@G_paseksuardika: Hadapi Krisis Sebenarnya Momentum Bangun Nasionalisme

Posted on

Hadapi krisis sebenarnya momentum bangun nasionalisme. Indonesia untuk Indonesia. Bukan malah lacurkan diri dan biarkan asing eksploitasi SDA. India hempaskan Inggris dengan Politik Swadesi, dan Indonesia punya Politik Berdikari. Tinggal ubah dari jargon ke action hadapi krisis.

Apakah Indonesia krisis? Mungkin jawabannya: sedang ada ancaman krisis. Lalu bagaimana kita harus menghadapinya? Saling salahkan…?

Tadi saya mampir ke pasar seni Guwang Sukawati Gianyar. Kondisinya lesu. Selain karena serbuan pasar oleh2 modern, juga wisatawan menurun. Potret Pariwisata dan melemahnya rupiah bisa menjadi salah satu sudut pandang yang menarik. Sebab itu menjawab kalau memang internasional krisis.

Biasanya, menguatnya Dollar terhadap rupiah maka sektor Pariwisata, Property dan kerajinan di Bali malah booming. Sebab asing menyerbunya. Bila dulu 1 USD sama dengan Rp 9500 an, dan kini mjdi lebih Rp 14.000 maka ke Bali lebih murah, kerajinan lebih murah, Property juga murah.
Murah karena mereka pakai USD, sementara kita tetap harga akan rupiah dengan harga lama. Maklum komponen impornya kecil kalau Pariwisata. Namun dengan ikut lesunya Pariwisata, maka kita memasuki persaingan eksis dengan negara lain dalam suasana krisis. Jadi tidak perlu saling salahkan.

Sudah saatnya nasionalisme dibangun. Gerakan berdikari harus dikumandangkan sedahsyat gerakan Swadesi Gandhi ketika memerdekakan India.  Masyarakat harus dipandu dengan analisa, tuntunan dan panduan agar bisa eksis dalam krisis. Rasa bangga terhadap negara harus dibangun. Jangan sebaliknya.

Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak simultan. Disaat krisis, kalau pintar maka jadi momentum untuk menyalip negara lain. Hentikan mengembangkan kebijakan rasa minder. Bangun semangat Indonesia untuk Indonesia. Lakukan diversikasi bahan impor ke bahan lokal.
Sebagai bangsa, kita harus bersatu melawan cuaca yang tidak baik ini. Hilangkan perbedaan sejenak untuk pertiwi tercinta. Gerakan berdikari.

Kalau USA, UNI Eropa, Cina dan Jepang bermanuver agar bisa eksis, maka Indonesia harus bergerak. Tapi bergerak dengan nasionalisme. Sangat menyakitkan di saat harus bangun daya tahan ekonomi bangsa dengan meningkatkan nasionalisme malah lakukan kebijakan sebaliknya.

Kebijakan tidak perlu pengetahuan bahasa Indonesia untuk investasi dan bawa TKA ke Indonesia adalah menyakitkan. Kebijakan Anasionalis. Itu kebijakan melacurkan negara dan menggerus rasa kebangsaan dan sekaligus menyempitkan peluang kerja warganya di negaranya sendiri. Apalagi investasi masuk dengan status pinjaman atau utang. Kebijakan nasional secara mental adalah nasionalisme gerakan Berdikari.

Langkah nyata, kurangi bahan impor, kurangi penggunaannya uang asing, kurangi kebutuhan yang tidak mendesak, cegah kriminalisasi kebijakan. APBN dan APBD segera dijalankan secara maksimal agar sektor riil bergerak, aparat penegak hukum kedepankan pencegahan pada lelangnya.