Main Bitcoin Takut Harga Jatuh, Coba Investasi Alat Tukar dari Kulit Kerang

Posted on

Lahiya – Dalam empat minggu terakhir ini nilai tukar Bitcoin tercatat turun 18 persen pada Selasa (16/1) ke angka terendah hingga mendekati US$11 ribu, dilansir dari Reuters.

Karena nilai tukar Bitcoin yang terjun bebas ini timbul aksi penjualan besar-besaran di pasar uang digital atau cryptocurrency yang lebih luas. Tidak sedikit pula masyarakat yang memutar otak lantaran nilai investasi Bitcoin juga ikut tergelincir.

Jika Anda tengah memikirkan investasi Bitcoin Anda yang kini tengah menurun drastis, ada alternatif lainnya untuk investasi yakni melalui kulit kerang. Sekilas terdengar sulit dipercaya, namun kulit kerang memang dijadikan alat tukar layaknya mata uang di daerah Kepulauan Solomon.

Digunakan sebagai mata uang dan juga dipakai dalam upacara tradisional, uang dari kerang ini adalah buatan tangan dan sudah dipergunakan oleh generasi ke generasi. Terutama bagi penduduk di Pulau Malaita, Kepulauan Solomon, uang kerang ini masih menjadi bagian dari budaya mereka.

Baca juga: Tanggapan Ahok Soal Kabar ‘Good Friend’-nya Veronica Tan

Uang kerang ini pun digunakan sebagai hadiah untuk pengantin, acara pemakaman, serta untuk barter (bertukar) barang penting dari suku lain seperti babi, kano dan ubi jalar.

Perempuan dan anak-anak yang menyelesaikan proses pembuatan uang kerang, dibantu oleh para pria. Diawali dengan mengumpulkan kerang, membentuknya, kemudian mewarnai dan memoles, seluruh proses produksi bisa memakan waktu hingga tiga minggu untuk menyelesaikannya.

Pertama-tama, empat spesies kerang dikumpulkan oleh para penyelam, biasanya anak laki-laki atau pria muda, kemudian baru diproses menjadi uang kerang. Setelah kerang terkumpul, para wanita mengeringkan kerang dan memecahnya menjadi beberapa bagian. Lalu, membentuknya perlahan dengan memasukkan ke dalam cakram bundar berdiameter sekitar satu sentimeter.

Kemudian di bagian tengah potongan kerang itu dilubangi dengan cara dibor untuk menjadikannya manik-manik yang bisa diikat. Kerang pun siap dipoles dan diwarnai.

Para pria dan anak laki-laki memoles manik-manik ini dengan menggunakan batu gerinda. Inilah bagian pekerjaan fisik paling sulit dalam proses pembuatannya, untuk menghasilkan manik-manik yang halus dengan diameter lima milimeter.

Baca juga: Maling Ini Gagal Lancarkan Aksinya Karena Pemilik Lakukan Hal Tak Terduga

Selama proses manik-manik diwarnai dengan memanaskannya di atas batu bersuhu panas. Saat kulit kerang ke’e dipanaskan, warnanya berubah dari ungu ke oranye, dengan warna cangkang yang menentukan nilai dan harganya.

Jika dipanaskan terlalu lama maka kerang akan berubah warna menjadi putih dan dianggap tidak bernilai. Setelah manik-manik jadi, kemudian diikatkan pada senar sepanjang tujuh kaki untuk digunakan sebagai uang kerang.

Bagaimana, apa Anda tertarik?

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan