Israel Janjikan Suntikan Dana Ratusan Milyar ke Negara Miskin, Tapi Syaratnya…

Posted on

Lahiya – Israel berencana memberikan dana sebesar 50 juta dollar atau sekitar Rp 670 milyar untuk mendukung pembangunan di negara-negara miskin.

Hal ini diungkapkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kabarnya, suntikan dana tersebut bukan hanya untuk membantu negara-negara miskin, tapi juga menarik dukungan diplomatik dari negara tersebut.

Dilansir tribunnews.com dari Al Jazeera, keputusan ini diambil oleh Israel sepekan setelah keputusan Majelis Umum PBB yang menolak klaim AS untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Dalam keputusan yang diambil melalui voting tersebut, diketahui hanya 9 negara yang mendukung pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Sementara itu, 128 negara lainnya memutuskan untuk menolak dan 35 lainnya abstain.

Baca juga: Pengajian Ustad Somad di PLN Jakpus Mendadak Batal, Ternyata Ini Penyebabnya

Dana yang siap digelontorkan oleh Israel ini rencananya akan digunakan untuk membantu pembangunan dalam bidang pertanian, teknologi, dan pengembangan kepemimpinan. Israel menargetkan wilayah Eropa Timur, Asia, dan Afrika untuk menerima bantuan tersebut dan meningkatkan hubungan diplomatik dengannya.

Bahkan, beberapa tahun belakangan Israel juga telah memperkuat hubungannya dengan negara-negara Arfika. Hal ini dibuktikan dengan tur politik yang dilakukan Netanyahu ke Afrika Timur pada tahun 2016 dan bagian barat di tahun 2017.

“Saya percaya di Afrika, saya percaya pada potensinya – sekarang dan masa depan. Ini adalah benua yang sedang naik daun,” katanya saat berbicara di Ibukota Liberia, Monrovia, Juli 2017 lalu.

Senada dengan Netanyahu, Wakil Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Hotovely, mengatakan bahwa saat ini ada 10 negara yang mempertimbangkan keputusan Presiden AS Donald Trump.

Menurutnya, kesepuluh negara ini juga berniat memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem. Namun, Tzipi enggan menyebut negara mana saja yang mendukung klaim tersebut.

Baca juga: Program Mata Najwa Kembali ke Layar Kaca, Respon Netizen Diluar Dugaan

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Palestina. AS juga memindahkan kedutaannya ke bagian timur Yerusalem.

Padahal, Yerusalem Timur secara internasional diakui sebagai wilayah Palestina, namun secara ilegal diduduki Israel. Israel menduduki wilayah tersebut setelah perang pada tahun 1967. Tindakan itu sendiri telah ditolak oleh PBB dan masyarakat internasional.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan