SHARE

Hampir 10 tahun sudah Mr. Zhu bekerja sebagai supir taksi. Setiap harinya ia mengangkut penumpang dari jam 8 sampai jam 5:30. Jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 05:15, ia bersiap-siap mengganti lampu taksinya dengan tanda “not in service” dan kembali ke taksi pool.

Mr. Zhu memiliki satu kebiasaan sebelum mengakhiri shiftnya pada hari Jumat, yaitu beristirahat sejenak di depan sekolah. Ia memarkirkan taksinya tak jauh dari gerbang sekolah dan menatap para siswa yang lalu lalang pada jam pulang. Tersirat senyuman di wajah setiap murid. Mereka mengenakan seragam dan bercanda dengan teman-temannya. Bagi Mr. Zhu, pemandangan tersebut merupakan sesuatu yang sangat spesial.

Pada suatu Jumat, Mr. Zhu beristirahat seperti biasanya. Tiba-tiba seorang siswi memanggilnya dan berjalan ke arahnya.

“Pak! Saya mau naik taksi bapak!”

Dengan nada menyayangkan, Mr. Zhu bilang bahwa shiftnya sudah habis. Ia tidak lagi mengangkut penumpang. Ia hanya beristirahat sebentar saja di sini. Gadis itu pun menundukkan kepalanya selama beberapa detik, lalu berkata, “Terima kasih pak, tapi dekat saja kok. Sebentar saja sampai kok. Yah?”

Sepatah kata “terima kasih” itu membuat Mr. Zhu tergerak hatinya. Sekilas ia melihat seragam gadis itu sudah pudar, tasnya pun tampak telah lama dipakai. Mr. Zhu pun menghela nafasnya dan berkata, “Naiklah.”

Dengan senang hati, gadis itu pun naik ke mobil. Setelah melewati beberapa blok, tiba-tiba gadis itu bilang, “Pak, uang saya cuma 5 dollar. Berhenti di sini saja tidak apa-apa…”

Mr. Zhu pun bingung. Semua orang juga tahu bahwa argometer taksi paling minimum juga 10 dollar. Tapi, melihat gadis itu hanyalah seorang murid sekolah, ia pun tidak tega dan mengantarnya ke halte bus terdekat. Sampai di halte, gadis itu turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih. Gadis itu berjalan dengan tertatih-tatih, Mr. Zhu pun merasa sedikit iba.

Entah kenapa mulai hari itu, Mr. Zhu selalu melihat gadis itu berdiri di gerbang sekolah setiap hari Jumat. Sejumlah taksi lewat di depannya, namun gadis itu tidak naik-naik, seakan-akan sedang menunggu seseorang datang menjemput.

Tiba-tiba, Mr. Zhu terpikir, jangan-jangan ia sedang menunggu taksiku? Mungkinkah itu? Mr. Zhu ingin membuktikannya. Ia mengendarai taksinya lewat depan gadis itu. Ternyata benar! Melihat taksi Mr. Zhu datang, gadis itu langsung melambaikan tangannya. Mr. Zhu sangat terkejut, bagaimana bisa gadis itu mengenal bahwa itu adalah taksinya?

Gadis itu hanya membawa 3 dollar dan meminta untuk diantarkan ke halte bus terdekat. Mr. Zhu sebenarnya ingin bertanya mengapa ia hanya menunggu taksinya seorang saja? Lalu mengapa ia hanya naik 1 halte saja? Walau penasaran, Mr. Zhu tidak berani bertanya, karena ia merasa gadis ini pasti memiliki suatu rahasia yang tidak ingin diketahui.

Satu kali, dua kali, tiga kali… Mr. Zhu jadi terbiasa menjemput gadis ini setiap Jumat tepat sebelum shiftnya berakhir. Ia pun mengganti lampu taksinya dengan tanda “not in service”, lalu memarkirkannya tak jauh dari gerbang sekolah, dan menanti gadis itu keluar.

Gadis itu paling baru SMP, paling baru 14, 15 tahun pikirnya. Gadis itu pun terlihat keluar dari gerbang sekolah. Ia tampak senang mendapati taksi Mr. Zhu telah menunggu di sana. Ia pun berpamitan pada teman-temannya dan berjalan terpingkal-pingkal ke arah mobil.

Tidak sampai 5 menit, gadis itu turun. Sama seperti biasa, kalimat terakhir yang diucapkannya selalu “Terima kasih, Pak!”

