Home Erikar Lebang Konsep Prefentif dan Kuratif dalam Dunia Kesehatan

Konsep Prefentif dan Kuratif dalam Dunia Kesehatan

SHARE

oleh: Erykar Lebang

Sekali Lagi Tentang Konsep Prefentif dan Kuratif

Pola Makan sehat yang belakangan ini sudah saya lakukan  mempunyai konsep yang sangat sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sesuai dengan quote di bawah ini : Tubuh sehat terawat, tidak mudah sakit. Sekalinya sakit pun cenderung mudah sembuh.

Ada yang bertanya tentang keterangan saya pada sebuah majalah seputar pola makan vegetarian dan fruitarian, yang basisnya nonhewani. “Memangnya ga papa ya kalau kita hanya mengkonsumsi sayuran dan buah saja? Gak kekurangan?” Begitulah isi pertanyaan tersebut. Pertanyaan dasar sekali, memang. Kebetulan juga di artikel yang sama, ada seorang ahli gizi kesehatan konvensional yang dijadikan narasumber mengatakan hal senada dengan pertanyaan tadi. Akan ada kecenderungan manusia kekurangan unsur penting bila tidak mengkonsumsi makanan seperti protein hewani dan makanan konvensional lain. Saya asumsikan makanan lain itu sebagai makanan olahan atau juga pabrikan yang telah ditambahkan unsur (kata iklannya) penting bagi tubuh. Benarkah demikian? Jelas tidak!

Kelemahan paling mencolok dari dunia kesehatan konvensional adalah ketidaktahuan pada hal yang ada di luar jalur mainstream mereka. Jalur mainstream dunia kesehatan terdapat di sisi kuratif, pengobatan. Bukan di sisi perawatan atau pencegahan. Sembuh disebabkan penanganan, oleh obat atau tindakan medis. Dunia kesehatan konvensional tidak mengenal konsep tubuh itu sembuh karena kemampuannya sendiri untuk menyembuhkan. Atau dari sisi lain, tubuh sehat terawat, tidak mudah sakit. Sekalinya sakit pun cenderung mudah sembuh. Paham ini asing di dunia kesehatan konvensional. Juga pertemuan keduanya sekalipun. Tindakan medis dipadu pola makan sehat alami yang jadi motor konsep kesehatan pencegahan dan perawatan pun asing di mata mereka.

Oleh sebab itulah, ilmu gizi konvensional tercabut dari akar perawatan serta kesehatan karena lebih mengikuti konsep kuratif yang dominan. Ilmu gizi konvensional, misalnya, menilai makanan sehat dari sisi hitungan kalori, mengikuti konsep kuratif yang sering berurusan ke arah sana. Banyak orang obesitas karena yang dimakan melebihi hitungan kalori sesuai kebutuhan. Makanan sehat = kalori rendah! Benar demikian? Ternyata tidak juga. Ilmu gizi konvensional jelas panik saat berhadapan dengan penderita yang memiliki tubuh langsing tetapi penyakitan. Logika kalori tidak masuk di sana. Akhirnya, seringkali penderita masalah kesehatan yang tidak memiliki masalah obesitas sisi makannya tidak ditangani, namun yang diandalkan ialah sisi pengobatan atau tindakan medis.

Fenomena ini juga menyadarkan bahwa makanan rendah kalori belum tentu benar-benar sehat. Belum tentu makanan rendah kalori sesuai dengan kebutuhan tubuh. Permasalahan ini ditangani dengan cermat, menghitung unsur penting asupan ke dalam tubuh. Misal: protein hewani rendah kalori, kaya asam amino, tapi miskin vitamin dan mineral penting, karena dipanaskan? Tenang, berpalinglah ke suplemen! Protein hewani minim serat dan cenderung dapat membuat sembelit? Tenang, konsumsi saja serat buatan! Ada kebutuhan dan suplai antara dunia kesehatan dengan dunia industri. Realitanya, apa fenomena ini membuat dunia kesehatan lebih baik? Tidak! Malah lebih buruk.

Dari dulu ke kini, banyak penyakit tetap menjadi momok. Secanggih apapun temuan kesehatan kuratif serta ilmu gizi penyerta, doktrin “diabetes itu tidak bisa sembuh tapi bisa dikontrol” tetap ada. Itu baru diabetes, belum penyakit berat lainnya same old song. Pola makan yang disebut di awal sebenarnya sudah diperkenalkan lebih dulu oleh Hipocrates, bapaknya dunia kesehatan modern. Beliau mengisyaratkan, jadikan makanan sebagai obat. Bukan berarti yang dimakan menjadi obat atau makan obat terus-menerus. Akan teapi, mengacu pada pola makan harian. Jika kita makan makanan yang sehat tidak akan mudah sakit. Kalaupun sakit, makanlah yang makin sehat agar kekuatan tubuh untuk menyembuhkan menjadi lebih prima. Saya pernah cerita fenomena perseteruan keilmuan antara Bechamp vs Pasteur. Yang satu perawatan kesehatan, yang satu pembunuhan bakteri (http://www.uniwiwied.com/bechamppasteur). Sayangnya, kecenderungan saat ini memihak ke Pasteur, jadilah konsep kuratif makin mendominasi. Perawatan kesehatan terbengkalai.

Kembali lagi ke konsep makanan sehat, logikanya bagaimana? Jangan melulu ke sisi apa yang didiktekan ke tubuh, tapi lihatlah, sesuai tidak ke tubuh? Rendah kalori jelas tidak sesuai kebutuhan tubuh. Tetapi, memaksakan unsur lain melalui makanan olahan dan pabrikan juga tidak sesuai sistem tubuh. Enzim misalnya, unsur penting yang jadi katalis mutlak aktivitas hidup, tidak bisa dihadirkan oleh makanan olahan dan pabrikan. Sumbernya?
Yang termudah bagi manusia? Buah dan sayuran segar! Ini kata kunci bagi para vegetarian serta fruitarian. Manusia sejatinya cenderung ke vegan, pemakan tumbuhan-buah. Penelitian terkini gestroenterologis, ilmu cerna, menunjukkan hal tersebut.

Buah cenderung manis dan dapat berkalori tinggi. Tetapi unsur penting yang dimilikinya membuat tubuh menjadi sehat. Saat tubuh sehat, kelebihan kalori pun dibuang. Kemampuan membuang (atau menyimpan) ini yang hilang dari tubuh yang tidak sehat, akibat pola makan salah. Makanya diabetes susah sembuh, misalnya. Sementara pelaku vegetarian-fruitarian benar, yang masih makan buah manis mayoritas malah sembuh dari masalah penyakit, termasuk diabetes. Sehat itu harus berlaku holistik, menyeluruh! Bukan hanya mendikte tubuh. Cari tahu sebenarnya kebutuhan tubuh itu apa? Penuhi! Maka, dengan izin Tuhan, sehatlah kita. Makanlah beragam buah dan sayur maka kebutuhan kita terpenuhi secara benar. Tanpa harus mengkonsumsi sesuatu yang tinggi unsur ‘a’, tapi memberi masalah baru.

SHARE