Food Combining dan Kesehatan Usus Besar

Oleh:
Erikar LebangĀ 

Kemarin, beberapa teman bercerita tentang pengalaman mereka saat melakukan food combining pertama kali. Diantisipasi oleh tubuh dengan proses BAB yang aneh. Ada yang melaporkan BAB menjadi 2-3 kali sehari, tapi tidak diare (walau ada juga yang diare). Ada yang berbau menyengat, dan beragam lagi. Prinsipnya mereka terkejut dengan kondisi BAB yang demikian. Sebagian besar bercerita terbiasa sembelit, sebagian tidak. Penyebabnya bisa dari apa yang dimakan, kualitas unsurnya, serta perlakuan cara makan buruk kita yang menyebabkan itu semua.

Apa yang dimakan, semisal menu yang melulu didominasi protein hewani yang cenderung berbentuk solid di saluran pencernaan. Akibat wujud yang solid, ia membuat saluran cerna yang seharusnya mendorong makanan agar diproses di tiap sektor, kesulitan.

Selain tidak terserap benar, makanan masih solid itu mendarat di tempat pembuangan terakhir, usus besar, dalam wujud buruk. Akibat wujud yang masih belum tercerna benar itu, usus besar kesulitan mendorong keluar, ia harus mengejan keras. Bila ini berlangsung terus, dinding sistem cerna akan alami perubahan karakter. Bandingkan usus sehat dengan kondisi usus besar yang terus menerus mengejan (diverticulosis). Perhatikan dinding ototnya. Ini kondisi dalam tingkatan ekstrim, perhatikan tumpukan kotoran yang mengeras di sepanjang dinding.

Tidak saja karakter dinding sistem cerna yang berubah serta rentan alami kerusakan. Tapi juga penumpukan kotoran sulit dibuang. Berikut contoh usus besar dalam kondisi tersebut. Ini sudah lewat proses puasa dan pemberian pencahar.

Bayangkan bila dengan bantuan puasa serta pencahar seperti itu, bagaimana buruknya kondisi usus besar mereka sehari-hari? Pelaku food combining belajar mengkonsumsi cara makan benar, berdasarkan: apa yang dimakan? Bagaimana cara makan? Kapan waktu makan?

Pelaku food combining akan mengkonsumsi makanan berguna, segar, kaya unsur hara, berserat, yang intinya berkualitas, sesuai kebutuhan tubuh. Pelaku food combining meminimalisasi pemicu sembelit. Tinggi protein, prosesan, minuman manis-soda-kopi-teh-susu (apalagi) alkohol dan sejenisnya. Food combining juga mempelajari cara makan yang benar, mengunyah dengan baik, waktu minum yang baik, padu padan unsur makanan yang juga baik.

Waktu makan pun dikelola benar oleh pelaku food combining. Sesuai dengan ritme cerna tubuh, semisal sarapan buah agar tidak membebani sistem. Itulah sebabnya, diawal pelaku food combining sering menemukan kondisi mereka BAB secara terus-menerus dalam berbagai macam bentuk. Perbaikan sistem cerna bukan hal mustahil, Anda tidak perlu lakukan operasi mengangkat usus besar, cukup dengan mengubah pola makan saja.

1