Entah apa yang membuat Mr. Zhu merasa dirinya wajib berada di depan sekolah menjemput gadis itu setiap Jumat. Sejauh apapun ia mengangkut penumpang, ia pasti akan kembali ke sekolah. Kadang ia juga takut telat kembali ke pool, nanti kena denda, tapi bagaimana pun ia merasa ia harus mengantarkan gadis itu.

Waktu berlalu dengan cepat. 1 tahun pun berlalu. Musim panas ini adalah musim kenaikan kelas. Mr. Zhu tahu gadis itu akan lulus SMP. Mr. Zhu pun merasa sedikit kehilangan. Ke mana anak gadis itu akan masuk SMA?

“Pak, terima kasih yah. Ini mungkin yang terakhir kalinya saya naik mobil bapak. Saya masuk SMA di XXX, setengah tahun baru balik sekali.” Mr. Zhu melihat gadis itu dari kaca spion. Ia benar-benar siswi yang berprestasi! Tidak mudah masuk ke SMA XXX!!

“Kalau begitu bapak antar kamu sampai ke rumah yah sebagai hadiah kelulusanmu!”, kata Mr. Zhu. Gadis itu menggelengkan kepalanya karena ia hanya bisa membayar 3 dollar saja.

“Tidak usah. Kali ini bapak antar gratis.” Mr. Zhu melihat jam sudah menunjukkan pukul 05:25. Ia pasti telat kembali ke pool dan didenda, tetapi ia tidak peduli. Ia benar-benar tulus ingin mengantarkan gadis itu, untuk terakhir kalinya.

Alamat yang ditunjukkan gadis itu ternyata masih sangat jauh, kira-kira 7 halte lagi dari sini. Setengah jam kemudian, mereka sampai. Gadis itu turun dari mobil. Belum sempat mengucapkan terima kasih, Mr. Zhu menyodorkan sebuah kotak dan berkata, “Ini hadiah untukmu.”

Gadis itu terkejut, tapi dengan polosnya ia menerima hadiah itu, lalu membungkukkan setengah badannya dan berkata: “Terima kasih, Pak!”

Melihat gadis itu berjalan tertatih-tatih masuk ke rumah, Mr. Zhu menghela napas panjang. Mulai sekarang ia tidak akan lagi mengantarkan anak gadis itu pulang sekolah. Ia juga lupa menanyakan siapa namanya.

10 tahun berlalu. Mr. Zhu masih bekerja sebagai supir taksi. Hari itu, penumpang tidak banyak. Sambil mendengar musik di radio, Ia menggosok mobilnya.

Tiba-tiba alunan musik terhenti oleh siaran berita “pencarian orang”. Penyiar memberitakan bahwa ada seseorang yang sedang mencari seorang supir taksi perusahaan XYZ yang mengendarai taksi bernomor polisi AZXXXXX 10 tahun yang lalu. Mr. Zhu terkejut, nomor polisi yang disebutkan adalah nomor polisi taksi yang ia kendarai 10 tahun yang lalu. Ada orang yang mencarinya? Siapa?

Ia pun bergegas menelepon ke stasiun radio tersebut. Penyiar kemudian memberikannya sebuah nomor telepon tanpa nama. Ketika Mr. Zhu menelepon nomor tersebut, terdengar suara seorang wanita yang asing.

“Bapak? Ini bapak yah!?”

Mr. Zhu terkejut. Suara ini? Nada bicara ini? Begitu akrab! Tapi ia tidak bisa ingat suara siapa itu, mungkin karena faktor umur.

“Terima kasih, Pak!” kata gadis itu.

Sepatah kata “terima kasih” tiba-tiba mengingatkannya kembali! Itu adalah suara gadis kecil yang ia antar 10 tahun yang lalu! Benar itu dia! Tiba-tiba pandangan Mr. Zhu menjadi kabur. Ia tidak percaya, 10 tahun sudah, namun gadis itu masih ingat akan dirinya!

Mereka kemudian bertemu di sebuah kafe. Ketika bertemu, gadis itu bukan lagi gadis kecil seperti 10 tahun yang lalu. Ia telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita. Mr. Zhu hampir tidak dapat mengenalinya. Gadis itu berdiri dan membungkuk di depannya berkata, “Saya benar-benar berterima kasih kepada Bapak dari lubuk hati saya.”

Sambil meminum kopi, gadis itu menceritakan kejadian 12 tahun yang lalu.

