Kesal Terhadap Negaranya yang Korup dan Berdarah Dingin pada Palestina, Remaja Autis Bobol Akun Petinggi Intelijen AS

Posted on

Lahiya – Seorang remaja asal Inggris berusia 18 tahun berhasil membobol akun petinggi intelijen AS dari rumahnya. Remaja bernama Kane Gamble ini mendapatkan akses tersebut saat ia baru berusia 15-16 tahun pada Juni 2015 – Februari 2016.

Seperti diwartakan tempo.co, Kane Gamble berhasil mencuri sejumlah akses yang salah satunya adalah mantan pimpinan, CIA John Brennan, untuk mendapatkan akun pribadi dan rahasia pemerintah.

“Dia juga mendapatkan akses ke Wakil Direktur FBI Mark Giuliano dan jaringan intelijen,” ujar Jaksa Penuntut John Lloyd-Jones, dikutip dari tempo.co yang melansir The Independent, Senin (22/1/2018).

Kane Gamble kini memang tengah menjalani persidangan di Inggris akibat tindakkannya membobol akun petinggi intelijen AS itu.

Di dalam laporan The Independent itu Gamble disebut berpura-pura menjadi Brennan untuk menelepon perusahaan telekomunikasi dan mengelabui meja resepsionis sehingga ia disangka Mark Guiliano, mantan wakil direktur FBI.

Baca Juga: Geger! Kangkung Disebut Mengandung Psikotropika, Pakar Beri Penjelasan

Kane bahkan mendapat akses ke akun email dan iCloud Brennan. Ia juga mengambil alih kontrol iPad istri Brennan dan mendapatkan informasi sensitif mengenai operasi militer di Iran dan Afghanistan.

Jaksa Penuntut Llyod-Jones lantas mengungkapkan bahwa Kane melakukan aksinya karena merasa kesal terhadap pemerintahan AS yang dianggapnya korup dan berdarah dingin, terutama soal Afganistan dan Palestina.

“Ia menggunakan akun anonim di Twitter dan berbicara kepada sejumlah wartawan. Dia mengatakan bahwa ia merasa marah kepada pemerintahan AS. Jadi ia memutuskan melakukan hal itu,” ujar Llyod-Jones.

Sementara itu, seperti diberitakan Deutsche Wlle, pengadilan meminta keterangan dari ahli dan para ahli itu menyatakan bahwa Kane Gamble tidak memahami konsikuensi perbuatannya karena mengidap autisme.

“Dia punya pemahaman hitam-putih atas apa yang terjadi, seperti bermain video game, ada yang jahat dan baik. Dia berusaha membenarkan apa yang dia lihat merupakan ketidakadilan,” ujar psikiater forensik Dr. Steffan Davies.

Davies menyebut Gamble mengidap Autistic Spectrum Disorder (ASD) dan banyak menghabiskan waktu di rumah untuk mengakses komputer dan internet.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan