Ini Deretan Tokoh yang Tersangkut Kasus Ujaran Kebencian di 2017

Posted on

Lahiya – Cukup banyak kasus ujaran kebencian di tahun 2017 yang ditangani kepolisian. Lebih sering ujaran kebencian dilakukan melalui akun media sosial, layaknya Facebook, Twitter, serta Youtube. Sejumlah kasus yang dilaporkan telah maju ke meja sidang. Ada beberapa kasus yang melibatkan publik figur.

Nama-nama besar itu antara lain Alfian Tanjung yang dilaporkan lantaran dianggap memberikan ceramah yang mengandung materi tentang PKI. Lalu ada Jonru Ginting yang statusnya dituduh penuh kebencian di Facebook. Juga ada status Twitter musisi Ahmad Dhani yang dilaporkan terdapat unsur kebencian. Seperti berikut dilansir dari Jawapos.com.

Status Facebook Jonru Dituduh Menyebar Kebencian

Jonru Ginting ditetapkan sebagai tersangka setelah kasus ujaran kebenciannya dilaporkan oleh Muannas Al Aidid. Polisi menetapkan Jonru sebagai tersangka pada Kamis (28/9) malam. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Adi Deriyan Jayamarta menyatakan bahwa pihaknya sudah menetapkan Jonru sebagai tersangka.

Dalam waktu dekat, tersangka ujaran kebencian Jonru Ginting bakal menjalani sidang. Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pun sudah melimpahkan berkas kasus Jonru ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. “Iya, hari ini akan kita limpahkan atau tahap duanya ke Kejari Jaksel,” ujar Direskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan Jayamarta saat dikonfirmasi, Selasa (28/11).

Baca juga: Masih Ingat Istri Raul Lemos? Selepas Suaminya Nikahi Krisdayanti, Begini Kabarnya Sekarang

Jonru pun dijerat dengan pasal yang berlapis. Antara lain Pasal 28 Ayat 2 jo Pasal 45 Ayat 2 Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dan Pasal 156 KUHP tentang Penghinaan terhadap Suatu Golongan Tertentu. Atas pasal itu, Jonru terancam mendapat hukuman 16 tahun penjara.

Ahmad Dhani Menjadi Tersangka Ujaran Kebencian di Twitter

Polisi menetapkan musisi Ahmad Dhani sebagai tersangka terkait kasus dugaan ujaran kebencian di media sosial Twitter. Dhani ditetapkan sebagai tersangka usai penyidik melakukan gelar perkara pada Kamis (23/11) lalu. Berselang seminggu, Ahmad Dhani pun menjalani pemeriksaan sebagai tersangka Mapolres Metro Jakarta Selatan pada Kamis (30/11).

Mulanya, kasus Dhani berawal ketika Jack Boyd Lapian melaporkan dirinya. Boyd mengklaim sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan ia melaporkan unggahan Dhani di akun twitter @AHMADDHANIPRAST yang menyebutkan, ‘Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya -ADP’.

Ahmad Dhani dalam kasus ini diduga telah melanggar Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Baca juga: Andai Perang Dunia Ketiga Meletus, 10 Negara Akan Aman. Indonesia Masuk?

Akan tetapi, kuasa hukum Dhani, Ali Lubis menilai bahwa kasus kliennya itu tak layak dilanjutkan. Menurut Ali, seharusnya laporan Jack Boyd Lapian ditolak. Pasalnya apa yang disampaikan oleh Ahmad Dhani adalah hak konstitusionl dan telah dijamin oleh Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

Ahmad Dhani yang merupakan kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga mendapat pembelaan. Menurut Ketua DPP Partai Gerindra, Desmond J Mahesa, pihaknya bakal membantu Ahmad Dhani. Lantaran hal tersebut telah menjadi kewajiban bagi partai yang dinahkodai oleh Prabowo Subianto ini.

Alfian Tanjung Dituduh Berujar Kebencian Ketika Ceramah

Alfian Tanjung yang memberikan ceramah dilaporkan oleh Sujatmiko, warga Surabaya, lantaran dianggap memberikan materi ceramah berisi tentang PKI di Masjid Mujahidin, Tanjung Perak, Surabaya. Ujaran kebencian itu diketahui oleh Sujatmiko melalui video unggahan di YouTube pada 26 Februari 2017. Di tengah ceramahnya, diduga Alfian menyinggung pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan menyebut pendukung PKI.

Sidang pembacaan putusan terdakwa atas kasus ujaran kebencian Alfian Tanjung dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (13/12) siang. Alfian divonis Majelis Hakim dengan hukuman dua tahun penjara. Vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak pada 28 November lalu menuntut terdakwa dengan hukuman tiga tahun penjara.

Baca juga: Pria Tiongkok Berbaju Tentara Berkeliaran di Pasar, Kapolsek dan Danramil Langsung Menemuinya. Hasilnya?

Alfian pun dinyatakan terbukti berujar kebencian ketika mengisi ceramah di Masjid Mujahidin Tanjung Perak, Surabaya. Alfian oleh majelis hakim dianggap memenuhi unsur pidana. Sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b butir 2 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis.

Sebelum sidang ditutup, Alfian Tanjung mengatakan dirinya akan mengajukan banding. “Dengan ini saya mengajukan banding. Saya tidak takut dengan dakwaan ini. Saya juga ingin berterima kasih atas kebaikan, perjuangan semua yang sudah membantu dan hadir,” ujar Alfian.

Kuasa hukum Alfian Tanjung, Alkatiri, secara terpisah menyebut bahwa pasal yang dituduhkan tak memenuhi syarat. Lantaran barang buktinya yakni berupa rekaman video yang ada di internet. Sedangkan, pelapor tak hadir di tempat saat ceramah tersebut disampaikan.

“Sehingga seharusnya dikenakan pasal UU ITE, bukan ujaran kebencian. Karena penghapusan ras dan etnis. Selain itu, dalam pasal yang dituduhkan ada poin harus ada kerugian dan keributan akibat ujaran kebencian. Sementara ceramah Ustad Alfian Tanjung sama sekali tak menimbulkan kerugian dan keributan” terang  Alkatiri.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan