Home Gaya Hidup Hindari Zat Perusak Tubuh, Konsumsi Yang Benar

Hindari Zat Perusak Tubuh, Konsumsi Yang Benar

SHARE
Zat Perusak tubuh dalam makanan
Makanan Perusak Tubuh
Kultweet Erikar Lebang
Saya tiba-tiba ingat ucapan salah satu paman yang waktu dia muda dahulu menyombongkan hobi merokoknya. “Gue ngerokok gak kayak bokap lo, cuma dikit-dikit, gak bahaya,” ujarnya. Bedanya, ayah saya kini berhenti total merokok sedangkan dia tidak, masih dengan konsep sedikit-sedikitnya itu. Baru-baru ini saya bertemu dia dalam kondisi lumpuh separuh.Seperti biasanya, saya dimintai tolong. Lucunya, dia masih menggenggam sebatang rokok, walau gemetar terus. Dan masih ‘ngeyel’. “Rokok udah dikurangi, dokternya aja payah, katanya profesor, gak bisa ngapa-ngapain?” ucapnya. Lha? Dokter disalahin? Sementara racun masuk terus? Setelah itu saya tidak bicara apa-apa lagi. Malah salah mengajaknya bercanda. I know, he doesn’t deserve to get better, based on attitude problem.
Kita merusak tubuh perlahan atau cepat, seringnya beberapa melakukan dengan sadar. Dalih umumnya, “kan cuma sedikit”. Sedikit, namun bila terjadi dalam hitungan satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun, mungkin oke lah. Tapi bila rutin? Akumulatif? Merokok, minum alkohol, mungkin bisa dikategorikan sebagai perbuatan merusak tubuh terang-terangan. Ini jelas, walau tetap banyak yang nekat. Tapi, banyak perusak tubuh yang tersembunyi dalam kerangka normal, kopi, teh, susu, makanan prosesan, tinggi protein dan sejenisnya. Hukum akumulasi berlaku disini. Tubuh Anda menguras cadangan enzim, sel rusak perlahan, sistem tubuh macet. Lalu secara menyeluruh mogok. Saat itu tiba waktunya, percayalah, apa yang dibela menjadi tidak ada artinya. Apalagi jarang ada penyakit yang mematikan secara instan. Mayoritas rusak perlahan-lahan. Terbaring tanpa daya, dan tubuh kehilangan fungsi normal satu persatu. Menyiksa sekali.
Cara terbaik untuk menghindari faktor perusak adalah sebisa mungkin menghindari mereka. Jauhi konsep rutin. Konsumsi hanya saat tertentu. Rutin, ‘sedikit’ sekalipun, sering sekali menciptakan adiksi dalam tubuh kita. Bila itu terjadi, perusakan perlahan (atau cepat) dimulai. Konsep adiksi ini, yang membuat kebiasaan buruk sulit dilepas, bahkan dicari pembenarannya. Makin menjeremuskan perusakan kesehatan. Dan dalam skala kecil, beberapa substansi itu memang memberi efek positif, walau efek merusak lebih besar. Jadi sering disalahartikan. Seperti efek pemicu kerja saraf parasimpatetik pada rokok yang bersifat menenangkan. Kafein pada kopi yang mendongkrak performa sesaat. Kafein akan memberi segudang efek buruk kesehatan, akumulasi polifenol yang mengganggu kerja sistem cerna contoh awal positif berakhir buruk. Intinya, jauhi hal buruk sebisa mungkin. Pergunakan seperlunya, dan nikmati saat dilakukan. Rutinkan kebiasaan baik. Penuhi kebutuhan tubuh!
SHARE