Gadis ini Naik Taksi yang Sama Setiap Pulang Sekolah, Padahal Ia Bisa Saja Naik Kendaraan Umum Lainnya! Ternyata Ada Cerita Mengharukan di Balik Semuanya!

Posted on

10 tahun berlalu. Mr. Zhu masih bekerja sebagai supir taksi. Hari itu, penumpang tidak banyak. Sambil mendengar musik di radio, Ia menggosok mobilnya.

Tiba-tiba alunan musik terhenti oleh siaran berita “pencarian orang”. Penyiar memberitakan bahwa ada seseorang yang sedang mencari seorang supir taksi perusahaan XYZ yang mengendarai taksi bernomor polisi AZXXXXX 10 tahun yang lalu. Mr. Zhu terkejut, nomor polisi yang disebutkan adalah nomor polisi taksi yang ia kendarai 10 tahun yang lalu. Ada orang yang mencarinya? Siapa?

Ia pun bergegas menelepon ke stasiun radio tersebut. Penyiar kemudian memberikannya sebuah nomor telepon tanpa nama. Ketika Mr. Zhu menelepon nomor tersebut, terdengar suara seorang wanita yang asing.

“Bapak? Ini bapak yah!?”

Mr. Zhu terkejut. Suara ini? Nada bicara ini? Begitu akrab! Tapi ia tidak bisa ingat suara siapa itu, mungkin karena faktor umur.

“Terima kasih, Pak!” kata gadis itu.

Sepatah kata “terima kasih” tiba-tiba mengingatkannya kembali! Itu adalah suara gadis kecil yang ia antar 10 tahun yang lalu! Benar itu dia! Tiba-tiba pandangan Mr. Zhu menjadi kabur. Ia tidak percaya, 10 tahun sudah, namun gadis itu masih ingat akan dirinya!

Mereka kemudian bertemu di sebuah kafe. Ketika bertemu, gadis itu bukan lagi gadis kecil seperti 10 tahun yang lalu. Ia telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita. Mr. Zhu hampir tidak dapat mengenalinya. Gadis itu berdiri dan membungkuk di depannya berkata, “Saya benar-benar berterima kasih kepada Bapak dari lubuk hati saya.”

Sambil meminum kopi, gadis itu menceritakan kejadian 12 tahun yang lalu.

12 tahun yang lalu, ayahnya juga seorang supir taksi. Ayahnya sangat sayang padanya. Setiap hari Jumat, sesibuk apapun, ayahnya pasti datang ke sekolah untuk menjemputnya. Naasnya, bertepatan pada tahun baru 12 tahun yang lalu, ayahnya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat, sedangkan ia sendiri mengalami luka parah. Itu sebabnya ia berjalan terpingkal-pingkal.

Setelah ayahnya dimakamkan, ibunya bekerja banting tulang dari pagi sampai malam untuk membayar biaya operasi dan menghidupi keluarga. Sedangkan ia sendiri, memutuskan untuk giat belajar, ingin cepat-cepat dewasa dan bisa membantu meringankan beban ibunya. Namun, setegar apapun, ia masih tidak sanggup menerima kepergian ayahnya.

Ia tidak menceritakan insiden tersebut pada siapapun, termasuk teman-temannya di sekolah. Ketika ditanya oleh teman sekelasnya mengapa naik bus, mana ayahnya, ia berbohong kalau ayahnya pergi ke luar kota. Kebohongan tersebut ia pertahankan lebih dari enam bulan, sampai suatu hari ia bertemu dengan Mr. Zhu. Ia melihat taksi tersebut parkir di depan sekolah, seolah-olah ayahnya yang datang menjemputnya pulang.

Ia hanya membawa 3 dollar untuk naik bus sampai ke rumah, tapi ia memilih untuk menghabiskan uang tersebut untuk naik taksi 1 halte saja, dan kemudian menghabiskan 1 jam berjalan kaki pulang. Meskipun jauh, tapi dia berjalan dengan tenang, karena tidak ada yang menduga dia telah kehilangan ayahnya.

“Bapak pasti tidak tahu, taksi yang Bapak kendarai itu sama dengan taksi yang dikendarai Ayah saya 12 tahun yang lalu. Nomor platnya sama. Saya masih ingat dengan jelas…”

Sambil bercerita, mata gadis tersebut tampak berlinang. “Sampai sekarang pun masih ingat…” Entah mengapa Mr. Zhu pun turut merasa sedih.

Gadis itu mengeluarkan sebuah medali dari sakunya. Medali tersebut terlihat sudah usang. Di belakang medali tersebut tertulis sebuah catatan kecil, “Semoga hidup Anda juga seperti emas ini.” Medali tersebut adalah hadiah yang Mr. Zhu berikan pada gadis itu 10 tahun yang lalu.

“Medali yang Bapak berikan selalu saya bawa. Kalau tidak ada ini, mungkin saya tidak akan berjalan sampai hari ini. Uang 3 dollar yang Bapak kembalikan juga masih saya simpan sampai sekarang. Dengan uang ini, saya pikir kesulitan apapun pasti bisa saya atasi. Meskipun saya telah kehilangan ayah, tapi saya merasa masih memiliki kasih seorang ayah.”

Kemudian, gadis itu itu pun berpamitan kepada Mr. Zhu dan keduanya berjalan keluar dari kafe. Melihat gadis itu mengendarai mobilnya dan pergi, Mr. Zhu masuk ke taksinya dan menangis.

10 tahun yang lalu, Mr. Zhu berkebiasaan berhenti di depan sekolah dan memandang murid-murid yang pulang dari sekolah karena ia terkenang akan putrinya yang meninggal karena kanker. Setiap hari Jumat, Mr. Zhu pasti datang menjemput putrinya. Kalimat terakhir yang diucapkan putrinya sebelum turun dari mobil adalah, “Terima kasih, Ayah!”

Medali yang ia berikan pada gadis itu adalah milik putrinya. Putrinya memenangkan perlombaan di sekolah, juga merupakan seorang siswi yang berprestasi, sama seperti gadis itu. Baginya, putrinya merupakan kebanggaan dan harapannya, namun itu semua tiba-tiba lenyap. Dilanda kesedihan yang mendalam, setiap hari Jumat, tanpa sadar Mr. Zhu selalu memarkirkan taksinya di depan gerbang sekolah, seakan-akan menunggu putrinya keluar dari gerbang sekolah dan memanggilnya “Ayah!”

Berkat pertemuannya dengan gadis itulah, Mr. Zhu merasa putri seperti kembali ke sisinya. Ia merasa hari-harinya masih penuh dengan harapan dan ia menemukan kembali kebahagiaan yang pernah pergi darinya. [ce]

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan