Logika Fikih Agunan Pembiayaan | @ahmadifham

TANYA: Bagaimana jaminan untuk KPR Syariah? Bagaimana hukumnya obyek yang dibiayai dijadikan jaminannya? | Ada yang berpendapat “Kalo kita menelusuri hukum syariah khususnya madzhab Syafii, tidak boleh dalam jual beli kredit, yang dijadikan jaminan adalah barang yang diperjualbelikan. Kalo harus ada jaminan, maka penjaminannya adalah barang diluar yang diperjual belikan. Contoh, beli rumah, yang dijaminkan tanah sawah, atau beli motor yang dijaminkan mobilnya dan sebagainya.”

Shalih(in+at) yang disayang Allah..

Yang jelas tidak ada nash Alquran maupun Hadits yang tegas mengharamkan dan/atau melarang. | Selanjutnya akan terbahas di sisi Ijma’, Qiyas, Ijtihad, Fatwa dan lain-lain.

Teringat ketika Rasulullah SAW melarang tukar menukar emas tidak setara dan tidak tunai, semua madzhab (jumhur ulama 4 madzhab juga melarang). Ternyata Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim al Jawziyah mulai berpikir longgar (bukan liberal) dengan tidak sependapat dengan jumhur ulama dan teks Hadis Rasulullah SAW tersebut, khusus untuk tukar menukar emas yang berfungsi sebagai uang dengan Emas perhiasan. Dan selanjutnya DSN MUI semakin berpikir longgar (bukan liberal ya) dengan membuat Fatwa bahwa tukar menukar (jual beli) emas secara tidak tunai itu boleh jika dan hanya jika alat tukar belum emas dan perak atau ketika alat tukar uang kertas namun belum dibackup Emas.

Itu tadi alasan pembolehan atas kriteria yang terlarang di masa lalu terkait Muamalah. | Dan case agunan ini malah tidak dilarang tegas namun seakan-akan menjadi terlarang yang mungkin saja karena terkriteria syubhat (gak jelas halal dan gak jelas haram). Sehingga sebagian ulama ada yang membolehkan, ada yang melarang.

Apakah syubhat HARUS ditinggalkan? | Jika sependapat dengan hal ini ya silahkan jangan diikuti.

Apa pembenaran yang benar?

(1) wa ahallallaahul bay’a waharramarribaa | transaksi profit diperoleh dengan jual beli.. transaksi harus ikut syara’ yakni tidak melanggar yang dilarang Syariah khususnya sisi Muamalah.

(2) al ashlu fi al mu’aamalati al ibaahah hattaa yadullu ad daliilu ‘alaa tahriimihaa | hukum asal dari muamalah (non ibadah) itu mubah (boleh) sampai ada dalil ke-HARAMAN-nya. Belum tertemu nash Alquran dan Alhadits tentang larangan agunan.

(3) ada kemaslahatan, kemudahan dan menghindarkan kesulitan.. | kalau merasa lebih mudah mendatangkan agunan baru (misalnya pinjam mertua, pinjam saudara, pinjam orang tua, dan lain lain) ya silahkan saja. Hukumnya jelas boleh. Dan secara teknis pun Bank Syariah membolehkan, segaris Nasab ke atas dan ke samping.

loading...

(4) Barang sudah dah menjadi milik Nasabah sehingga Nasabah punya kuasa untuk menjual kembali, atau mengagunkan, atau menyewakan, dan lain-lain. Boleh mengagunkan ke penjual asalkan tidak nabrak larangan nahaa Rasuulillaahi SAW ‘an bay’atayni fii bay’ah dan atau larangan jual beli ta’alluq, bay’ al ‘inah, dan lainnya. Pengagunan barang agunan itu bukan jual beli. Dan tidak menabrak larangan Jual Beli bersyarat atau dengan logika: jika…. maka…., karena semuanya sudah clear dan jelas.

(5) Berikutnya mari cermati ketika Alquran bilang: yaa ayyuhaa al ladziina aamanuu awfuu bil ‘uquud, Duhai segenap (orang orang yang) beriman, penuhilah akad-akad. | Jika mental pemenuhan atas akad (disiplin bayar) ini sudah membudaya dan seakan sudah ada kepastian bayar tepat waktu, maka jelas Agunan gak penting lagi, karena gak ada moral hazard. Perhatikan Nasabah pemberi pembiayaan ke Bank Syariah (Tabungan, Giro, Deposito) serasa gak penting minta agunan karena moral hazard terhindar, Nasabah bisa mencairkan uangnya sewaktu waktu dan bahkan dijamin oleh Lembaga Pinjamin Simpanan. Sehingga ada kemaslahatan dalam pembolehan agunan. Agar disiplin, tidak ingkar akar.

(6) Agunan di pembiayaan syariah juga hanya fiducia (pake Sertipikat Tanah, BPKB dan lainnya) .. tidak mengganggu aktivitas Nasabah, Nasabah bebas saja menempati rumah itu, menyewakan atau menjual, membiarkan begitu saja juga silahkan. Hak Nasabah.

(7) Dan kalaupun ada penyitaan, ya sesuai perjanjian dan pasri tidak asal menyita dan melelang. Jika ada Bank Syariah menyita rumah tapi BUKAN KARENA NASABAH ZHALIM, ini gak boleh. Bank Syariah pasti melakukan eksekusi jika Nasabah zhalim dengan terbukti secata yuridis. | Sita dan lelang juga ada settlement dan ada prosedur hukum yang jelas, adil, fair. Jika harga rumah melebihi sisa hutang ya Nasabah dapet kembalian. Jika harga rumah kurang dari sisa hutang ya Nasabah harus nambah bayar.

Saya kira masih adil dan juga fair.

(8) Dengan ada aturan agunan pun Non Performing Financing alias Pembiayaan Bermasalah makin meningkat saat ini. | Semoga semua pihak sama sama tidak lalai dengan yang ditandatangani hitam di atas putih.

Dan terkait sisi praktik, perhatikan juga risiko nya. | Silahkan diyakini aja dan pilih aja langkah itu lengkap dengan segala risikonya.

Demikian terkait agunan prmbiayaan. Tidak ada nash Alquran dan Hadits yang spesifik melarang. Sebagian ulama membolehkan. Sebagian ulama melarang. Pilih yang mana silahkan. Asal jangan pilih Bank Murni Riba.

waLlaahu a’lamu.bishshowaab

1