1000x665_0_0_1000_665_b76da28e7e35d14cf25fc1c2006dec72452c47b8

8 Fakta Menarik Captain Amerika Civil War

Posted on

Menjadikan satu beragam tokoh komik Marvel seumpama Deadpool bertemu dengan Black Panther dalam satu film mungkin saja menjanjikan keseruan untuk pemirsa. Tetapi begitu sulit mewujudkan hal itu lantaran terhambat tembok tidak tipis bernama kontrak.

Itu mengapa hasrat Joe Russo (sutradara Captain America : Civil War serta The Avengers : Infinity War) menghadirkan Wolverine dalam Marvel Cinematic Universe sulit terwujud.

Untuk mengerti pangkal masalah kontrak yang disebut, kita mesti kembali menengok peristiwa yang berlangsung pada 27 Desember 1996.

Waktu itu Marvel Comics (induk Marvel Entertainment) ada dalam ambang kebangkrutan. Untuk menyelamatkan diri, Marvel lalu jual lisensi pemakaian beberapa ciri-ciri komiknya pada perusahaan lain.

Melego satu per satu tokoh pahlawan super Marvel yang sampai kini sudah jadi sisi dari budaya popular ke industri film jadi pilihan.

Blade menyeberang ke New Line Cinema (saat ini telah kembali punya Marvel), Man-Thing jadi punya Lionsgate Entertainment, Sony Pictures memperoleh lisensi Spider-Man serta beragam ciri-ciri lain berkaitan dengannya -termasuk Sinister Six yang pernah ingin dibuatkan film sendiri, serta 20th Century Fox sebagai konsumen tokoh komik Marvel paling banyak.

Anak perusahaan punya 21st Century Fox itu bukanlah sebatas beli hak produksi serta distribusi film semuanya yang terkait dengan X-Men serta Fantastic Four, namun juga meyakinkan kata ” mutant ” cuma bisa dipakai oleh mereka.

Itu penyebabnya tokoh Quicksilver serta Scarlet Witch yang pernah nampak dalam film Avengers : Age of Ultron (2015) tak dijelaskan sebagai mutant, namun memperoleh kemampuan supernya dari hasil eksperimen HYDRA (organisasi rahasia yang jadi rival S. H. I. E. L. D. dalam jagat komik Marvel).

Perusahaan lain yang menolong menyelamatkan Marvel yaitu Universal Pictures. Mereka beli hak distribusi film Hulk serta Namor pada 2001. Sesaat jatah Paramount Pictures yaitu mendistribusikan film-film Marvel Cinematic Universe Fase 1 yang diawali dari Iron Man (2008) sampai Captain America : First Avenger (2011).

Bentuk serta nilai kontrak

1200x960_0_0_1200_960_55eadac644465862011ed727af4874a3f8923af9

Besaran duit yang didapat Marvel dari penjualan beragam propertinya tidak sering disibak ke media. Terkecuali waktu Marvel jual hak pemakaian Spider-Man pada Sony Pictures pada 1999 yang bernilai USD7 juta (Rp92 miliar memakai kurs saat ini).

Bentuk kontrak Marvel berbarengan studio film yang lain memakai prosedur jamak yang berlaku di Hollywood. Prosedur itu, merujuk pada tulisan Brian Cronin dalam laman Huffington Post (26/1), yaitu pemakaian hak produksi serta distribusi.

Otoritas menghasilkan serta mendistribusikan film yang terkait dengan X-Men serta Fantastic Four tetaplah dipertahankan 20th Century Fox sampai saat ini. Tidak sama dengan Sony Pictures yang mulai berlaku longgar pada Marvel.

Saksikan saja film paling baru Captain America : Civil War yang ikut menghadirkan Spider-Man. Juga dalam film sendiri Spider-Man : Homecoming (launching Juli 2017) bakal turut menghadirkan Iron Man.

Bentuk kerja sama baru yang tersambung pada Marvel –yang saat ini dibeli Disney seharga USD4 miliar pada 2009– dengan Sony Pictures diteken awal th. 2015.

Terkecuali kalau pemakaian profil Spider-Man dapat melewati jagat sinema Marvel, beberapa hal lain seperti sistem kreatif, pendistribusian, serta pembiayaan semua bentuk film solo mengenai sosok yang bernama asli Peter Parker itu tetaplah ada dalam kendali penuh Sony.

Tidak sama dengan sikap Universal Pictures yang kukuh tidak ingin menyerahkan hak distribusi Hulk. Posisi itu bikin sang raksasa hijau yang diperankan Mark Ruffalo ini seakan terbelenggu.

Ia dapat tetaplah dapat ada dalam dua film Avengers, tetapi tak dapat beraksi sendirian dalam satu film lantaran Disney malas menghasilkan film tanpa ada kepemilikan hak distribusi.

Kondisi sama juga berlangsung pada Namor, bahkan juga lebih pelik. Alih-alih membuatkannya film sendiri, Marvel serta Disney bahkan juga kesusahan menghadirkan profil yang mempunyai kemampuan serupa Aquaman dalam komik DC itu.

” Ada klausul kontrak lama mengenai Namor yang melibatkan pihak ketiga. Itu bikin kami ada dalam kondisi susah, ” ungkap Kevin Feige, President Marvel Entertainment, pada IGN (2014).

Klausul itu nampaknya tidak sama dengan yang di tandatangani Marvel dengan 21st Century Fox. Tech Times menulis kalau bila dalam periode tujuh th. tak ada film mengenai Fantastic Four yang launching, automatis hak adaptasinya kembali pada tangan Marvel.

Untuk tahu ke mana saja alur kepemilikan profil pahlawan super dalam komik Marvel dalam ranah film, silahkan saksikan infografik berikut ini.

Duel Captain Amerika VS Iron Man

1000x665_0_0_1000_665_b76da28e7e35d14cf25fc1c2006dec72452c47b8

Film Captain America : Civil War jadi arena pecahnya kongsi pada beberapa anggota The Avengers. Himpunan beberapa pahlawan super Marvel itu mengadapi dilema ; antara pilih berada dalam kubu Captain America atau Iron Man. Lalu, kubu mana yang diambil beberapa pesohor?

Aktor Anthony Mackie menjatuhkan pilihannya pada Iron Man. Manusia baja itu disebutnya unggul lantaran mempunyai segudang peralatan mutakhir.

” Iron Man terang bakal menang lantaran miliki senjata yang dapat menyembur dari telapak tangannya, misil, serta dapat terbang. Sesaat Captain (America) tak miliki kekuatan itu, ” kata Mackie pada MTV International (19/4/2016).

Mackie yaitu aktor pemeran Falcon dalam grup The Avengers. Dalam film Civil War, ia ada dalam kubu Captain America.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan