SHARE

Kejadian tak menyenangkan dialami pria ini dan anak-anaknya.

Mereka sekeluarga sedang berwisata di Jakarta.

Keluarga asli Semarang ini menginap di sebuah hotel bintang 5 di Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Namun apa yang mereka dapatkan di hotel mewah itu tak disangka sebelumnya.

Niat awal yang ingin berwisata dengan keliling Jakarta naik Bajaj berakhir pahit.

Pengalaman ini dialami oleh keluarga pemilik akun Facebook Jericho Prasetyo.

Jericho Prasetyo mengunggah pengalamannya itu pada 29 Juni 2017.

Hingga saat ini postingan Jericho Prasetyo telah dibagikan 8.307 kali dengan lebih dari 5 ribu emoji marah di sana.

Bahkan postingan itu telah mendapat lebih dari 4 ribu like.

Begini cerita selengkapnya dari pengalaman Jericho Prasetyo:

“#DISKRIMINASI #BAJAJ

Sangat disayangkan hotel mewah bintang melarang Bajaj msk di lobby dpn hotel.

Kami sbg tamu merasa tersinggung & sgt tdk nyaman diperlakuan dg kasar, tanpa ada rasa hormat baik kpd kami sbg tamu maupun kpd Bapak Bajaj yg sdh lanjut usia.

Pihak hotel sgt tdk menghargai kami dg cara mengusir dg tdk sopan & sangat kasar.

Kejadian bermula dari keinginan anak kami untuk naik bajaj, krn di Semarang tdk ada bajaj.

Maka kami berinisiatif untuk mencari bajaj untuk anak kami pergi jalan2 keliling sekitar hotel naik bajaj.

Kami memesan Bajaj & langsung kami bayar lunas agar bapak Bajaj senang mengantar kami & anak-anak keliling sekitar hotel.

Ternyata bapak Bajaj tsb senang dg tips yg kami kasih, maka Bapak Bajaj mengantar kami keliling mangga2.

Stlh smp dpn hotel, bpk Bajak tdk berani masuk lobby, kami minta bapak bajaj msk & antar kami smp msk dpn lobby hotel.

Karena berencana mau ajak anak-anak berfoto didepan bajaj.

Tanpa basa-basi, tanpa permintaan maaf & penjelasan yg baik pegawai Hotel tanpa mempedulikan kami sbg tamu hotel.

Pegawai tersebut terus menyuruh Bajaj pergi dari lobby. Adapun didpn hotel tidak ada tanda larangan bg Bajaj untuk masuk Lobby Hotel.

Sangat ironis sekali bhw Pemprov DKI melestarikan Bajaj sbg aset daerah & mjd maskot / sbg ciri khas kota Jakarta.

Namun oleh Hotel sgt tidak dihormati keberadaannya.

Padahal dalam Bajaj ada tamu hotel, seharusnya pihak hotel mempertimbangkan kembali peraturannya, karena ini menyangkut budaya seni Jakarta.

Anak saya tidak akan minta naik bajaj jika bajaj itu ada di kota Semarang.

Namun karena Bajaj adalah seni atau ciri khas kota Jakarta maka kami naik Bajaj bukan karena mau pergi ke suatu tempat, tapi kami naik Bajaj karena ingin merasakan nikmatnya naik kendaraan khas kota Jakarta tersebut.

Kami dtg ke Jakarta krn tujuan wisata bukan bisnis, shg Jakarta sudah seharusnya memikirkan wisata, termasuk Bajaj sbg sebuah daya tarik wisata selain Ancol, Monas, dll.

Perlu dipertimbagan kembali oleh pihak Hotel melarang Bajaj masuk lobby, karena perijinan Hotel ada dibawah Dinas Pariwisata, sehingga pihak hotel harus tau mana yg berhubungan dg wisata, mana yang sekedar bisnis semata.

Ini kekecewaan kami yang kami angkat agar dpt mjd kritikan bagi Pihak Managemen Hotel dan jd masukan jg bg Pemprov DKI untuk memperlakukan Bajaj bukan sbg kendaraan umum biasa tapi sbg ciri khas kota Jakarta dg tujuan wisata.

Terima kasih Bapak Bajaj yg telah mengantar kami keliling Mangga Dua, diluar permintaan sy yg cukup mutar depan hotel saja.

Maaf telah merepotkan bapak ikut dlm keributan kecil, pdhl bapak barusan sholat di Masjid.

Pada umumnya netizen yang melihat video dan membaca postingan ini merasa kejadian seperti ini perlu untuk di-viralkan.

Selain itu mereka juga mengkritisi sikap manajeman hotel tersebut, sependapat dengan Jericho Prasetyo.

“Viralkan biar sampe bpk presiden…,” tulis Isomudin Hendry.

“Harus di tindak lanjuti itu… mengecewakan hotel itu berdiri di tanah jakarta dan bajaj itu ciri khas angkutan jkarta.. tolong di tindak lanjuti itu kan kendraan khas jakarta !!” tulis Fathir Ahmad. [tn]

Loading...