Jalan Raya Anyer-Panarukan, 1.000 Kilometer Saksi Kejamnya Pembangunan di Era Kolonial

Posted on

Lahiya – Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Maarschalk dan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membentang sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer sampai Panarukan. Jalan yang juga disebut De Grote Postweg ini turut menjadi saksi kekejaman pemerintah kolonial dalam melakukan pembangunan di masanya.

Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels Pramoedya Ananta Toer menyebutkan, “Untuk jamannya, ‘membangun’ jalan raya sepanjang itu dalam setahun saja (1808) sungguh prestasi besar, karena itu juga namanya (Maarschalk dan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels) mendunia.”

Munculnya gagasan pembangunan jalan itu tak lama usai Daendels mendarat di Anyer pada 5 Januari 1808. Menurutnya naik kereta kuda dari Anyer ke Batavia memakan waktu 4 hari itu terlalu lama. Sehabis adanya pengerasan jalan dan jalan diperlebar jadi7 meter, dari Anyer ke Batavia ditempuh hanya dalam 1 hari.

Melihat buruknya kondisi infrastruktur saat melakukan perjalanan dari Bogor (Buitenzorg) ke Semarang dan Jawa Timur (Oosthoek) pada 29 April 1808, idenya pun menjadi semakin kuat. Menurutnya, 10 hari perjalanan Bogor-Semarang juga terlalu lama. Karena itulah, dia putuskan meneruskan pembangunan jalan Bogor-Karangsembung (Cirebon) sepanjang 250 km pada 5 Mei 1808.

Baca juga: Baru! Ternyata Whatsapp Punya Fitur Terkini yang Masih Jarang Diketahui

Dia bahkan mau agar pembangunan jalan tersebut mencapai wilayah Jawa Timur, seperti Surabaya-Pasuruan-Panarukan. Untuk membangun jalan Bogor-Karangsembung, Daendels memang menagjukan anggaran pada pemerintah Belanda. Tetapi, untuk selanjutnya yakni pembangunan jalan ke wilayah Jawa Timur sekitar 850 km, dia minta kepada pejabat setempat untuk kerahkan pekerja rodi.

Untuk perbaikan jalan Bogor-Karangsembung pemerintah Belanda mengeluarkan anggaran 30.000 ringgit perak. Namun, anggaran itu terlalu besar dibandingkan gaji Dewan Presiden Belanda yang jumlahnya mencapai 25.000 ringgit per tahun.

Upah pun diberikan berdasarkan seberat apa medan yang dikerjakan. Dengan rincian, rute berat Cisarua-Cianjur maka pekerja dibayar 10 ringgit perak per bulan untuk satu orang. Sementara, rute Bandung-Parakanmuncang lebih landai sehingga bayarannya 1 ringgit perak per bulan untuk satu orang. Para pekerja, di samping upah, mendapat beras dan juga garam.

Daendels pun memerintahkan pembangunan jalan dari Ujung Barat (Anyer) sampai Ujung Timur (Panarukan) dengan jarak hingga mencapai 600 paal (1 pal = 1,5 km) atau hampir 1.000 kilometer. Jalan ini direncanakan mencapai lebar dua roed (1 roed = 3,767 m2) atau jika medannya memungkinkan maka lebarnya mencapai 7,5 meter.

Untuk tiap 400 roed (1 roed = 14,19 meter) harus dibuatkan satu tonggak (paal). Sementara dalam bukunya, Pramoedya menyebutkan di setiap jarak 150,960 meter tonggak harus didirikan sebagai tanda jarak sekaligus tanda kewajiban bagi distrik (kawedanaan) beserta penduduknya untuk memeliharan jalan tersebut.

Baca juga: Mengintip Sejarah Stand Up Comedy di Indonesia, Sudah Sejak 1950-an!

Daendels si tangan besi, di luar rute Bogor-Parakanmuncang, mewujudkan pembangunan dengan mewajibkan penguasa lokal untuk mengerahkan rakyat supaya bekerja rodi. Mereka diberi target untuk membuat jalan sekian kilometer dan apabila gagal termasuk para pekerjanya maka akan dibunuh. Kepala mereka digantung pada pucuk-pucuk pepohonan sepanjang kanan-kiri ruas jalan.

Disebutkan akibat pembangunan itu memakan jumlah korban hingga 12.000 orang, demikian berdasarkan sebuah dokumen dari Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffels pada 1811. Yang tercatat sekian, namun diyakini jumlah korbannya lebih dari itu. Lantaran tidak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

Yang paling sedikit memakan korban yakni ruas Megamendung (Puncak) dengan terhitung sekitar 500 pekerja tewas. Sementara, yang paling banyak memakan korban yakni terhitung 5.000 pekerja tewas adalah ruas Sumedang. Diperkirakan di Grobogan pekerja tewas berjumlah 3.000 sampai 5.000 jiwa.

Dalam waktu setahun, akhirnya jalan sepanjang 1.000 km yang menghubungkan antara Anyer dan Panarukan terealisasikan, yakni pada 1809. Pada zamannya ini menjadi prestasi luar biasa hingga melambungkan nama Daendels dan juga Jalan Raya Pos di mata dunia. Pasalnya, jalan ini diklaim setara dengan jalan penghubung Amsterdam-Paris.

Cepatnya pembangunan ini lantaran Daendels tak sepenuhnya membangun jalan yang baru. Karena beberapa ruas jalan memang sudah ada, misalnya seperti Anyer-Batavia dan Lasem-Gresik. Yang dilakukan Daendels cuma pengerasan dan pelebaran jalan.

Baca juga: Mengintip Keseharian Wanita Korea Utara dari Balik Lensa, Mengejutkan!

Setelah Jalan Raya Pos selesai dibangun, dari Batavia ke Semarang hanya memerlukan waktu perjalanan 3-4 hari saja. Jika sebelumnya memerlukan waktu 4 hari perjalanan darat dari Anyer menuju Batavia, kini hanya 1 hari seja. Sementara, yang biasanya sampai 40 hari dari Batavia ke Surabaya kini hanya 6 hari saja.

Tetapi mirisnya, jalan yang dibangun dengan pengorbanan keringat dan darah ribuan orang itu tak langsung memberikan manfaat kepada rakyat. Rupanya, hingga 40 tahun lamanya cuma kereta pos milik pemerintah kolonial Belanda serta kereta milik pribadi khusus orang Belanda, beserta segelintir saja elite pribumi yang diperbolehkan untuk melewati jalan itu.

Sementara, lantaran dikhawatirkan merusak jalan, gerobak atau cikar milik rakyat tak boleh melewati jalan tersebut. Mereka diharuskan tetap melewati jalan-jalan yang buruk kondisinya jika ingin bepergian, atau melewati jalan buruk yang dibangun dengan sekedarnya saja di sisi Jalan Raya Pos. Barulah pada 1853 perubahan terjadi, Jalan Raya Pos dibuka untuk semua kendaraan termasuk pedati milik rakyat pribumi.

Kini, Jalan Raya Pos masih menjadi jalur utama di sejumlah wilayah dan jalanannya terawat dengan baik. Masih terasa kuat pesan yang tertanam, yakni jangan sampai pembangunan mengorbankan rakyat kecil dan juga manfaat tidak hanya untuk segelintir pihak saja.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan