Indonesia Negeri Subur nan Hijau VS Arab Saudi Negeri Tandus nan Gersang | @ErieSudewoID

Berkaitan oleh-oleh umroh, banyak hal menarik dari negeri Saudi Arabia ini. Negeri kita subur nan hijau. Anehnya penduduk  miskin. Maka kontras ketika Pejabat kita mentereng dengan dasi  dan  jas, tetapi ekpor jutaan TKW.

Orang-orang pandai kita fasih berbicara globalisasi. Bahkan seolah paling siap menghadapi MEA. Tetapi tidak risih digerojogi devisa dari TKW.

Ada keluarga pejabat yang minta difasilitasi KBRI saat piknik ke Hongkong. Juga tidak risih melihat TKW minim fasilitas padahal berjuang hidup. Negara bukannya mengatasi warga agar tidak jadi TKW. Ini malah merasa tidak bersalah, terima devisa sekian triliun per tahun dari TKW yang miskin-miskin ini.

Sudah jadi salah satu sumber devisa negara, para TKW ini juga jadi sapi perah calo dan oknum-oknum di bandara. Jika tidak dzalim, apa namanya? Saat terbang ke luar negeri, harapan TKW membuncah-buncah songsong masa depan. Saat kembali ke tanah air, stres ingat oknum-oknum yang memalak.

Ketika urus barqot haji, saya berkomentar negeri Saudi Arabia ini seolah tidak punya sistem. Kerja amat tergantung suasana hati  dan  pertemanan. Namun seburuk-buruk itu, negeri ini tidak zalim pada rakyatnya. Mau bukti? Dari zaman kuda gigit besi hingga kuda gigit jari, harga tetap stabil.

Harga bensin hanya 2 Real per galon. Di Amerika 1 galon = 3.785 liter. Di Inggris 1 galon = 4.546 liter. Jadi rata-rata 4 liter perkiraan.

1 Real sama dengan Rp 3.500. Jadi harga bensin di Saudi tidak sampai Rp 1.600 per liter. Sedangkan solar harganya tidak sampai 1 Real per galon. Dulu sebelum rupiah makin remuk seperti ini, nilai 1 Real = Rp1.250. Dibagi 4, maka harga bensin per liter hanya Rp300-an.

Ingat subsidi itu kebohongan terbesar. Karena salah mengurus negara, jangan lalu menyalahkan harga BBM  lalu mengatakan musti disubsidi.

Ingat pesan Rasulullah SAW, “Kemiskinan bukan karena tidak punya 1 atau 2 kurma, melainkan karena ketidakmampuan mengelola sumber daya”.

Andai bensin Rp 100.000 per liter di Indonesia, apakah negeri ini bisa keluar dari kemiskinan? Ini bicara kebijakan  dan  pengelolaan. Bukan harga. Tembaga di Papua saja di Freeport-kan. Minyak dihabiskan dimana-mana. Korupsi meraja lela. Politisi asyik dengan partainya. Lalu untuk negeri?

loading...

Kembali ke Saudi. Harga minuman ringan kalengan, seperti Coca Cola  dan  Fanta, dari dulu hingga hari ini tetap stabil 1 Real. Potong rambut dari dulu hingga sekarang, ya 10 Real. Kebab daging kambing, ya tetap stabil. Cuma 3 Real. Topi haji warna putih produk China, harganya tetap 2 Real. Di Indonesia bisa antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000.

Di sana yang miskin juga masih ada. Buktinya masih ada yang meminta-minta di luar Masjidil Haram  dan  Masjidil Nabawi. Tetapi dengan harga yang tetap stabil, rakyat tidak kesulitan dan terombang-ambing dimainkan lonjakan harga kebutuhan sehari-hari.

Nah fenomena yang kurang pas, banyak para pekerja harian di Masjidil Haram  dan  Masjidil Nabawi diam-diam menunggu sedekah. Andai mereka dibayar cukup, harusnya mereka enggan terima sedekah. Ketika tidak terima sedekah, mereka boleh berbangga hati. Tentunya memang musti sangat bangga pernah bekerja di Masjidil Haram  dan  atau Masjidil Nabawi. Marwah mereka terjaga.

Sekali negeri Saudi Arabia ini betul-betul tandus. Yang ada hanya batu padas, gunung-gunung berbatu, berjajar sambung menyambung. Hanya saja yang namanya buah  dan  sayur, segalanya ada. Padahal jika ada pohon buah yang tumbuh, tentu tidak banyak. Di antaranya kurma.

Tidak ada pohon pisang, apple, peer, anggur, jeruk dll. Cuma semua tersedia tidak habis-habis. Kualitas juga ok punya. Dari mana? impor. Wajar negeri nan gersang ini impor.Nah negeri kita? Ini yang jadi soal. Koes Plus bilang, tongkat dilempar jadi tanaman.

Kita juga ditumbuhi sayur mayur  dan  buah-buahan yang tidak ada di belahan dunia lain. Tetapi jangankan untuk ekspor, menjaga agar lestari saja gagal. Anda pernah melihat buah jamblang, buni, kesemek, rukem, kecapi, cermei, buah rending? Ini buah-buah yang langka  dan  menuju punah.

Buah lobby-lobby juga tahu? Sama masalahnya.Nyaris punah. Cuma lobby-lobby telah naik kelas. Kini jadi mainan utama di Senayan.

Negeri kita yang kaya buah-buahan ini, hari ini dibanjiri impor apel, anggur, peer, jeruk  dan kelengkeng. Merasuk ke pelosok-pelosok desa. Kita menghidupi petani asing. Tetapi kita matikan petani sendiri, di tanah sendiri, oleh kita sendiri. Makhluk apa kita ini ya.

Negeri Saudi yang kering kerontang, namun air tetap melimpah. Siap menumpahkan isinya saat keran dibuka di mana-mana. Negeri kita kaya akan mata air. Tetapi jangan-jangan kini berubah jadi air mata. Sebab berapa banyak mata air itu dikuasai pengusaha air kemasan.

Nah apa beda yang paling tegas antara Saudi Arabia  dan  Indonesia? Di antaranya kita ekspor TKW. Mereka importir. Yang menohok adalah Saudi kering kerontang. Namun pengelola negerinya subur dan sehat. Tidak memberatkan kehidupan rakyatnya. Sandang pangan murah.

Negeri kita subur juga hijau. Namun sebagian pembesar ini tidak punya jiwa. Kering hatinya. Pura-pura tidak tahu,“Rakyat makin susah hidup”.

*Kultwit Erie [email protected] 09/01/2015 07:15:17 WIB