Kisah Gugurnya 7 Pemuda dalam Pertempuran 3 Desember di Gedung Sate Bandung

Posted on

Lahiya – Tak hanya dikenal masyarakat di Jawa Barat, Gedung Sate juga diingat oleh seluruh Indonesia sebagai icon Kota Bandung. Berdiri dengan ciri khasnya yang ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, gedung ini menjadi markah tanah Kota Bandung yang kerap dikunjungi para turis domestik yang berdatangan.

Dulu, pada masa Hindia Belanda, Gedung Sate ini disebut dengan istilah Gouvernements Bedrijven (GB). Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Johanna Catherina Coops yang merupakan puteri sulung Wali Kota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen. Johanna ketika itu mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada tanggal 27 Juli 1920, seperti dikutip dari laporan Sindonews.com, Jumat (22/12/2017).

Tak banyak yang tahu, Gedung Sate ini merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, seorang arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, serta pihak Gemeente van Bandoeng yang saat itu diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors. Pembangunannya sendiri melibatkan 2000 orang pekerja.

Para pekerja tersebut terdiri dari 150 orang pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton. Mereka dibantu oleh para tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok.

Baca juga: Peta Politik Akan Berubah Jika Aa Gym Maju di Pilkada Jabar 2018

Tujuh Karyawan Gugur

Bangunan ini pun rupanya menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa memilukan yang terjadi pada tanggal 3 Desember 1945. Faktanya, sejarah mencatat ada tujuh nyawa yang melayang karena berusaha mempertahankan Gedung Sate dari serbuan tentara Gurkha yang didukung oleh Belanda dan Inggris. Sehingga tanggal 3 Desember ini menjadi hari yang bermakna khusus bagi warga Departemen Pekerjaan Umum.

Pasalnya, pada tanggal tersebut ketujuh orang yang gugur dan berjuang demi mempertahankan markas Departemen PU di Kota Bandung yang dikenal sebagai “Gedung Sate” ini tak lain merupakan karyawan yang bekerja di sana.

Insiden pertempuran di Gedung Sate berawal setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Saat itu para pemuda pegawai Departemen Pekerjaan Umum tak mau ketinggalan dengan pemuda-pemuda lainnya di kota Bandung. Gedung Sate, telah berhasil diambil alih oleh gerakan pemuda PU dari tangan Jepang.

Pada saat itu, kewajiban mereka selanjutnya adalah mempertahankan dan memelihara apa yang telah diambil alih itu—jangan sampai direbut kembali oleh musuh. Untuk dapat menyusun pertahanan yang kompak, maka gerakan pemuda ini lalu membentuk suatu s***i pertahanan yang dipersenjatai antara lain berupa granat, beberapa pucuk bedil dan senjata api lainnya. Semua itu merupakan hasil rampasan dari tentara Jepang.

Sumpah Setia

Tanggal 4 Oktober 1945, Kota Bandung dimasuki tentara Sekutu yang diikuti oleh serdadu Belanda dan NICA. Sejak saat itu, suasana Bandung menjadi semakin tidak aman. Sejak itu pula gerakan pemuda pejuang harus berhadapan dengan tentara Jepang dan tentara Sekutu, Belanda serta NICA.

Dengan semakin gawatnya situasi pada waktu itu, para pegawai dari Kantor Pusat Departemen PU dibawah pimpinan Menteri Muda Perhubungan dan Pekerjaan Umum Ir. Pangeran Noor telah mengangkat Sumpah Setia Kepada Pernerintah Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober.

Lantas meletuslah suatu pertempuran yang hebat di bagian utara kota tepatnya pada tanggal 24 November 1945. Banyak penduduk sekitar yang kemudian mengungsi ke kota lain yang keadaannya masih aman. Kala itu Gedung Sate dipertahankan oleh Gerakan Pemuda PU yang diperkuat oleh satu Pasukan Badan Perjoangan. Mereka terdiri dari kurang lebih 40 orang dengan persenjataan yang agak lengkap.

Tanggal 29 November 1945, Pasukan Badan Perjoangan tersebut ditarik dari Markas Pertahanan Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum.

Dini hari, tanggal 3 Desember 1945, kantor Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum di Jl. Diponegoro 22 Bandung yang dikenal dengan Gedung Sate itu hanya dipertahankan oleh 21 orang.

Tiba-tiba datanglah sepasukan tentara Sekutu/Belanda dengan persenjataan yang berat dan modern menyerbu mereka. Meski pun mereka kalah jumlah, hal itu tak lantas membuat keduapuluhsatu petugas yang mempertahankan Gedung Sate ini menyerah begitu saja. Mati-matian, mereka mengadakan perlawanan dengan segala kekuatan yang dimiliki. Mereka tetap mempertahankan kantor tersebut.

Mereka dikepung rapat dan diserang dari segala penjuru. Pertempuran yang dahsyat itu memang tidak seimbang. Pertempuran ini baru berakhir pada pukul 14.00 WIB. Dalam pertempuran tersebut, diketahui dari 21 orang pemuda ada 7 diantaranya yang hilang.

Tiga Jenazah Tak Pernah Ditemukan

Sementara itu, seorang mengalami luka berat dan beberapa orang lainnya luka-luka ringan. Setelah dilakukan penelusuran, ternyata para pemuda yang hilang itu diketahui bernama, Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu dan Soerjono.

Semula memang belum diketahui dengan pasti terkait dimana jenazah dari ketujuh orang pemuda ini berada. Baru kemudian pada bulan Agustus 1952, beberapa bekas kawan seperjuangan mereka mulai melakukan pencarian di sekitar Gedung Sate. Tak disangka, hasilnya hanya ditemukan empat jenazah yang sudah berupa kerangka. Keempat kerangka para syuhada ini kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Keempat kerangka para syuhada ini kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Baca juga: Merinding! 7 Cerita Horor & Misteri yang Pernah Dialami Driver Ojek Online Ini Asli Serem Banget

Sebagai penghargaan atas jasa-jasa dari tiga orang lainnya yang hingga kini kerangkanya belum ditemukan, telah dibuatkan 2 tanda peringatan. Satu dipasang di dalam Gedung Sate dan lainnya berwujud sebuah Batu Alam yang besar (Sapta Taruna), ditandai dengan tulisan nama-nama ketujuh orang pahlawan tersebut yang ditempatkan di belakang halaman Gedung Sate.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan