentang rencana B. Blaming team-nya ketika terjadi kekalahan?

Well…that the cheapest one! Good leader tak akan pernah lakukan itu! Ada lagi kesalahan yang saya rasa saya pernah lakukan saat belajar menjadi CEO empat tahun ini, yaitu soal engagement dengan customers. Jangan pernah biarkan engagement dengan customer kendur.

Dalam suasana bisnis ataupun tidak. Satu customer yang marah dan memutuskan engagement dengan kita sudah cukup untuk membuat bisnis masa depan kita  hancur. Itulah beberapa pelajaran yang saya dapatkan selama belajar menjadi CEO empat tahun ini. Semoga berguna! Remember, everybody is a leader at least for him or herself.