SHARE
Loading...

Dalam prosesi pernikahan mahar atau mas nikah itu biasanya diberikan oleh pihak mempelai pria kepada mempelai wanita. Hal ini sudah menjadi hal yang sangat umum bagi kebanyakan orang. Tapi siapa sangka, “ritual” ini membuat seorang pria mengerti isi hati mama mertuanya.

Simak cerita selengkapnya!

Aku cuma seorang anak lulusan SMP. Setelah lulus SMP, aku bekerja di sebuah bengkel kecil di kampungku dan seiring waktu, karena 1 dan lain hal bos bengkel itu memberikan kepercayaannya padaku, sehingga aku jadi manager di bengkel itu. Setelah aku bekerja, 2 tahun kemudian aku bertemu dengan pacarku.

mas

Pacarku ini lahir dan besar di kota. Semua anggota keluarganya ada di kota dan bagi mereka, pernikahan bukan hal yang gampang. Mamanya selalu melarang kami untuk berpacaran hanya karena aku dari desa. Tidak punya rumah, tidak punya mobil, dan di pandangan mereka, orang dari desa selalu dipandang rendah.

Tapi pacarku tidak peduli dengan hal itu dan melanjutkan hubungannya denganku. Pacarku kemudian melanjutkan kuliah. Setelah dia lulus, kami pun mulai membicarakan pernikahan. Aku kemudian berkunjung ke rumahnya dengan harapan mamanya akan mengizinkan pernikahan kami. Setelah mamanya tahu keadaan dan latar belakangku, beliau mengatakan,

“Yah ga ada mobil ga punya rumah gapapa, tapi mas kawin harus ada lah ya.” Awalnya aku merasa mama dari pacarku ini baik juga.

Tapi setelah kutanya berapa jumlah uang yang dia inginkan, aku kaget. Dia menginginkan uang 200.000 NTD (sekitar 80 juta rupiah)! Saat itu, karena bisnis di bengkel kurang baik dan gajiku tidak bertambah, aku tidak memiliki uang itu. Aku kemudian bertanya apakah boleh kalau jumlahnya dikurangi, tapi beliau tidak setuju. Aku pun hanya bisa mengiyakan.

Bagaimanapun juga, mereka sudah memperbolehkan aku dan pacarku menikah walaupun aku tidak punya rumah dan mobil. Sepulangnya ke rumah, aku kemudian membicarakan hal ini ke orangtuaku, meminta pendapat mereka. Awalnya orangtuaku agak ragu, tapi setelah beberapa pertimbangan, mereka pun setuju. Seminggu kemudian, aku dan orangtuaku datang berkunjung ke rumah pacarku untuk meminangnya. Tentu saja kami juga membawa uang yang keluarga mereka inginkan.

Saat kami mengobrol, calon mertuaku mengatakan kalau membesarkan anak di kota tidak mudah. Tentu saja mas kawin hanya sebuah tanda, tapi tetap harus ada. Setelah kami memberikan mas kawin itu, calon mertuaku kemudian mengeluarkan sebuah mesin penghitung uang. Melihat itu papaku marah besar dan mengatakan, “Pernikahan ini dibatalkan!” Mamaku juga marah, dan aku pun ikut kesal dengan kelakuan wanita itu.

Kami memang orang desa, tapi kami tidak mungkin berbohong. Lagipula, perlakuannya itu seperti sedang menjual anaknya ke kami.

mas

Aku tidak mengerti. Pernikahan seharusnya berdasarkan pada cinta. Apakah orangtua menikahkan anak-anak perempuannya hanya demi uang? Bukankah uang bisa dicari, tapi hubungan harus dibangun?

Wah jangan sampai cerita begini terjadi di lingkungan kita ya. Dalam islam mas kawin atau mahar hukumnya memang wajib namun tidak boleh sampai memberatkan keluarga si calon pemberi mahar.