12 tahun yang lalu, ayahnya juga seorang supir taksi. Ayahnya sangat sayang padanya. Setiap hari Jumat, sesibuk apapun, ayahnya pasti datang ke sekolah untuk menjemputnya. Naasnya, bertepatan pada tahun baru 12 tahun yang lalu, ayahnya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat, sedangkan ia sendiri mengalami luka parah. Itu sebabnya ia berjalan terpingkal-pingkal.

Setelah ayahnya dimakamkan, ibunya bekerja banting tulang dari pagi sampai malam untuk membayar biaya operasi dan menghidupi keluarga. Sedangkan ia sendiri, memutuskan untuk giat belajar, ingin cepat-cepat dewasa dan bisa membantu meringankan beban ibunya. Namun, setegar apapun, ia masih tidak sanggup menerima kepergian ayahnya.

Ia tidak menceritakan insiden tersebut pada siapapun, termasuk teman-temannya di sekolah. Ketika ditanya oleh teman sekelasnya mengapa naik bus, mana ayahnya, ia berbohong kalau ayahnya pergi ke luar kota. Kebohongan tersebut ia pertahankan lebih dari enam bulan, sampai suatu hari ia bertemu dengan Mr. Zhu. Ia melihat taksi tersebut parkir di depan sekolah, seolah-olah ayahnya yang datang menjemputnya pulang.

Ia hanya membawa 3 dollar untuk naik bus sampai ke rumah, tapi ia memilih untuk menghabiskan uang tersebut untuk naik taksi 1 halte saja, dan kemudian menghabiskan 1 jam berjalan kaki pulang. Meskipun jauh, tapi dia berjalan dengan tenang, karena tidak ada yang menduga dia telah kehilangan ayahnya.

“Bapak pasti tidak tahu, taksi yang Bapak kendarai itu sama dengan taksi yang dikendarai Ayah saya 12 tahun yang lalu. Nomor platnya sama. Saya masih ingat dengan jelas…”

Sambil bercerita, mata gadis tersebut tampak berlinang. “Sampai sekarang pun masih ingat…” Entah mengapa Mr. Zhu pun turut merasa sedih.

Gadis itu mengeluarkan sebuah medali dari sakunya. Medali tersebut terlihat sudah usang. Di belakang medali tersebut tertulis sebuah catatan kecil, “Semoga hidup Anda juga seperti emas ini.” Medali tersebut adalah hadiah yang Mr. Zhu berikan pada gadis itu 10 tahun yang lalu.

“Medali yang Bapak berikan selalu saya bawa. Kalau tidak ada ini, mungkin saya tidak akan berjalan sampai hari ini. Uang 3 dollar yang Bapak kembalikan juga masih saya simpan sampai sekarang. Dengan uang ini, saya pikir kesulitan apapun pasti bisa saya atasi. Meskipun saya telah kehilangan ayah, tapi saya merasa masih memiliki kasih seorang ayah.”

Kemudian, gadis itu itu pun berpamitan kepada Mr. Zhu dan keduanya berjalan keluar dari kafe. Melihat gadis itu mengendarai mobilnya dan pergi, Mr. Zhu masuk ke taksinya dan menangis.

10 tahun yang lalu, Mr. Zhu berkebiasaan berhenti di depan sekolah dan memandang murid-murid yang pulang dari sekolah karena ia terkenang akan putrinya yang meninggal karena kanker. Setiap hari Jumat, Mr. Zhu pasti datang menjemput putrinya. Kalimat terakhir yang diucapkan putrinya sebelum turun dari mobil adalah, “Terima kasih, Ayah!”

Medali yang ia berikan pada gadis itu adalah milik putrinya. Putrinya memenangkan perlombaan di sekolah, juga merupakan seorang siswi yang berprestasi, sama seperti gadis itu. Baginya, putrinya merupakan kebanggaan dan harapannya, namun itu semua tiba-tiba lenyap. Dilanda kesedihan yang mendalam, setiap hari Jumat, tanpa sadar Mr. Zhu selalu memarkirkan taksinya di depan gerbang sekolah, seakan-akan menunggu putrinya keluar dari gerbang sekolah dan memanggilnya “Ayah!”

Berkat pertemuannya dengan gadis itulah, Mr. Zhu merasa putri seperti kembali ke sisinya. Ia merasa hari-harinya masih penuh dengan harapan dan ia menemukan kembali kebahagiaan yang pernah pergi darinya. [ce]

Loading...