Taubatnya Seorang Remaja Putri yang Nakal Setelah Ditolong 2 Malaikat Ketika Hendak Diperkosa

Hampir Diperkosa, Gadis ini Taubat karena Sadar Makhluk ini Telah Menyelamatkannya dari Bahaya

Posted on

Dulunya aku adalah seorang remaja putri yang nakal. Aku mengecat rambutku dengan warna warni setiap waktu dengan mengikuti mode yang sedang trend. Aku juga mengenakan pewarna kuku yang nyaris tidak pernah kuhapus, kecuali untuk merubah warnanya. Abayaku hanya kuletakkan di atas pundakku agar dapat menarik perhatian para pemuda.

Aku sengaja ke pasar dengan memakai wewangian dan perhiasan yang menarik. Iblis benar-benar telah menggodaku untuk melakukan semua dosa, yang kecil mau pun yang besar. Lebih dari itu semua, aku tidak pernah sujud kepada Allah sekali pun. Aku bahkan tidak tahu bagaimana mengerjakan shalat.

Yang lebih mengherankan adalah karena aku seorang guru dan pendidik anak-anak. Guru yang selalu dipandang dengan penuh penghormatan. Aku mengajar di salah satu sekolah yang terletak jauh dari kota Riyadh. Aku selalu meninggalkan rumahku setelah shalat shubuh, dan tidak kembali kecuali setelah shalat ashar. Yang penting waktu itu kami adalah sekelompok guru perempuan.

Di antara mereka, akulah satu-satunya yang belum menikah. Di antara mereka ada yang baru saja menikah, ada yang tengah mengandung. Ada pula yang sedang menjalani cuti melahirkan. Aku pula satu-satunya di antara mereka yang telah mencabut rasa malunya. Aku biasa ngobrol dan bercanda dengan sopir seperti ketika aku berbicara dengan salah satu kerabatku.

Hari demi hari berlalu, dan aku masih dalam kelalaian dan kesesatanku. Pada suatu pagi, aku bangun terlambat. Aku segera keluar dan mengendarai mobil yang biasa kami tumpangi.

Ketika aku naik ke mobil dan memperhatikan, ternyata di kursi belakang tidak ada orang lain selain diriku. Aku menanyakan itu kepada sopir, lalu ia menjawab, “Fulanah sakit, yang ini melahirkan.”

Mendengar itu, di dalam hatiku aku mengatakan, “Baiklah, karena perjalanannya jauh, maka aku akan tidur hingga nanti kami tiba di tujuan.”

Aku pun tidur di mobil dan tidak terbangun kecuali saat mobil itu berada di sebuah jalan yang rusak. Aku terbangun dengan penuh ketakutan. Aku membuka penutup jendela.

“Jalan apa ini? Apa yang telah terjadi? Pak sopir, kemana engkau membawaku?”

Dengan penuh kesetanan dia menjawab, “Sekarang engkau akan mengetahuinya.”

Aku memperhatikannya dan aku pun tahu rencana busuknya. Maka dengan penuh ketakutan, aku pun mengatakan: “Pak sopir, apakah engkau tidak takut kepada Allah? Apakah engkau tahu hukuman atas perbuatan yang akan engkau lakukan?”

Dan entah ucapan apalagi yang kukatakan untuk menghalanginya melakukan niatnya. Yang pasti, aku tahu bahwa aku akan diperkosa.

Dengan penuh percaya dirinya pula si sopir itu mengatakan, “Engkau sendiri, apakah engkau tidak takut kepada Allah? Engkau tertawa-tawa dan bercanda denganku? Apakah engkau tidak tahu kalau engkau telah menggodaku? Dan aku tidak akan melepaskan tubuhmu hingga aku bisa melakukan apa yang selama ini kuinginkan.”

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan